Menggugat Stereotip Umum Melalui Mahakarya Renee Cox

Luar biasa ganas, Renee Cox memiliki nama terkemuka sebagai salah satu seniman berdarah Afrika-Amerika paling kontroversial di zaman ini. Melalui karya-karyanya, Anda akan dibuat turut mempertanyakan anggapan umum mengenai situasi politik, hubungan di antara ras berbeda, tubuh dan peran wanita, serta perkembangan feminisme hingga kini.

Dalam mewujudkan pandangan pribadinya,  dia berusaha mereformasi representasi stereotip di kepala para penikmat karyanya. Menyikapi kondisi ini, Phillip Spradley terdorong untuk mengeksplorasi karya Renee Cox, dan mendapati nuansa perpaduan dari berbagai emosi, baik upaya pencerahan sampai wujud kemarahan.

 

Siapa itu Renee Cox ?

wikimedia

Cox dilahirkan di Colgate, Jamaika tepatnya saat memasuki tahun 1960. Kemudian, bersama keluarganya, dia pindah ke Queens, New York. Perubahan domisili tersebut terjadi ketika dia masih bayi, lalu pada akhirnya berlanjut ke Scarsdale, tempat di mana dia melalui masa pubertas sewaktu remaja.

Cox selanjutnya menuntaskan pendidikan sarjananya di Universitas Syracuse pada jurusan film. Selepas lulus, dia memfokuskan waktunya untuk menekuni bidang fotografi dengan orientasi mode pemotretan di Paris.

Memasuki tahun 1992, Renee Cox menamatkan studi di School of Visual Arts di New York City, lalu meraih gelar Master of Fine Arts. Inilah momen di mana dia juga semakin mendalami ilmu fotografi.

 

Karya fotografi.

theculturetrip

Cox seiring dengan pemahamannya di bidang fotografi mulai memanfaatkan karyanya untuk melakukan kritik sosial pada sejumlah mata pelajaran dari agama yang diinstitusikan hingga perspektif tentang keibuan.

Era 1994, Dia juga pernah memamerkan potret diri berjudul Yo Mama, di mana Cox terlihat telanjang, tanpa mengenakan sehelai benang pun kecuali sepatu hak tinggi sambil memegang putranya sebagai senjata, yang kala itu berusia dua tahun sebagai senjata.

Kemudian, Cox perlahan meraih atensi besar usai pertunjukan one-woman pertamanya di Cristinerose Gallery, New York di tahun 1998. Puncak pameran adalah foto berwarna dengan format besar yang diberi judul The Liberation of UB and Lady J., di mana sang fotografer tampil sebagai pahlawan super.

Dalam potret itu, dia merupakan pahlawan super bernama Raje yang bertugas menyelamatkan Paman Ben ketika baru diberdayakan dari kotak nasinya serta Bibi Jemima dari label sirup maple. Saking tingginya atensi terhadap foto itu hingga membuatnya menjadi sampul Le Monde, sebuah surat kabar terkemuka di Prancis.

 

Potret berjudul Committed.

repeatingislands

Beralih ke tahun 2001, Museum Brooklyn memperlihatkan seri fotografi milik Cox dengan tajuk Committed, di mana sang seniman menyoroti karya agung dari agama di Eropa untuk kemudian memodifikasinya jadi figur bernuansa hitam.

Meski begitu, karya miliknya yang paling ramai dibahas oleh penikmat seni adalah Perjamuan Terakhir Yo Mama. Itu merupakan sebuah remake dari Perjamuan Terakhir karya Leonardo Da Vinci di mana Cox melukiskan dirinya sebagai Yesus telanjang.

Melalui potret itu, dia dikelilingi oleh murid-murid yang memiliki kulit hitam, tentu, kecuali Yudas yang lebih unggul dengan kulit putih sebagaimana didefinisikan secara tradisional.

 

baca juga:

Rute Sepeda Terbaik di Kota New York

 

Bersama lukisan tersebut, Cox berpendapat bahwa Kekristenan sesungguhnya terdiri dari komunitas besar di kawasan Afrika-Amerika, sayangnya, tidak terdapat representasi yang menggambarkan ras ini.

Oleh karena itu, Cox mengadopsi gambar sendiri demi memasukkan orang kulit berwarna dalam skenario klasik ini khas komunitas Kristen. Tak lama usai keluar pernyataan seperti ini, karya Cox sukses menciptakan kegemparan pada komunitas Katolik Roma.

Salah seorang penentang yang paling lantang terdengar yakni Wali Kota New York kala itu, Rudolph Guiliani.

Guiliani mulai meluncurkan standar kesopanan secara definitif di museum-museum kota. Dengan tujuan agar tidak menampilkan karya kontroversial serupa di mana pun yang menerima sumbangan dana publik.

Akan tetapi, saran walikota ini tidak diberlakukan, karena dipandang tidak konstitusional di bawah Amandemen Pertama.

 

Penutup

Africanah.org

Bagaimanapun, lewat deskripsi sosoknya yang kuat. Lanskap bernuansa penuh warna, disorot besar-besaran, dan dampak visual dari foto-fotonya. Karya Cox harus diakui sangat menarik dari sisi politis.

Dia dengan sangat efektif merepresentasikan leluhurnya dan mengekspresikan pandangannya terkait konstruksi sosial. Sambil sangat menantang peran yang telah ditentukan sebelumnya dari Afrika-Amerika dan Wanita.

Keadaan ini sedikit banyak memicu orang lain untuk mengekspresikan perasaan mereka terhadap ketimpangan yang muncul di tengah masyarakat kala itu.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.