Tari Pakarena, Seni Bervariasi yang Tetap Terpelihara

Dari perairan memesona yang menghadap ibu kota Makassar hingga dataran tinggi Toraja, Sulawesi Selatan adalah provinsi penuh berkah dengan kemegahan tak terbantahkan.

Rangkaian pegunungan utara-selatan yang diapit oleh kerucut vulkanik dan dipatahkan di tengah oleh lembah Danau Tempe membentang di sepanjang provinsi.

Pegunungan Tineba dan Pegunungan Takolekaju membentuk bagian utara rantai tersebut, di mana dipisahkan oleh lembah-lembah retakan sisi curam, kedua barisan ini sejajar satu sama lain dan menutupi sebagian besar sisi utara provinsi.

 

Lokasi.

 

Puncak tertinggi di Sulawesi, Gunung Rantekombola, menjulang setinggi 3.455 meter di bagian utara-tengah provinsi. Sungai-sungai termasuk Walanae, Sadang, Kobo, Kalaena, Koladu, dan Kongkong mengalir menuruni lereng barat dan timur pegunungan lalu melintasi dataran rendah pesisir yang sempit.

Pegunungan ditutupi oleh hutan ekuatorial yang lebat dari jati, ek, beringin, kayu ulin, dan pinus, lalu hutan itu tampak semakin menipis seiring meningginya daratan. Sungai-sungainya ditumbuhi pepohonan, bahkan di daerah yang hutannya jarang.

Penduduk Sulawesi Selatan sebagian besar adalah orang Bugis dan Makassar, juga Toraja, minoritas pribumi yang signifikan, umumnya mendiami daerah dataran tinggi.

Sebagian besar penduduknya menganut Islam, meskipun banyak orang Toraja yang beragama Kristen atau menganut agama lokal.

Lalu, sebagian besar penduduk terlibat dalam pertanian, dengan beras, jagung , kopra (daging kelapa kering), kopi, rempah-rempah, minyak sayur, tebu, kedelai, dan ubi jalar di antara produk utama.

 

Budaya asli Sulawesi Selatan.

kompas

Sementara alam menyediakan pengaturan yang luar biasa, penduduk asli menyajikan budaya tak kalah menariknya.

Salah satu tradisi budaya Sulawesi Selatan yang terpelihara dengan baik diwujudkan dalam Tari Pakarena. Berasal dari Kesultanan Gowa kuno di Kabupaten Gowa saat ini, Pakarena diyakini berasal dari kata “karena” yang berarti “bermain” dalam bahasa setempat.

Tarian ini tampaknya telah tersebar luas di seluruh wilayah, sehingga banyak ditemukan variasi berdasarkan lokasi. Diantaranya adalah Pakarena Gantarang, Pakarena Balla Bulo, dan Pakarena Bontobangung.

Tariannya juga bervariasi sesuai dengan jenis pertunjukannya. Di antaranya adalah Pakarena Royong yang dilakukan secara ketat saat upacara ritual. Dan, Pakarena Bone Balla yang dapat dilakukan kapan saja sesuai keinginan penyelenggara.

 

baca juga:

Pinisi, Konstruksi Kapal Legendaris di Sulawesi Selatan

 

Dibalik Tari Pakarena.

Indonesia Kaya

Pakarena mengekspresikan keanggunan wanita etnis Makassar yang melambangkan kesopanan, kesetiaan, kepatuhan, dan rasa hormat mereka terhadap pasangannya.

Tarian ini terdiri dari 12 bagian yang memiliki makna tersendiri meskipun sulit dibedakan oleh mata awam karena tidak terlatih, bagaimanapun juga, polanya tampak serupa.

Baik posisi duduk yang mengawali dan mengakhiri pertunjukan, maupun gerakan jarum jam mewakili siklus kehidupan manusia.

Sedangkan gerakan naik dan turun melambangkan roda kehidupan, di mana terkadang kita berada di atas, sementara di lain waktu kita berada di bawah.

Dalam semua koreografi, para penari memegang dan memainkan kipas tradisional yang berbeda.

Tarian ini memiliki aturan unik yaitu penari tidak boleh membuka mata terlalu lebar dan kaki tidak boleh diangkat terlalu tinggi.

Tidak ada aturan yang jelas tentang jumlah penampil. Namun, Balla Bulo Pakarena hanya dimainkan dalam angka ganjil 9, 7, atau 5. Tarian ini diiringi musik yang semarak dan dimainkan oleh ansambel tabuh Gendang, kanong-kanong, gong, kancing-kancing, dan pui-pui.

Untuk pertunjukannya sendiri, penari mengenakan pakaian adat berwarna-warni yang terdiri dari Baju Pahang tenunan tangan, lipa’ sabe’ (Sarung Sutera tradisional Sulawesi Selatan yang ditenun halus), dilengkapi dengan aksesoris emas khas Sulawesi Selatan.

 

Sejarah Tari Pakarena.

Sakersomu

 

Tidak ada catatan resmi yang menunjukkan kapan tarian ini pertama kali muncul. Namun, diketahui bahwa Pakarena merupakan tarian resmi kerajaan pada masa pemerintahan Sultan Hasanudin, Sultan Gowa ke-16.

Tari Pakarena juga diyakini dipengaruhi oleh ibunda Sultan, I Li’mokantu. Beberapa orang Makassar percaya bahwa Tari Pakarena mungkin berasal dari legenda perpisahan antara boting langi (penghuni surga) dan penghuni lino (bumi).

Legenda mengatakan bahwa ketika boting langi berangkat ke surga, mereka mengajari orang-orang di bumi bagaimana cara bertahan hidup.

Ini termasuk cara bercocok tanam, bertani, dan berburu. Pelajaran ini selanjutnya diungkapkan melalui gerakan tangan, kaki, dan tubuh.

Hal itu kemudian berkembang menjadi koreografi Tari Pakarena, yang akan ditampilkan masyarakat saat ritual untuk mengungkapkan rasa syukur mereka kepada Tuhan.

Secara keseluruhan, ada makna simbolis dan filosofis dari setiap gerakan dalam Tari Pakarena.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.