Mengulik Kisah Pilu Patung Pancoran Jakarta

Patung PancoranTak kurang dari 30 monumen dan patung bersejarah tersebar di wilayah Jakarta. Salah satu patung yang cukup populer bagi warga Ibukota adalah Monumen Patung Dirgantara atau lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran yang berada di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.

Lokasi monumen ini tepat di depan kompleks perkantoran Wisma Aldiron Dirgantara yang dulunya merupakan Markas Besar TNI Angkatan Udara. Bisa dikatakan bila posisi patung ini cukup strategis sebab berada di pintu gerbang menuju Jakarta terutama bagi para pendatang yang baru saja mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma. Melihat ekpresi tegar Gatotkaca yang terpancar pada patung, siapapun tak mengira bila pembuatan patung ini menyimpan kisah pilu tersendiri. Ingin tahu lebih jauh tentang kisah Patung Pancoran ini? Simak ulasannya berikut ini!

Konsep Manusia Dirgantara

Ide tentang pembuatan Patung Pancoran pertama kali dicetuskan oleh Presiden Soekarno yang menginginkan sebuah patung tentang dunia penerbangan Indonesia atau kedirgantaraan. Patung ini berwujud manusia angkasa yang menggambarkan semangat keberanian Bangsa Indonesia untuk menjelajah antariksa. Adalah Edhi Sunarto yang kemudian merancang Patung Pancoran sekitar tahun 1964-1965 dengan support dari Keluarga Arca Yogyakarta. Proses pengecoran patung ini dilakukan oleh Pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta yang dipimpin oleh I Gardono, sedangkan proses pembangunannya dilakukan oleh PN Hutama Karya dengan arsitek pelaksananya adalah Ir. Sutami.

Tersendat G-30S PKI

Terjadinya peristiwa Gerakan 30 September PKI pada tahun 1965 sempat mengganggu proses pengerjaan monumen patung ini hingga terancam mangkrak. Bung Karno menghadapi hantaman dari dalam negeri dengan demo-demo yang nyaris tiap hari ada.

Puncaknya terjadi kala MPRS menolak pertanggungjawaban dari Bung Karno, akibat adanya pemberontakan PKI tadi. Bung Karno pun akhirnya dilengserkan dan diganti oleh Soeharto. Meski nasibnya sendiri berada di ujung tanduk, Bung Karno tak serta merta meninggalkan proyek yang digagasnya yang merupakan simbol semangat bangsa ini.

Beliau tetap komit untuk menyelesaikan. Patung Pancoran pun akhirnya dapat diselesaikan pada akhir 1966. Monumen patung Dirgantara yang terbuat dari perunggu ini memiliki berat mencapai 11 ton dan tinggi 11 meter. Sedangkan tinggi kaki patung jika diukur dari permukaan tanah mencapai 27 meter. Makna yang tersirat dari pembuatan patung ini adalah bahwa untuk mencapai kejayaan maka Bangsa Indonesia harus mengutamakan sifat-sifat jujur, berani dan juga bersemangat.

Kisah Pilu Dibalik Patung Pancoran

Cerita dibalik pembangunan Patung Pancoran ini ternyata cukup menyedihkan, jika dikaitkan dengan dana. Sesuai perhitungan 1964, Patung Pancoran menelan biaya sebesar 12 juta dimana sang arsitek Edhi Sunartolah yang menanggung budget pengeluaran di awal pembuatan monumen. Bung Karno sebagai pencetus ide pun turut andil menyumbang dana dengan menjual mobil pribadinya seharga 1 juta-an kala itu, sedangkan pemerintah sendiri hanya menyokong 5 juta rupiah saja.  Sisa kekurangan dana sebesar 6 juta jadi hutang pemerintah yang menurut beberapa sumber belum terbayar hingga saat ini.

Menurut Edhi, kala itu dirinya sudah tak sanggup menyelesaikan proyek yang tanpa dilandasi semacam dokumen resmi kenegaraan melainkan hanya bermodal kepercayaan saja ini karena sudah terlilit hutang akibat pengerjaan patung ini. Namun melihat kegigihan Bung Karno hingga sampai mengeluarkan dana pribadi membuat Edhi bersemangat untuk menyelesaikan pengerjaan Patung Pancoran.  

Saat proses pemasangan Monumen Patung Dirgantara, Bung Karno sering terlihat di lokasi menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Hal ini tentu saja menjadi tugas berat aparat negara yang harus menjaga keamanan beliau. Pemasangan patung ini menggunakan alat pemasangan yang sederhana saja yaitu derek tarikan tangan. Caranya, patung dibagi dalam 11 potongan yang sama dengan berat masing-masing potongan sebesar 1 ton.

