Cuma di Indonesia, Tradisi Lebaran khas Nusantara Sepanjang Zaman

Sebagai negara dengan dominasi penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki tradisi lebaran sendiri yang dijaga dari masa ke masa.

Aktivitas ini tetap lestari dan tidak lekang oleh modernisasi zaman. Berikut 6 kebiasaan masyarakat yang pasti ditemukan selama momen lebaran.

 

  1. Halal bi halal.

Halal bi halal atau dikenal juga dengan aktivitas saling mengunjungi antara yang satu dengan lainnya. Teman-teman lama, keluarga besar, tetangga kompleks, atau siapa saja biasanya akan memanfaatkan momen lebaran untuk bertamu dan melepas rindu.

Tujuan diadakannya tidak lain demi menyambung kembali silaturahmi yang sedikit melonggar akibat sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Seiring dengan kemajuan teknologi, halal bi halal tidak lagi menuntut sebuah pertemuan langsung. Banyak masyarakat yang kini memberdayakan media daring untuk melaksanakan pertemuan secara virtual, terutama di tengah badai pandemi seperti saat ini.

Namun demikian, kebanyakan orang tentu akan setuju kalau halal bi halal akan terasa lebih berkesan jika diselenggarakan langsung.

 

  1. Menabuh bedug dan takbir keliling.

Semalam sebelum dilaksanakan salat sunah pada tempo hari raya, biasanya masyarakat akan berkumpul di satu titik lokasi. Tujuannya adalah untuk melaksanakan takbir keliling.

Dalam praktiknya, ada yang bertugas mengumandangkan takbir, menabuh bedug, bahkan sekadar meramaikan suasana.

Walau pandemi sedang berlangsung, tetapi tidak lantas membuat semangat masyarakat surut. Tentu, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, atau bahkan bisa dilakukan pula secara virtual.

Tabuhan bedug dan gemuruh suraha takbiran benar-benar memberi kemeriahan tersendiri dalam rangka perayaan lebaran di Indonesia. Tidak jarang, sukses memicu perasaan rindu bagi anak rantau.

 

  1. Mudik dan rekreasi.

Bisa dibilang, mudik merupakan kesempatan yang paling dinanti oleh seluruh lapisan masyarakat. Para perantau dari berbagai penjuru saling berlomba kembali ke kampung halaman demi berkumpul bersama sanak saudara.

Tidak heran, permintaan tiket transportasi publik biasanya melonjak drastis menjelang lebaran.

Sayangnya, sudah dua tahun ini masyarakat tidak bisa melangsungkan mudik dengan normal akibat adanya pandemi. Memang masih bisa dilaksanakan, tetapi ada banyak syarat yang perlu dipenuhi.

Terlebih, bagi mereka yang hendak menggunakan moda transportasi pesawat. Dari pihak pemerintah sendiri pun, mau tidak mau mengeluarkan aturan larangan mudik demi kebaikan bersama.

Namun demikian, tempat-tempat wisata tidak ditutup total. Ini karena regulasi pengunjung lebih mudah diatur ketika berada di satu titik. Keluarga, pasangan, atau teman lama yang bertemu kembali biasanya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk rekreasi.

 

baca juga:

Travelling Pas Momen Lebaran, Ikuti 6 Tips Ini

 

  1. Saling berkirim makanan.

Tidak hanya mengunjungi antara satu dengan lainnya, kerap kali kita juga menemukan aksi saling mengirimkan makanan. Dalam hal ini, makanannya saja yang tiba di rumah kerabat atau tetangga, sedangkan yang memasak tetap di kediamannya sendiri.

Keberadaan ojek daring juga memudahkan keberlangsungan tradisi yang satu ini. Pasalnya, kita dimungkinkan mengirimkan barang secara cepat lewat bantuan driver. Di samping memberikan kepraktisan, lagi-lagi fasilitas demikian memungkinkan kita untuk tetap menekan penyebaran Covid-19.

 

  1. THR dan pakaian serba baru.

THR atau Tunjangan Hari Raya umumnya merupakan tradisi yang paling dinantikan oleh anak-anak. Betapa tidak, mereka akan mendapatkan amplop berisi uang dari orang dewasa yang sudah memiliki pekerjaan.

Meski pada praktiknya, THR tidak melulu berbentuk uang, melainkan bisa juga makanan atau minuman instan.

Tidak hanya itu, ketika pelaksanaan lebaran, kita cenderung membeli pakaian baru. Bahkan, bisa dibilang ada keinginan untuk tampil all out.

Tidak heran, para pedagan pakaian di mana pun itu sering kali mendapatkan pendapatan besar menjelang lebaran.

Hanya saja, selama dua tahun terakhir ini agaknya keinginan masyarakat untuk membeli pakaian baru sedikit menurun akibat pandemi.

Meski begitu, pasar, mall, bahkan marketplace semakin gencar memberikan diskon besar-besaran. Alhasil, tidak sedikit juga konsumen yang menunggu adanya momen ini penawaran online untuk berbelanja habis-habisan walau kadang hanya berakhir menumpuk di lemari.

 

Zaman boleh berubah, tuntutan hidup manusia dari hari ke hari pun semakin besar, tetapi tradisi akan tetap terjaga di hati.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.