Kora-kora, Perahu Tradisional Tangguh Asal Maluku

Pulau Maluku merupakan bagian dari lempeng Australia dan terletak di sebelah timur Sulawesi, barat New Guinea, dan selatan Timor Leste.

Orang Eropa dan Cina menyebut wilayah ini sebagai ‘Kepulauan Rempah-rempah’. Asal-usul nama ‘Maluku’ diadaptasi dari bahasa Arab: ‘Jizrat-al-Muluku’, yang diterjemahkan menjadi ‘Tanah para raja’.

Antara tahun 1950 dan 1990, kepulauan Maluku dianggap sebagai satu provinsi di Indonesia. Namun kemudian, itu dipecah menjadi dua provinsi yang berbeda, yakni Maluku dan Maluku Utara.

Dua kelompok yang berbeda mendiami pulau-pulau ini, Kristen dan Muslim, lalu antara tahun 1999 dan 2002, kedua kelompok tersebut berperang.

 

Semangat Juang Tanah Maluku.

pewartanusantara.

 

Terlepas dari banyak sejarah kelam yang pernah terjadi di tanah Maluku, wilayah di timur Indonesia itu memiliki semangat perjuangan. Ini tersimpan dalam salah satu perahu tradisional mereka, yaitu kora-kora.

Kora-kora merupakan sejenis perahu berukuran besar yang memiliki cadik kembar ganda. Ada tiga tiang yang menopang kendaraan lautini, di mana untuk menjalankannya perlu bantuan layar dan dayung.

Kata kora-kora kabarnya diadopsi dari bahasa Spanyol Carraca yang diartikan sebagai dua anak dari ikan toni. Ikan tersebut memiliki sebutan ilmiah yaitu Cypsilurus Poecilopterus.

Perahu tradisional ini secara khusus dapat ditemukan di kalangan masyarakat Ternate di Maluku, di mana keahlian mereka memang dikenal sebagai pembuat perahu.

Ditilik dari nilai historis, kora-kroa telah ada sejak zaman kolonialisme Portugis pada tahun 1200 silam.

 

Baca Juga:

Liburan Romantis dengan Sedikit Petualangan di Hotel Oman

 

Kekayaan alam berlimpah di Maluku.

cilubintang

 

Di masa lalu, Portugis berambisi untuk menguasai seluruh kekayaan alam yang dimiliki oleh masyarakat Maluku.

Oleh karenanya, penduduk setempat berinisiatif membangun kora-kora berukuran besar agar dapat melakukan tindak pencegahan sekaligus penyelamatan terhadap kekayaan di tanah mereka.

Bentuk pertama kora-kora tampak seperti perahu naga China, yang mana ini sekaligus berfungsi sebagai kendaraan dalam berperang jalur laut.

Bukan hanya Portugis, tetapi rakyat Maluku saat itu juga berperang melawan Belanda dan Spanyol.

Namun, lebih dari sekadar alat tempur, perahu tradisional yang kaya akan nilai historis itu rupanya juga dijadikan sebagai kendaraan di bidang perdagangan antar pulau.

Hingga kini, kora-kora masih bisa ditemukan di Maluku, tetapi tidak lagi menjadi sebagai alat kendaraan utama, melainkan pelengkap sebuah festival.

 

Berbagai festival dan atraksi wisata di Maluku.

beritasatu

Jika Anda berkunjung ke Maluku pada waktu-waktu tertentu, kemungkinan akan beruntung menemukan festival lomba adu dayung ataupun pelaksanaan ritual khusus.

Bagaimanapun juga, zaman telah maju, dan demikian pula sarana transportasi publik.

Biasanya, acara tersebut diselenggarakan untuk menarik atensi wisatawan, baik domestik maupun skala internasional.

Apabila Anda penasaran dengan bentuk perahu ini, pastikan untuk datang pada bulan-bulan ketika perayaan sedang marak-maraknya.

Meski demikian, kora-kora tetap memiliki keistimewaan dalam sejarah masyarakat Maluku. Ini sekaligus menjadi simbol perjuangan mempertahankan bangsa dari serangan penjajah, serta sarana mencari penghidupan.

 

Fakta tentang Kora-kora.

antaranews

Lebih jauh, berikut rangkuman beberapa fakta tentang kora-kora yang tak kalah menarik untuk disimak.

  1. Berfungsi sebagai kendaraan dalam berperang, melancarkan perdagangan di antara pulau-pulau terdekat. Simbol perayaan tradisi dan ritual, serta menjadi alat perjuangan melawan kolonialisme di masa lampau.
  2. Termasuk kendaraan yang pernah ditumpangi oleh Sultan Ternate. Pada bagian tengahnya Anda akan mendapati sebuah miniatur rumah, barangkali tampak. Seperti tandu di cerita kolosal tempo dulu.
  3. Ritual upacara adat yang menjadikan kora-kora sebagai ikon adalah Upacara Kololi Kie. Di sini, masyarakat yang terlibat dalam perayaan akan mengelilingi Gunung Gamalama dengan harapan dapat menghindari bencana alam.
  4. Di masa lalu pernah juga digunakan sebagai kendaraan armada angkatan laut oleh VOC. Tujuannya untuk mengawasi praktik monopoli kekayaan alam dan rempah-rempah milik petani Maluku. Dalam momen ini, diadopsi sistem pelayaran Hongi di mana dilandasi Hak Ekstirpasi.
  5. Sebagai bentuk pengingat bahwa pahlawan asal Maluku pernah berjuang melawan cengkeraman penjajah Portugis dan VOC. Hingga kini dikenal yang namanya Festival Kora-kora. Festival ini sekaligus menyimbolkan bahwasanya dahulu kora-kora sangat berjasa dan menjadi saksi bisu atas perjuangan bangsa.

 

Selain fakta-fakta di atas, sesungguhnya ada yang lebih mencengangkan lagi. Tahukah Anda bahwa kora-kora termasuk dalam gambar yang terdapat di dinding Candi Borobudur?

Secara tidak langsung, ini menandakan bahwa ada hubungan antara masyarakat di Maluku pada masa lampu dengan masyarakat di Pulau Jawa.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.