Tatung, Parade Supranatural dengan Perpaduan Tionghoa dan Dayak

Singkawang, sebuah kota kecil yang terletak di Kalimantan Barat, adalah rumah bagi ribuan keturunan Dayak dan Tionghoa.

Terletak sekitar 145 km di utara ibu kota Pontianak, Singkawang atau San Khew Jong dalam bahasa Hakka berarti sebuah kota di perbukitan di dekat tempat pertemuan laut dan sungai.

Mayoritas warganya adalah keturunan Tionghoa, lalu budaya serta tradisi di sini merupakan perpaduan budaya Tionghoa dan Dayak.

Salah satu ritual Tionghoa yang telah berasimilasi dengan budaya lokal disebut Tatung. Ritual ini melibatkan menundukkan tubuh seseorang untuk rasa sakit dan siksaan. Oleh karena itu, tidak cocok ditonton oleh orang yang mudah mual atau anak kecil.

 

Asal mula tradisi Tatung.

Istilah Tatung berasal dari bahasa Hakka, mengacu pada seseorang yang diyakini kerasukan dewa atau roh gaib yang disebut Lauya. Akibatnya, orang percaya bahwa semua Tatung memiliki kemampuan atau kekuatan khusus. Terkadang orang datang kepada mereka untuk menanyakan masa depan, kekayaan, kehidupan cinta, atau karier mereka.

Menjadi Tatung bukanlah sebuah pilihan karena sudah turun temurun atau diwariskan. Meskipun, dalam beberapa kasus, seseorang bisa menjadi Tatung jika dirasuki oleh Lauya.

Setahun sekali, semua Tatung di Singkawang akan mengikuti parade pada hari Cap Go Meh, di akhir perayaan Tahun Baru Imlek. Parade meriah ini biasanya diadakan dua minggu setara 15 hari setelah Imlek.

Penduduk setempat percaya bahwa tradisi parade Tatung telah berlangsung selama lebih dari 250 tahun. Ini bermula ketika orang-orang Tionghoa datang jauh-jauh ke Pulau Kalimantan untuk menambang emas.

Mereka mulai membuka area di hutan yang sangat lebat, sehingga bisa membangun desa sekaligus menambang emas.

Mereka juga menikah dengan orang Dayak setempat. Namun, demam datang dan menyebar, di sisi lain mereka percaya itu disebabkan oleh roh jahat.

Maka dari itu, mereka mulai mengundang roh-roh baik untuk membantu mereka memerangi roh-roh jahat dengan melakukan ritual dan doa. Demam pun hilang sehingga mereka terus melakukan ritual sampai sekarang.

 

baca juga:

Coba Supercar di Pegunungan Alpen, 5 Liburan Musim Panas Ekstrim. Menantang Adrenalin!

 

Tata cara parade Tatung.

Parade Tatung dimulai dengan upacara di vihara yang dipimpin oleh seorang pemimpin spiritual atau pendeta. Dia akan memanggil dan mengundang Lauya untuk merasuki Tatung setelah memberikan persembahan kepada Tua Pe Kong, dewa kemakmuran.

Para Tatung kemudian mulai melakukan kemampuan supranatural melawan rasa sakit mereka dengan menusuk diri sendiri dengan benda tajam. Seorang mediator akan membantu mereka selama pertunjukan untuk berkomunikasi dengan roh.

Kemudian, mereka diarak di sepanjang jalan kota sambil duduk di kursi dengan pisau dan paku yang tajam. Ritual ini dilakukan untuk mengusir roh jahat dari Singkawang. Atraksi ini jelas bukan untuk yang mudah tersinggung dan anak-anak kecil akan membutuhkan bimbingan orang tua.

Semua Tatung tidak akan terluka jika mereka mengikuti aturan. Mereka diharuskan melakukan diet vegetarian setiap hari pertama dan ke-15 penanggalan Cina. Mereka juga tidak diperbolehkan melakukan aktivitas seksual, serta berpuasa tiga hari sebelum pawai.

Untuk mengetahui apakah dapat mengikuti pawai atau tidak, sehari sebelum acara mereka akan datang ke vihara untuk melempar dua batang kayu.

Jika semua tongkat menunjukkan sisi yang sama, itu berarti mereka dapat bergabung dengan parade. Semua Tatung harus mematuhi aturan untuk menghindari bahaya selama pertunjukan.

 

Bertoleransi antar umat beragama.

eljohnnews

Sebagai tanda toleransi, saat berpawai, mereka harus menghentikan pertunjukan sebelum zuhur untuk menghormati umat Islam yang akan melaksanakan salat Zuhur.

Saat melakukan pertunjukan, Tatung mengenakan pakaian khusus. Kostumnya merupakan kombinasi pakaian tradisional Tionghoa dan Dayak.

Pakaian tersebut biasanya didominasi dengan warna merah, emas serta hijau. Mereka juga membawa benda tajam sebagai aksesoris mereka yang melambangkan kemampuan supranatural.

Karena parade hanya akan diadakan setahun sekali pada hari Cap Go Meh, Anda harus datang ke Singkawang sekitar dua minggu setelah Tahun Baru Imlek.

Tahun Baru Imlek biasanya jatuh pada bulan Februari, jadi waktu terbaik untuk mengunjungi Singkawang adalah sekitar bulan Januari hingga Maret.

***

Cukup bagus jika Anda ingin merencanakan liburan awal tahun 2022 di Singkawang. Ini akan jadi pengalaman berkesan karena mencampurkan toleransi antara suku-suku yang ada di wilayah tersebut. Jadi, apakah Anda tertarik untuk berkunjung dalam waktu dekat?

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.