Wisata Religi ke Makam Datu Abulung di Martapura, Banjar

Makam Datu Abulung–  Salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki tradisi keislaman yang kuat adalah Kalimantan Selatan. Di sini juga memiliki “Serambi Mekah”, yakni Kota Martapura yang merupakan ibukota dari Kabupaten Banjar. Terkenal dengan sebutan kota santri, Martapura telah melahirkan ribuan santri dan ratusan ulama yang mumpuni di bidangnya. Akar Islam yang menancap kuat di tanah Banjar ini tak lepas dari perjuangan gigih para ulama dan waliyullah di masa Kerajaan Banjar dulu.

Sebut saja Syekh Muhammad Arsyad al Banjary dengan kitab Sabilal Muhtadinnya yang dikenal tak hanya di wilayah Kalimantan Selatan saja namun juga di seluruh Nusantara dan kawasan Asia Tenggara bahkan Timur Tengah. Makam Syekh Muhammad Arsyad al Banjary, yang mendapat gelar Datu Kelampayan, hingga kini menjadi tujuan wisata religi yang sangat populer di wilayah Banjar. Berbeda lagi dengan ulama besar asal Banjar yang berikut ini. Meski tak banyak yang mengetahui sepak terjang beliau karena tak ada satu pun peninggalan kitab karangan seperti kebanyakan ulama, sosok ulama yang satu ini pernah menggemparkan Kalimantan dengan paham wihdatul wujudnya. Ya, beliau adalah Syekh Abdul Hamid Abulung al-Banjari atau sering disebut Datu Abulung. Makam beliau pun dijadikan salah satu tujuan wisata religi di wilayah Martapura, Banjar. Penasaran dengan sosok Datu Abulung? Yuk, simak uraiannya berikut ini!

Profil singkat

Abdul Hamid Abulung al-Banjari merupakan salah satu ulama Banjar yang berpengaruh pada masanya. Kisah beliau berawal pada masa Kesultanan Banjar yang diperintah oleh Sultan Tahlilullah. Bersama dengan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, ia diberangkatkan ke tanah suci Mekah oleh Kesultanan Banjar untuk menuntut ilmu dengan biaya kerajaan dengan harapan nantinya bisa membawa sinar terang bagi Banjar. Datu Abulung juga memperoleh ilmu dari beberapa guru besar seperti rekan sejawatnya, Datu Kalampangan. Namun karena tidak adanya karangan beliau yang biasanya merujuk kepada guru-guru pengarang, tak satupun nama dari guru Datu Abulung diketahui.

Sepulang menuntut ilmu dari tanah suci. Datu Syekh Abdul Hamid mulai mengajarkan ilmu yang didapatnya kepada masyarakat sekitarnya. Salah satunya adalah ilmu Tasawuf. Sayangnya, ilmu tasawuf yang diajarkan Datu Abulung kepada masyarakat awam ini sangat berbeda dengan ilmu Tasawuf yang selama ini berkembang di masyarakat. Ajaran Datu Abulung adalah: Tiada yang maujud hanya Dia, Tiada maujud lain-Nya. Tiada aku melainkan Dia, Dia adalah aku dan aku adalah Dia.

Syekh Abdul Hamid Abulung juga mengajarkan bahwa Syariat yang diajarkan selama ini adalah kulit belum sampai kepada isi (hakikat). Sedangkan pelajaran yang selama ini diyakini masyarakat umum yaitu Tiada yang berhak dan patut disembah selain Allah. Allah adalah Khalik dan selainnya adalah makhluk, tiada sekutu bagi-Nya. Pemikiran Datu Abulung ini kurang lebih sama dengan ajaran Abu Yazid Al-Bustami. Husein bin Mansyur Al-Hallaj yang kemudian masuk ke Indonesia melalui Hamzah Fansuri dan Syamsuddin di Sumatera dan Syekh Siti Jenar di pulau Jawa.

Baca Juga : Pantai Pagatan di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan

Ajaran yang menuai pro dan kontra

Ajaran Datu Abulung yang berbeda pun mendapat reaksi yang beragam dari masyarakat. Dan terbilang cukup menggemparkan pada masa itu. Paham tasawuf Wahdatul Wujud yang diajarkan Datu Abulung mulai mendapatkan sandungan ketika terdengar sampai ke telinga Sultan Tahmidillah. Setelah terlebih dahulu berdiskusi dengan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Sultan akhirnya memutuskan bahwa ajaran Datu Abulung dapat meresahkan masyarakat dan merusak kehidupan beragama bila terus dilanjutkan. Sang Datu kemudian dilenyapkan dengan bantuan para algojo Kesultanan Banjar sesuai dengan keputusan Sultan Tahmidillah. Atas pertimbangan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, yang pada waktu itu menjabat sebagai mufti besar. Datu Abulung  di makamkan di Kampung Abulung Sungai Batang Martapura.  Dibalik segala kontroversi tentang ajaran yang beliau bawa. Makam Datu Abulung juga menjadi salah satu tujuan favorit wisata religi di Martapura, Banjar.

***

Terlepas dari kontroversi ajaran yang beliau sebarkan. Sebagai umat beragama yang baik, sepatutnya kita untuk mengambil hikmah dan pikiran positif dari peristiwa tragis yang dialami oleh Datu Abulung. Pada zaman sekarang, apabila seorang tokoh agama menyebarkan ilmu agama yang meresahkan masyarakat, akan mendapat teguran keras. Hingga mendapat sanksi hukum pidana. Tetapi, sayangnya pada masa itu Datu Abulung, langsung dilenyapkan oleh pihak kerajaan. Karena mungkin ketidak-tahuannya, dan terlalu fanatik memercayai ilmu yang diperolehnya. Meskipun masih ada di level ‘kulit’ belum mempelajari lebih dalam tentang ilmu agama hingga ke ‘akar-akarnya’.

Untuk menebus dosa dan merasa bersalah karena telah memerintahkan para algojo raja untuk mengeksekusi Datu Abulung. Sultan Tahmidullah II yang memerintah periode 1761-1801 kemudian membangun sebuah masjid dengan memakai nama beliau. Yaitu Masjid Jami Syekh Abdul Hamid Abulung. Masjid yang berlokasi di desa Sungai Batang, kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar. Termasuk sebagai salah satu masjid tertua di provinsi Kalimantan Selatan dan termasuk ke dalam salah satu cagar budaya di wilayah Banjar. (jari adventure-det)

 

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *