Tak Lekang Oleh Waktu, Asal Usul Bubur Masjid Pekojan

Acap kali setelah salat Asar ditunaikan, kita akan menemukan seorang pria berpeci tengah menata ratusan gelas kosong di beranda Masjid Jami’ Pekojan. Sejalan dengan itu, susu cokelat perlahan dituangkan ke dalamnya, kemudian disajikan bersama dua buah kurma, segelas air putih, dan semangkuk bubur sayur. Perpaduan aneka warna dari gelas plastik tampak mencolok.

Pria itu merupakan penduduk lokal di Kelurahan Purwodinatan, Semarang. Dia mengakui, memang ada menu takjil khusus yang hanya bisa didapatkan di Masjid Jami’ Pekojan, Jalan Petolongan. Sebagian masyarakat kerap menyebut takjil khas tersebut sebagai bubur india, tetapi ada juga yang menggunakan istilah bubur koja.

Bubur koja diadopsi dari asal muasal nenek moyang wilayah setempat. Bubur koja atau lebih populer disebut bubur india dapat dianggap sebagai sajian takjil legendaris. Pasalnya, menu ini sudah disuguhkan selama 127 tahun kepada para jamaah. Lebih dari satu abad yang lalu, bubur india telah menemani sejarah panjang perjalanan Masjid Jami’ Pekojan di Semarang.

 

Tradisi Keturunan Khalifah Natar Sab

Jika kita menelisik masa lalu sejenak, mencari tahu kisah menarik di balik keunikan tersebut, akan ditemukan tradisi penuh arti dalam tatanan masyarakat setempat. Konon katanya, buka puasa dengan menyantap hidangan bubur diawali oleh warga keturunan Koja. Tradisi ini berlangsung di atas tanah wakaf pemberian Khalifah natar Sab, yang kini dikenal sebagai Masjid Jami’ Pekojan.

Biasanya, mereka, para keturunan Koja, akan menanti azan Magrib setelah lelah berdagang dan sebelum kembali ke rumah masing-masing. Sehabis mendirikan salat Magrib, mereka akan buka puasa berjamaah dengan memanfaatkan bekal yang dibawa bepergian, yaitu bubur.

Kenyataannya, memang banyak penduduk berdarah India tinggal di Semarang, khususnya Kampung Pekojan dan sekitarnya. Itulah yang kemudian mengawali kebiasaan berbuka menggunakan bubur India di Masjid Jami’ Pekojan. Oleh penduduk yang hidup ratusan tahun setelahnya, kebiasaan tersebut senantiasa dilestarikan.

Hingga kini, bertransformasi menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan beragama di Kampung Pekojan. Tak heran, mengetahui cerita di balik sejarah panjang ini, keberadaan bubur india kerap mengundang perhatian para pelaku wisata religi. Tidak sedikit media traveling yang memutuskan untuk menyambangi lokasi langsung demi mendapatkan kepingan informasi dari pengurus masjid.

 

baca juga:

Tahukah Anda, Bagaimana Asal Usul Nama Indonesia? Begini Ceritanya..

 

Penyajian Bubur India Masjid Pekojan

Sebenarnya, bentuk bubur india tidak terlalu berbeda dengan sajian serupa lainnya jika ditinjau sekali pandang. Kita akan menemukan sajian nasi yang sedikit cair, diikuti oleh berbagai jenis sayuran. Namun, saat kita mencoba mengulik lebih jauh, ternyata bubur india menyimpan keunikan tersendiri sehingga meninggalkan kesan mendalam di hati para penikmatnya.

Bubur india sama-sama memanfaatkan beras sebagai material utama. Di samping itu, ada pula campuran berupa kol, seledri, wortel, dan daun bawang. Agar cita rasanya semakin mantap, ditambahkan rempah seperti jahe, penyedap rasa, kayu manis, bawang putih, bawang merah, lengkuas, daun pandan, serai, dan daun salam. Disempurnakan dengan adanya kuah santan.

 

Proses Pembuatan Bubur Masjid Pekojan

Dalam prosesnya, sebanyak 20 butir kelapa dan 14 sampai 20 kg beras dialokasikan untuk menyiapkan bubur india. Dari tahap persiapan, pengerjaan, hingga sesaat sebelum siap disajikan, paling tidak butuh waktu sekitar 3,5 jam.

Agar penyajiannya tidak terlambat, karena itu panitia yang bertugas mulai memasak sejak salat Zuhur selesai dilaksanakan. Sebelum itu, bahan baku telah disiapkan sedari pagi. Melalui proses panjang diikuti sejarah penuh makna, tak heran cita rasa yang dihasilkan benar-benar gurih. Aroma olahan rempah cukup tajam hingga merasuk ke dalam indra penciuman.

Umumnya, orang mendefinisikan rasa bubur india seperti gulai. Sebagai pelengkap, sewaktu disajikan kerap ditemani oleh kurma pencuci mulut dan segelas susu cokelat hangat. Memiliki tekstur amat lembut, menu satu ini sangat pas untuk melepaskan rasa lapar setiap orang yang berpuasa.

 

Menariknya, walau zaman sudah modern dan sekian ratus tahun terlewati, bubur india tetap dimasak menggunakan kayu bakar. Adapun dana yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan takjil, diambil dari sedekah para donatur. Metode penyalurannya bisa melalui perantara Yayasan Wakaf Masjid Jami’ Pekojan.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.