Grebeg Sudiro, Ritual Kebersamaan di Tengah Keberagaman

Solo telah menjadi pusat budaya dan tradisi Jawa yang penting sejak didirikan sebagai jantung kerajaan Mataram pada tahun 1745.

Meskipun lebih konservatif dan jarang dikunjungi daripada Yogyakarta, Solo atau dikenal juga sebagai Surakarta, sejatinya memiliki berbagai hal menarik untuk dijelajahi.

 

Termasuk di antaranya adalah istana Puri Mangkunegaran abad ke-18, candi, museum, pertunjukan tari budaya dan pertunjukan musik.

Sekarang menjadi pusat tekstil utama, Solo adalah tempat untuk mengambil beberapa kain batik terbaik Indonesia dan kerajinan lokal lainnya.

 

Berbagai Panorama dan Atraksi Wisata.

phinemo

Wilayah ini juga merupakan titik awal yang fantastis untuk menjelajahi pedesaan Jawa Tengah, daerah pegunungan paling subur dengan kekayaan dan variasi lanskap pertanian.

Banyak titik di seluruh kota menawarkan pemandangan luar biasa dari gunung berapi aktif, Gunung Merapi.

Candi Borobudur dan Prambanan yang menakjubkan dapat dengan mudah dikunjungi dalam perjalanan sehari. Selain itu, jaringan jalan dan kereta api yang baik menawarkan akses mudah ke Yogyakarta, Semarang serta kota-kota lain di Pulau Jawa.

 

Arsitektur Keraton Surakarta.

timesmedia

Kekayaan sejarah Solo sebagai pusat kerajaan kuno masih terpampang di beberapa situs arsitektur terkenalnya. Keraton Surakarta adalah istana untuk raja pertama Solo Pakubuwono II, yang mendirikan istananya di sini pada tahun 1745.

Hampir hancur dalam kebakaran pada tahun 1985, istana telah dipugar dan beberapa fitur termasuk menara Panggung Songgo Buwono yang menakjubkan telah mempertahankan kejayaan aslinya.

Keraton besar kedua Solo Puri Mangkunegaran, didirikan oleh keturunan Pakubuwono II pada tahun 1757.

Menampilkan perpaduan desain Jawa dan Eropa, dengan langit-langit yang indah dihiasi figur zodiak berwarna-warni. Museumnya memiliki koleksi artefak kerajaan yang luar biasa termasuk topeng hiasan, perhiasan, dan kostum tari.

 

Masjid Agung Surakarta.

Di sisi lain, Masjid Agung, dibangun pada tahun 1794, adalah salah satu tempat ibadah paling dihormati di Solo dengan desain Jawa klasik. Kuil Hindu modern Sahasra Adhi Pura telah memamerkan model miniatur dari sekitar 50 struktur keagamaan penting dari seluruh dunia dan juga merupakan pusat yoga Kunalini.

Beberapa museum yang patut dikunjungi adalah Danar Hadi, dengan pameran batik yang mengesankan, Museum Radya Pustaka untuk melihat barang-barang pertunjukan tradisional seperti instrumen gamelan dan wayang, serta museum dan galeri seni Dullah yang menampilkan karya-karya pelukis terkenal Dullah.

 

Tradisi Unik Grebek Sudiro.

beritasatu

Menyusuri kawasan yang lebih kecil di Kota Solo, adalah Kecamatan Jebres di Sudiroprajan, sebuah tradisi unik akan memukau Anda. Dikenal dengan istilah Grebeg Sudiro, inilah ritual yang menampilkan kebersamaan di tengah keberagaman.

Kata grebeg adalah istilah Jawa untuk perayaan tradisional atau karnaval. Tetapi tidak terbatas pada diksi untuk mendefinisikan acara-acara Islam, seperti peringatan kelahiran Nabi Muhammad, Tahun Baru Islam, dan Idul Adha.

Harmoni budaya Jawa dan Tionghoa tercermin dalam karnaval Grebeg Sudiro. Tumpukan sesajen berbentuk gunung yang terdiri dari kue keranjang, buah-buahan dan sayuran akan diarak di sekitar Pasar Gede sebelum dikerumuni oleh orang banyak dalam hitungan menit.

Peserta perayaan ini sering kali saling mendorong untuk mendapatkan sesaji karena mewujudkan filosofi Jawa “ora babah ora mamah”, yang berarti “Anda harus mendapatkan apa yang Anda makan”. Sesajen juga melambangkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

baca juga:

4 Liburan Winter Sun yang Terkenal Sejagad

 

Gunungan Kue Keranjang.

sumartonohadinoto

Persembahan berbentuk gunung Grebeg Sudiro, yang dikenal sebagai gunungan, dibuat dari ribuan kue manis Cina yang dikenal sebagai kue keranjang.

Kue dibuat khusus untuk Tahun Baru Imlek saja. Gunungan diarak di sekitar kawasan Sudiroprajan, diikuti oleh para pemusik serta penari Tionghoa dan Jawa dengan kostum tradisional.

Di akhir pawai, sebuah lampion besar berbentuk teko di pintu gerbang Pasar Gede dinyalakan dan dilanjutkan dengan penyalaan lampion lain yang menghiasi keseluruhan pasar.

 

Grebek Sudiro, Lambang Keharmonisan Budaya Tionghoa-Pribumi.

Grebeg Sudiro menunjukkan hubungan harmonis antara masyarakat Tionghoa dan Jawa yang tinggal dalam satu kabupaten. Saling menghormati tradisi dan cara hidup masing-masing.

Saat mempersiapkan Grebeg Sudiro, kedua suku saling membantu dalam menyambut ritual penuh syukur kepada Tuhan. Sekaligus alam semesta atas berkah dan karunia yang diberikan kepada mereka.

Kawasan Sudiroprajan merupakan bagian dari Kecamatan Jebres di kota Solo, Jawa Tengah. Orang Cina telah tinggal di sini selama beberapa generasi dan hidup harmonis dengan orang Jawa.

Melalui perkawinan dan akulturasi selama bertahun-tahun, generasi baru perkawinan campuran, yang dikenal sebagai Peranakan, kemudian menciptakan tradisi pemersatu ini.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.