Tiwah, Upacara Mengantar Arwah Khas Masyarakat Dayak

Dayak, juga dieja Dyak, Dajak Belanda, masyarakat adat non-Muslim di Pulau Kalimantan,. Sebagian besar secara tradisional tinggal di sepanjang tepi sungai.

Bahasa mereka semua termasuk dalam cabang bahasa Indonesia dari rumpun bahasa Austronesia (Melayu-Polinesia).

Dayak merupakan sebutan universal yang tidak mempunyai simbolis ras tertentu atau kesukuan paling tepat.

Khususnya di Indonesia, diterapkan pada salah satu masyarakat adat (non-Muslim) di pedalaman pulau (berlawanan dengan sebagian besar penduduk Melayu di wilayah pesisir).

Di Borneo Malaysia (Sarawak dan Sabah), kata ini digunakan agak kurang luas dan sering dipahami secara lokal.

Merujuk secara khusus kepada masyarakat Iban (sebelumnya disebut Dayak Laut) dan Bidayuh (sebelumnya disebut Dayak Darat). Menjelang transformasi abad ke-21, populasi rakyat Dayak di Kalimantan dikabarkan mencapai  2,2 juta.

Terlepas dari keumuman sebutan masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan, tahukah Anda bahwa mereka memiliki upacara kematian bernama Tiwah?

Mengenal Apa Itu Tiwah?

phinemo

Kematian, kepercayaan orang Dayak, dianggap sebagai perpindahan dari dunia kehidupan ke akhirat. Pada dasarnya, ritual kematian ada untuk menghormati arwah sekaligus sebagai sarana membawa arwah orang yang sudah meninggal menuju akhirat.

Oleh karena itu, bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah khususnya Ngaju, ritual kematian yang disebut Tiwah dianggap sangat penting.

Orang Ngaju percaya bahwa arwah Liaw dari orang yang meninggal itu terus berlama-lama di lingkungan keluarga.

Jiwa bebas untuk melakukan perjalanan ke akhirat hanya jika ritual yang disebut tiwah diselenggarakan. Jiwa ini kemudian dikenal pula dengan sebutan lewu tata atau lewu liaw.

Ritual kematian terdiri dari dua bagian. Pertama, upacara yang dilaksanakan segera setelah seseorang meninggal. Kedua, tiwah, yaitu mengantar ruh ke alam lain dan mengakhiri ritual kematian. Umumnya, upacara ini diadakan setahun setelah kematian orang tersebut.

 

baca juga:

Tips Aman Travelling Saat Pandemi, Kemas Bekal Kalian Sendiri!

 

Prosesi Ritual Tiwah.

ytimg.com

Biasanya diadakan setelah musim panen ketika tidak banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan persediaan makanan cukup lapang.

Namun, karena besarnya anggaran yang dibutuhkan, kebanyakan orang biasanya menunggu sampai cukup tabungan mencukupi, atau mengatur acara secara kolektif.

Upacara dapat berlangsung selama seminggu atau sebulan, tergantung pada kekayaan keluarga. Kumpulan tulang tersebut lalu dibungkus memakai akandin yaitu kain merah.

Lantas dimasukkan lagi ke dalam gong garantung. Selanjutnya, itu diamankan di Sandung, tempat penyimpanan secara terpisah.

Sementara itu, gong dan kendang dibunyikan dan ada nyanyian. Upo atau pemimpin upacara, mengucapkan suatu mantra, lalu diulang-ulang oleh dasar panumba yaitu para anggota kelompok yang melakukan ritual.

 

Prosesi pengantaran arwah.

staticflickr

Kendang kembali ditabuh, dengan irama yang berubah-ubah sesuai suasana narasi. Pertama, jiwa dibangkitkan. Kemudian, diundang untuk mengenakan pakaian yang pantas dan disuguhi berbagai makanan lezat. Juga diberi nama terbaru.

Akhirnya arwah tersebut dibawa ke belay entay (rumah tunggu) yang terdapat di bukit pasahan raung (peti mati). Seusainya, Salumpuk liaw haring kaharingan diundang melalui lokasi yang disebut Balu Indu Rangkang.

Ada dua jiwa yang mewakili fisik dan spiritual. Jiwa-jiwa itu menyatu dan melakukan perjalanan ke suatu tempat yang disebut Banama Nyaho. Dari sana, perjalanan dilanjutkan ke Lewu Tata Panungkup.

 

Penyembelihan kerbau.

kalteng

Selama upacara tiwah orang bernyanyi dan menari dengan sisa-sisa orang mati pada malam hari. Semua orang berpartisipasi, pria dan wanita, tua dan muda. Upacara mencapai pemberhentian paling dramatis selama penyembelihan kerbau sebagai pengorbanan.

Jika hanya seekor kerbau yang disembelih, maka dilakukan sehari sebelum kremasi. Jika ada beberapa, penyembelihan dapat dilakukan sekaligus, atau sehari sebelum kremasi atau satu atau beberapa sekaligus, sampai kremasi terjadi.

Kerbau dibunuh dengan tombak, oleh beberapa orang secara bergiliran. Binatang itu diikat ke binatang pala, yang disebut sapundu dan tidak dapat melarikan diri. Sedangkan para algojo mengarahkan tombak mereka ke kepala dan tubuhnya.

Orang yang wajib melempar tombak pertama adalah saudara laki-laki yang meninggal. Jika dia tidak sehat, maka bisa diwakili oleh sepupunya. Setelah kerbau mati, anggota keluarga menginjak-injak bangkai tersebut, nantinya daging kerbau akan dibagikan.

Umumnya, ritual ngaben dilaksanakan sehari setelah upacara pemotongan kerbau. Tindakan pembersihan selanjutnya dilaksanakan tiga dari tujuh hari usai ritual tiwah.

Tujuannya tidak lain demi mengusir semua roh jahat. Seluruh peralatan yang digunakan dalam tiwah dibuang, karena dianggap melekat pada roh-roh jahat tersebut. Ritual pembersihan ini dipimpin oleh seorang balian.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.