Wisata Religi ke Tiga Situs Cagar Budaya di Tabalong

Wisata Religi Tabalong – Sudah pernah berkunjung ke Kalimantan Selatan tetapi belum sempat mampir ke Tabalong? Tabalong merupakan salah satu dari 13 kabupaten dan kota yang ada di Bumi Lambung Mangkurat. Dengan luas wilayah 3.496 km², Tabalong menawarkan pariwisata yang cukup beragam, diantaranya wisata alam yang berupa arung jeram, air terjun yang jumlahnya cukup banyak, gua, sumber air panas dan danau, beberapa wisata buatan seperti agro wisata dan islamic centre, serta wisata religi dan budaya. Untuk wisata religi dan budaya, Tabalong, seperti juga daerah lainnya di Kalimantan Selatan menyimpan banyak situs cagar budaya yang dilindungi. Tiga di antaranya akan diulas dalam artikel berikut ini!

Masjid Jami Puain Kanan di Tanta

Satu dari sekian banyak situs cagar budaya yang dilindungi di Kabupaten Tabalong adalah Masjid Puain Kanan. Masjid ini dibangun oleh Datu Ranggama, yang berasal dari Suku Dayak Kalimantan dan telah memeluk agama Islam. Beliau bermukim di Banua Usang, Puain Kanan dan sangat disegani. Beberapa wilayah Istana Tabalong yang menjadi tempat syiar agama Islam dari Sang Datu adalah Tanta, Murung Pudak, Tanjung, Upau, Muara Uya, Haruai, dan juga Jembatan Kaltim.

Awalnya, Masjid Puain Kanan dibangun dengan sederhana dan sejak 1638 Masehi, telah dilakukan beberapa renovasi.Beberapa renovasi yang dilakukan diantaranya adalah pengalihan tempat masjid ke tepian sungai Tabalong sebab banyak penduduk yang pindah pemukiman ke tempat tersebut. Masjid juga perlu direnovasi setelah sebagian bangunannya mengalami kebakaran yang disebabkan oleh ulah penjajah Belanda. Renovasi Masjid Puain Kanan paling sering dilakukan karena beberapa bangunan masjid telah mengalami kerusakan. Bagi Anda yang ingin menikmati situs cagar budaya ini, Masjid Jami Puain Kanan tepatnya berlokasi di Desa Puain Kanan, Kecamatan Tanta. Masjid ini juga tergolong masjid keramat hingga banyak pengunjung yang datang ke sana.

Makam Gusti Buasan di Tabalong

Gusti Buasan merupakan salah satu tokoh pejuang yang gigih melawan penjajahan kolonial Belanda di wilayah Tabalong. Dalam perjuangannya, beliau dibantu oleh istri dan saudaranya yang bernama Gusti Berakit. Bila Gusti Berakit berjuang di daerah Barat, sepanjang sungai Tabalong Kiwa, Gusti Buasan menyerang Belanda di wilayah Timur. Mereka juga bekerja sama dengan seorang panglima dari Kerajaan Candi Agung Amuntai dalam menumpas penjajah yang mereka lakukan selama bertahun-tahun.

Karena kegigihan Gusti Buasan ini, pihak Belanda melakukan berbagai tipu muslihat dan juga mempunyai mata-mata untuk mengalahkan beliau. Salah satunya saat Gusti Buasan singgah ke tempat saudara angkat beliau yang berada di Mantikus Desa Lampahungin (kini). Ketika sedang enak-enaknya makan, tiba-tiba serdadu Belanda melakukan penyerangan dan baku tembak pun tak dapat dielakkan.

Untungnya, Gusti Buasan berhasil melemparkan istri dan juga saudaranya, Gusti Berakit, ke sungai Manyarau lewat jendela agar dapat melarikan diri sedangkan beliau tetap meneruskan pertempuran. Gusti Buasan akhirnya tertembak di bagian paha dan dengan satu kaki berusaha untuk menyelamatkan diri dengan terjun ke sungai dan menyelam.

Setelah menghanyutkan diri cukup jauh, Gusti Buasan naik ke darat dan meminta pertolongan dengan sembunyi-sembunyi demi untuk menghindar mata-mata musuh yang terus berusaha mencarinya. Meski sudah mendapatkan pertolongan, luka yang diderita Gusti Buasan terlalu parah hingga beliau pun akhirnya wafat.