Monumen terakhir buatan Bung Karno

Monumen Patung Dirgantara atau Patung Pancoran merupakan monumen terakhir yang dibuat oleh Bung Karno. Setelah patung ini selesai dibuat, sang penggagas banyak menghabiskan waktunya sebagai tahanan rumah dengan alasan yang tak begitu jelas hingga akhirnya beliau wafat. Kisah wafatnya Bung Karno ini pun menjadi kisah yang tak dapat dilupakan Edhi selaku arsitek kesangan Bung Karno.

Kala itu, Minggu pagi yang cerah pada 21 Maret 1970, Edhi sedang berada di puncak Monumen Patung Dirgantara ketika tiba-tiba dilihatnya iring-iringan mobil jenazah. Atas informasi pekerja yang ada di bawah, Edhi tahu bahwa mobil jenazah itu mengangkut jasad orang yang sangat dikaguminya yaitu Bung Karno sang pengagas Tugu Dirgantara. Dengan tubuh sedikit lunglai, Edhi pun langsung turun dari puncak monumen dan menyusul ke Blitar untuk melakukan penghormatan terakhir.

Dibalik kisah sedih pembuatannya, Monumen Patung Dirgantara atau Patung Pancoran kini dapat kita lihat berdiri kokoh dan tegar menggelorakan semangat. Semangat yang tak pernah padam para pemuda melanjutkan perjuangan bangsa seperti yang diharapkan oleh sang penggagas utama, Bung Karno.   Jayalah Indonesia…!

Patung Pancoran Menunjukkan Arah Harta Karun Bung Karno?

Patung Pancoran sangat mudah dijumpai ketika masyarakat berada di bilangan Pancoran, Jakarta Selatan. Meskipun hanya sebuah patung, namun kisah dibalik pembuatan patung ini menyimpan sejuta misteri. Termasuk mengapa arah telunjuk sang patung menunjuk ke arah utara?

Berbagai kalangan baik pihak cendekiawan hingga orang awam, punya persepsi sendiri-sendiri. Ada yang bilang jika telunjuk sang patung sebenarnya sedang menunjuk ke arah tempat penyimpanan harta karun Bung Karno untuk Indonesia. Sementara, yang lain mengatakan jika tangan kanannya menunjuk ke utara mungkin hanya kebetulan untuk menambah tingkat artistik.

Patung yang berada tepat di hadapan Wisma Aldiron Dirgantara ini memang dahulu merupakan Markas Besar TNI Angkatan Udara yang menjadi sistem pertahanan Republik Indonesia dari jalur dirgantara.

Lokasinya pun cukup dekat dengan Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Usut punya usut, dilansir dari situs Jakarta.go.id, sebuah situs resmi milik pemerintah Republik Indonesia, tangan kanan patung pancoran yang menunjuk ke arah utara bukanlah suatu kebetulan. Pada saat itu, Bung Karno ingin menegaskan bahwa Indonesia memiliki semangat kedirgantaraan lewat pembangunan Bandar Udara Internasional Kemayoran.

Bandara ini jelas merupakan suatu kebanggaan bagi Bung Karno pribadi dan masyarakat Indonesia secara luas karena menjadi Bandar udara yang melayani rute penerbangan domestik dan mancanegara. Pada masa itu, bisa jadi Bung Karno ingin menunjukkan pada dunia bahwa bangsa Indonesia bisa maju dan memiliki sebuah Bandar Udara Internasional Kemayoran. Namun, saat ini Bandar Udara Internasional Kemayoran sudah tidak ada dan digantikan oleh Bandara International Soekarno Hatta.

 

Patung pancoran belum rampung dan tidak akan pernah dirampungkan

Fakta unik yang mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia secara luas ternyata patung pancoran adalah salah satu patung yang belum tuntas pembangunannya. Secara sepintas, patung ini tampak berdiri kokoh dengan ciri khas sang pemahat, Edi Sunarso. Namun, jika dilihat lebih detail, lapisan patung terlihat lebih kasar dan banyak tambalan las di sana-sini. Dikonfirmasi oleh pihak pemerintah, hal ini memang benar, namun pemerintah tidak ada rencana untuk merampungkan patung yang bersejarah tersebut.  Biarkan saja, patung pancoran seperti apa adanya.

Terlepas dari kisah unik patung pancoran. Para pengunjung bisa mengambil nilai positif tujuan pembangunan patung. Yaitu untuk mengabadikan semangat rakyat Indonesia yang berani dan selalu jujur. (jari adventure-det)           

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.