Pinisi, Konstruksi Kapal Legendaris di Sulawesi Selatan

Barangkali Anda sudah tidak asing lagi dengan istilah Pinisi, sebuah ikon kapal legendaris di kawasan Sulawesi Selatan.

Lebih dari sekadar kendaraan laut, Pinisi bahkan sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat. Dijaga dan dilestarikan oleh generasi berbeda dari masa ke masa.

 

Apa Itu Pinisi.

Jenis kapal Pinisi kayu modern berasal dari kerajinan serupa yang telah digunakan di Indonesia selama beberapa abad terakhir. Menurut sejumlah sumber, jenis kayu tersebut bahkan telah ada sebelum tahun 1500-an, seperti Dhow Arab.

Bentuk lambung layar Pinisi dalam banyak hal menyerupai persilangan antara dua jenis kapal layar tradisional Amerika, Pinky Schooner dan Tancook Whaler.

Meskipun jenis lambungnya mendahului bentuk lambung di Barat selama berabad-abad.

Dengan kata lain, dalam bentuk aslinya Pinisi adalah tipe lambung berujung ganda, memiliki batang berduri tajam dan tiang buritan. Namun, tidak ada kemudi garis tengah, seperti halnya kendaraan Amerika. Sebaliknya kerajinan lokal Indonesia di masa lalu paling sering menggunakan kemudi kembar, satu di setiap perempat buritan.

Digunakan baik sebagai transportasi dan kapal kargo. Kapal yang disebut Pinisi ini secara tradisional telah dibangun di pantai. Di mana kayu berasal dari hutan Sulawesi (Celebes) dan Kalimantan (Borneo), kemudian diangkut ke lokasi pembuatan kapal.

Secara historis, beberapa ritual dan upacara yang menarik telah menjadi bagian dari pembangunan kapal tersebut. Dimulai dengan memilih pohon paling tepat untuk bagian penting dari struktur.

Seperti halnya pembuatan perahu kayu tradisional di Barat, berbagai ritual berlanjut sepanjang proses pembangunan untuk memulai dan merayakan setiap tahap, seperti peletakan ruas yang penting.

 

Konstruksi Pinisi.

livemint

 

Meskipun pembuat kerajinan ini umumnya dikelompokkan dalam kategori orang Bugis. Ada empat sub-kelompok budaya pembuat perahu yang dapat dibedakan secara terpisah di Sulawesi Selatan (sesuai dengan tulisan Horst Liebner).

Kelompok utama adalah Konjo dari ujung selatan Sulawesi Selatan (dari dekat kota Ara, Bira, dan Tanah Biru).

Mandar Sulawesi Barat di utara Makassar. Bugis dari daerah dekat Wajo di pantai timur Teluk Bone (tengah teluk antara dua belahan Sulawesi). Dan Makassar dari wilayah sekitar kota Makassar.

Di antara kelompok-kelompok ini, Konjo Sulawesi Selatan tampaknya memiliki peran utama dan paling berpengaruh sebagai pembuat perahu.

 

baca juga:

Mengenal Jenis Alas Kaki Tradisional Jepang

 

Secara teknis, istilah Pinisi mengacu pada rig itu sendiri. Secara khusus Pinisi mengacu pada jenis rig gaff-ketch yang biasa.

Lokal rig ini disebut sebagai “tujuh layar sekunar” meskipun layar gaff belakang sedikit lebih kecil dari layar gaff depan, bahkan membuatnya menjadi rig ketch.

Menurut Horst Liebner, istilah yang tepat untuk kapal layar buritan tajam adalah ‘palari’ atau ‘lamba’ di kalangan pembuat perahu Konjo di Sulawesi Selatan.

Ketika batang serta tiang buritan lurus, dan dipasang pada sudut tajam ke lunas, bentuk lambung adalah ‘lamba’ sebagai lawan dari ‘palari’ yang menggunakan kayu melengkung untuk batang dan buritan.

 

Ukuran kapal Phinisi.

pinimg

Pinisi ini secara tradisional dibuat dalam berbagai ukuran. Meskipun di masa lalu cenderung lebih kecil, tidak jarang ditemukan kapal berukuran 30 sampai 40 meter yang sedang dibangun. Dengan lambung sesekali berkisar hingga sekitar 50 meter atau lebih besar.

Pemanfaatan batang kayu dan tiang buritan yang tajam secara meluas merupakan hasil praktis dari efisiensi pengelolaan kayu di mana dapat dengan mudah dibawa turun dari hutan. Dengan cara ini, kapal bisa cukup besar dan masih memiliki panjang lunas yang relatif sederhana.

 

Seni dan kualitas kayu kapal Pinisi.

salamransel

Di banyak lokasi pembuatan kapal di Indonesia, kayu berkualitas bagus menjadi sulit didapat, sehingga mahal.

Banyak pembangun mulai menggunakan kayu yang lebih pendek agar dapat menghasilkan struktur lambung adaptif, terutama pada kapal berukuran besar.

Akibatnya, cukup banyak pembangun Konjo dari Sulawesi Barat Daya yang pindah begitu saja. Agar lebih dekat dengan pasokan kayu berkualitas.

Dengan demikian, para pembangun Sulawesi Barat Daya benar-benar telah mengukir situs bangunan dan desa baru di luar hutan di Kalimantan.

Beberapa lokasi pembangunan baru terletak di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Di tepi sungai yang dekat dengan pasokan kayu.

Di sinilah mereka dapat memperoleh ukuran dan kualitas kayu sesuai keperluan demi membangun kapal berukuran besar hingga 50 meter atau lebih.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.