Sebelum meninggal, Gusti Buasan berpesan agar dimakamkan ditempat persembunyiannya di seberang sungai karena disitulah beliau terhindar dari kepungan Belanda. Makam Gusti Buasan yang berada di daerah Haruai, Tabalong hingga kini tetap didatangi peziarah terutama pada hari-hari besar Islam.

Baca juga: Soto Banjar, Kuliner Terpopuler Asal Kalimantan Selatan

Makam Datu Harung di Harung Kabupaten Tabalong Tanjung

Bagi warga Tanjung, komplek Makam Datu Harung yang berlokasi di Kelurahan Pembataan sepertinya sudah tidak asing lagi bagi mereka. Makam beliau cukup mudah dijangkau dan berada tak jauh dari Mapolres Tabalong. Datu Harung sebenarnya bernama asli Magat. Kemudian, nama Harung diambil dari  nama desa di mana beliau tinggal. Datu Harung sangat terkenal karena kesaktiannya. Beliau juga sangat ahli dalam bidang pertanian dan mempunyai lahan yang sangat luas.

Kisah tentang Datu Harung

Terdapat dua kisah tentang Datu Harung yang sangat populer, yaitu tentang kepiawaiannya dalam memecahkan misteri tentang lelaki yang menghamili adiknya serta kemampuannya dalam melawan tipu muslihat raja yang ingin memiliki istrinya.

Datu Harung terkenal sangat cerdik dan sakti. Kisah tentang kecerdikannya dalam mengungkap misteri siapa yang menghamili adiknya sangat populer di masyarakat Tabalong. Berawal dari cerita keluarga Datu Harung. Ia memiliki seorang adik bernama Diang Wangi yang sangat elok dan molek.

Pada suatu hari, Diang Wangi tiba-tiba saja hamil tanpa ada suami yang mendampinginya. Melihat kenyataan ini, tentu saja Datu Harung sangat marah dan gusar. Ia bertanya pada Diang Wangi, siapa lelaki yang telah menghamilinya. Namun, Diang Wangi sendiri juga bingung karena lelaki itu hanya datang pada malam hari dan segera pergi setelah menidurinya. Diang Wangi hanya melihat sekilas bahwa lelaki itu memakai cawat berbahan dari kulit kayu. Sontak, Datu Harung merasa geram dan mulai berpikir cara untuk menangkap sang lelaki misterius yang telah tega melakukan tindakan tidak bertanggung jawab kepada adiknya.

**

Datu Harung konon mengumpulkan rumpun bamban sebanyak mungkin untuk dijadikan simpul tali yang sangat panjang. Ia memerintahkan sang adik untuk menyangkutkan tali rumpun bamban ini kepada cawat sang lelaki misterius tersebut. Akhirnya, pada suatu ketika sang lelaki tersebut datang lagi ke kamar Diang Wangi hendak melakukan tindakan keji itu lagi. Diang Wangi segera menyangkutkan tali rumpun bamban pada cawat lelaki itu.

Keesokan harinya, Datu Harung mendapati gulungan tali rumpun bambunya terus menggulung hingga hampir habis. Tali itu tampak menjulur sangat panjang. Datu Harung segera menelusuri pangkal tali rumpun bamban itu dan menjumpai seorang lelaki yang sedang tertidur di bawah pohon kusi.

Dengan marah Datu Harung segera membangunkan lelaki itu dan mengajaknya berduel adu kesaktian. Tetapi, lelaki itu justru menangis dan memohon ampunan Datu Harung. Lelaki itu telah menganggap Datu Harung sebagai kakak iparnya dan berjanji jika Datu Harung membutuhkan bantuannya kapan saja dan di mana saja ia bersedia untuk menolong. Alhasil, Datu Harung akhirnya luluh dan memaafkan lelaki misterius tersebut. Lelaki itu kemudian dinikahkan dengan Diang wangi dan melahirkan seorang anak lelaki yang diberi nama Arya Tadung Wangi. Masyarakat lokal Tabalong meyakini bahwa dari keturunan Arya Tadung Wangi inilah masih satu keturunan dengan Suku Kandangan di Hulu Sungai sebelah selatan.

***

Di akhir hayatnya, Datu Harung berpesan bila beliau wafat ingin dimakamkan di kebunnya yang berada di kampung Harung. Makam beliau hingga sekarang masih ada di sana dan sering didatangi masyarakat yang ingin berziarah. Beliau kerap juga disebut sebagai Datu Harung atau Datu Magat.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *