Ni Nyoman Tanjung, Ratu Seni dari Gunung Agung Bali

Ni Tanjung adalah seorang wanita Bali yang lahir dari keluarga sederhana. Ia lahir sekitar tahun 1930 di wilayah timur pulau Bali, Indonesia.

Dia tidak pernah belajar membaca atau menulis, tetapi belajar sendiri ekspresi artistik dan gerak tubuh yang selanjutnya dipraktikkan di kemudian hari.

Perempuan lanjut usia itu mengalami banyak peristiwa traumatis, termasuk drama pribadi, yang menandai periode 1942 dan seterusnya di Indonesia.

Tempat tinggal.

Selama puluhan tahun, Ni Tanjung tinggal bersama suaminya yang seorang petani sederhana, bersama keempat anaknya di sebuah gubuk kayu sederhana.

Dia membangun gudang batu di luar untuk Dewa dan leluhurnya yang, menurut kepercayaan Bali, mengunjungi yang hidup selama ritual sakral tertentu.

Mereka tinggal di sisi jalan kecil di Budakeling, di Karangasem, Bali, di lereng Gunung Agung, gunung berapi utama di pulau itu.

 

Bakat seni Ni Tanjung.

Pada tahun 2003, Georges Breguet, seorang ahli biologi, kolektor, dan penulis Swiss yang sangat berpengetahuan tentang tekstil, seni material, dan akrab dengan Bali, menemukan apa yang telah dibangun oleh Ni Tanjung.

Dia mengakui bakatnya sebagai seniman non-tradisional memang luar biasa. Breguet mulai mengoleksi karya-karyanya yang lebih mobile dan memperkenalkan karya Ni Tanjung ke dunia luar sebagai contoh art brut.

Menurut pakar seni Perancis yang berbasis di Bali, Jean Couteau, bentuk seni mentah Ni Tanjung tampak menjauhkan diri dari masyarakat arus utama sebagai akibat dari kendala mental atau sosial, kabarnya ini sangat langka bagi orang Indonesia.

 

Karya-karya seni yang rumit dan unik.

Ni Tanjung sangat aktif dalam membuat persembahan yang rumit kepada para Dewa, sebagaimana biasanya dilakukan oleh banyak wanita Bali. Ia juga menari rejang, menyanyi, dan melantunkan aria tradisional Bali, sambil menciptakan karya-karyanya.

Selain itu, Ni Tanjung adalah penenun tekstil yang produktif. Dia lebih suka melihat orang dengan bantuan cermin kecil untuk menghindari tatapan langsung mereka dan sekaligus mendeteksi niat jahat.

Dia juga membuat hiasan kepala dekoratif untuk memahkotai rambutnya yang sulit diatur. Wanita tua kurus itu memiliki jari-jari yang sangat panjang, sehingga mampu membantunya menangani dan membentuk karyanya dari segala jenis bahan.

 

baca juga:

Selain Wisata, 7 Hal Unik Bali yang Bisa Dilakukan

 

Terganggu kesehatan mentalnya.

Sayangnya, satu dari empat anak yang ia miliki bersama mendiang suaminya, Ni Nyoman Kembang meninggal dunia. Mentalnya menjadi sedikit terganggu, namun tetap dengan hingar-bingar melanjutkan pekerjaannya pada karya seni mentah itu.

Kondisi semakin tidak stabil ketika dua anaknya lagi bersama suaminya kemudian meninggal juga. Dia kemudian mulai menghabiskan sebagian besar hari-harinya mengkurasi lebih banyak dengan kertas, dan bahkan terkadang menggunakan logam.

Setelahnya, Ni Tanjung memutuskan pindah ke Dusun Saren Kauh, di Budakeling, Karangasem untuk tinggal bersama putrinya yang masih tersisa. Ni Tanjung memberikan kontribusi sederhana untuk rumah tangga dengan sedikit uang yang diperolehnya dari menjual kreasi kertasnya.

Seniman Jawa Kartika Affandi, putri pelukis terkenal Indonesia Affandi, membeli salah satu instalasi batu Ni Tanjung. Ini akan dirakit kembali di Kartika’s Museum of Women’s Art di Yogyakarta, Jawa Tengah. Hasil penjualannya berkontribusi pada kekayaan kecil Ni Tanjung, selain menambah ketenaran “seniman” Bali di seluruh Indonesia.

 

Masa tua Ni Tanjung.

Ni Tanjung lalu sementara dipindahkan ke tempat yang aman di dekat Ubud karena Gunung Agung sempat meletus dengan hebat dalam waktu singkat. Segera, dia kembali ke dusun Saren Kauh di pantai timur Bali.

Saat ini, dia telah berusia lebih dari 90 tahun, namun tetap melanjutkan pembuatan benda kertas, boneka, dan bahkan lukisan di atas batu yang tampak seperti kesurupan.

Dia masih bernyanyi sambil menggambarkan dunia teater imajiner Dewa dan leluhurnya di altar. Sementara, kenyataannya banyak wajah yang menyerupai potret diri Ni Tanjung.

Warna-warna cemerlang dan citranya mencerminkan vegetasi mewah Bali dan warisan budaya yang kaya dari nenek moyangnya.

Biasanya dalam kesunyian kamar tanpa jendela di malam hari, diterangi oleh satu bola lampu. Ni Tanjung menggambar ribuan wajah imajiner berwarna-warni di atas kertas yang diberikan kepadanya oleh pengunjung.

Termasuk pula yang berasal dari sesama seniman Bali Made Budhiana, dan orang lain yang telah memberinya hadiah berupa cat akrilik, pensil warna, dan krayon kapur.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.