Malanca, Tradisi Adu Betis di Sulawesi Selatan

Sulawesi Selatan, sebagai provinsi paling terkemuka di bilangan Sulawesi, tak heran menghadirkan banyak adat dan keunikan dalam keseharian masyarakatnya.

Dengan luas wilayah yang mencapai 18.038 mil persegi, terdapat begitu banyak potret keseruan bisa Anda temukan di sini.

Contohnya, sebagian besar penduduk lokal melibatkan diri dalam bidang pertanian. Di mana beras, kopra atau daging kelapa kering, jagung, minyak sayur, tebu, kopi, rempah-rempah, kedelai, serta ubi jalar menjadi produk utama. Sementara itu, bagian hutannya menghasilkan jati dan rotan yang bernilai tinggi.

 

Apa itu tradisi Malanca?

Bersama kentalnya budaya pertanian di tengah masyarakat, tidak mengherankan saat mengetahui bahwa daerah ini mempunyai tradisi perayaan sebelum atau sesudah hasil panen.

Tradisi tersebut dikenal dengan istilah Malanca, kegiatan adu kekuatan di antara sesama laki-laki yang juga merupakan tradisi unik dan sedikit aneh secara turun-temurun dari masyarakat di Sulawesi Selatan.

Pada umumnya, tradisi ini biasanya dilaksanakan setiap tahun usai panen sebagai bentuk ungkapan hari raya syukuran.

Malanca atau nama lainnya Mapalanca, akan membuat warga laki-laki saling mengadu kekuatan kaki betis mereka masing-masing.

Caranya yakni harus saling menendang, di mana setiap pria berusia lanjut ataupun masih muda akan dituntut untuk menunjukkan kekuatan secara bergantian di arena pertandingan.

Sebagai contoh, ini pernah terjadi di Dusun Paroto Samaelo di Kecamatan Barebbo, Bone, di mana para petani setempat masih tetap menjaga kelestarian tradisi ini. Meskipun zaman terus berubah dan sebagian besar orang mulai lupa, mereka tetap berusaha mempertahankan pelaksanaan Malanca.

Padahal, jika dilihat sekilas saja, sesungguhnya Malanca terkesan sebagai bentuk tradisi yang anarkis. Meski demikian, masyarakat lokal senantiasa menyambutnya dengan penuh suka cita dan hati berbalut kegembiraan. Agaknya, bahkan saat Anda berkunjung ke sana selama proses pelaksanaan tradisi ini, maka sangat mungkin turut merasakan kemeriahannya.

 

Lokasi penyelenggaraan Malanca.

Umumnya, lokasi pementasan Malanca diselenggarakan pada daerah yang sudah selesai memanen sawah dan memperoleh hasil pertanian memuaskan pada tahun itu.

Dalam suasana semarak, puluhan atau bahkan ratusan orang berbondong-bondong datang ke lokasi. Pada waktu yang sama, ibu-ibu lokal akan hadir membawa bekal makanan, dan situasi ini sekaligus menandakan dimulainya acara.

Namun, jauh sebelum aneka makanan lezat dihidangkan kepada ratusan peserta yang terlibat dalam perayaan Malanca, terlebih dahulu diawali dengan ritual selamatan oleh tokoh agama setempat.

Selepas pelaksanaan ritual selamatan, barulah warga beramai-ramai makan bersama sambil menikmati suasana yang ada.

Harus diakui, selama masa perayaan solidaritas di antara sesama warga turut meningkat. Masing-masing tidak ragu untuk saling berbagi, juga bercerita tentang kesuksesan panen mereka.

Jika dikembangkan dengan serius, tampaknya Malanca berpotensi sukses menjadi daya tarik wisata terutama mereka yang datang dari luar daerah.

 

Berisiko cedera.

Tak berhenti sampai di situ, setelah menuntaskan kegiatan makan bersama, warga kemudian akan berkumpul dan membentuk lingkaran di lahan kosong. Perkumpulan ini nantinya dimanfaatkan sebagai arena adu jotos antara peserta laki-laki, tua ataupun muda.

Setelah itu, satu per satu peserta secara bergantian akan diminta memasuki bagian tengah lingkaran untuk memperagakan kekuatan betis mereka.

Tidak jarang sejumlah peserta mengalami rasa sakit akibat keseleo, dan bahkan, itu bisa pula membuat mereka terhempas.

Hanya saja, suasana semacam itu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi atau dalam artian lain merupakan risiko.

Oleh masyarakat setempat, itu dipandang sangat lumrah dan termasuk representasi sarana hiburan di tengah kesibukan hidup yang menyertai.

Sejalan dengan hal itu, beberapa daerah di Sulawesi Selatan masih melestarikan Malanca, bukan hanya di Dusun Paroto Samaelo di Kecamatan Barebbo, Bone. Saat Anda berkunjung sesudah atau sebelum musim panen, sangat mungkin turut menyaksikannya setiap tahun.

 

Bukti syukur atas melimpahnya hasil bumi.

Dalam prosesnya, sesungguhnya masyarakat pada dasarnya bersama-sama menyatukan kegembiraan, kebahagiaan, dan mengekspresikannya sebagai bukti syukur dan tanda terima kasih kepada penguasa alam yang mereka yakini.

Setelah mengetahui ada sebuah tradisi unik di Sulawesi Selatan, apakah Anda tertarik untuk berkunjung ke sana dan turut ambil bagian dalam momen perayaan?

Jika iya, lakukan persiapan dengan baik meliputi akomodasi tempat tinggal, bus untuk menemani perjalanan, dan jangan lupa ajak orang terkasih!

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.