Wisata Misteri di Rumah Kebun Kopi Blitar, Serasa Kembali ke Zaman Belanda dan Bikin Penasaran

Masa penjajahan bangsa kolonial Belanda, Indonesia memiliki sejarah hitam tentang perbudakan dan eksplorasi sumber daya alam yang besar. Salah satunya adalah kebun kopi yang membentang seluas 250 hektar.

Melihat potensi tanah yang subur di atas ketinggian Desa Karanganyar, Blitar, warga Belanda mendapatkan banyak keuntungan semenjak menjual kopi di pasar Eropa.

Kopi yang dihasilkan dari tanah vulkanis di Indonesia merupakan kualitas nomor satu pada zamannya. Beraroma harum, kental, dan gurih. Ditambah lagi, untuk mendapatkan kopi – kopi berkualitas ini, pemerintah Belanda sama sekali tidak membutuhkan biaya modal atau ongkos produksi yang tinggi. Karena, mereka mendapatkannya dengan cara perbudakan alias tanam paksa.

Siapa saja pribumi yang tidak mau menanam kopi atau bekerja menjadi buruh kopi, nyawa sebagai taruhannya.

Alhasil, ada banyak kebun kopi, kebun teh, kebun palawija dan rempah – rempah yang luas bekas kolonial Belanda di seluruh tanah air.

Untuk mengawasi kinerja operasional kebun kopi, biasanya dibangun sebuah rumah yang berada tak jauh dari kebun kopi. Rumah ini juga menjadi tempat beristirahat para warga Belanda atau noni – noni Belanda yang ingin berekreasi sejenak.

Rumah kebun kopi di Desa Karanganyar saat ini sudah diambil alih oleh warga Blitar bernama Denny Roshadi. Di sisi atas depan rumah, terpampang jelas nama De Karanganjar Koffieplantage Blitar – NV Harta Mulia.

Sempat tak terurus karena kepergian Belanda

beritasatu.com

Setelah meraih kemerdekaan Indonesia yang berdaulat, mau tak mau pihak kolonial Belanda harus segera angkat kaki  ke Belanda. Pergolakan itu masih menyisakan berbagai macam fakta miris. Termasuk data – data dan arsip dokumen yang tak pernah bisa dilihat lagi selamanya.

Setelah Belanda pergi, pihak perkebunan melelang seluruh aset kebun kopi. Seorang warga lokal yang bernama Denny Roshadi tampil untuk mengambil alih kembali apa yang menjadi hak warga Blitar. Pada 1960 hingga 1983, ia mengembangkan usaha kebun kopi Blitar. Hingga sekarang, diwariskan kepada anak – anak dan cucu.

Baca juga:

Kebun Raya Bogor, Secuil Hutan di Tengah Kota Bogor

 

Kental nuansa Belanda

viva.co.id

 

Bangunan Belanda yang dibangun pada 300 tahun lampau ini masih tampak sama seperti aslinya. Fasad luar tidak ada perubahan sama sekali. Ada 2 jendela bergaya kupu tarung dan 2 pintu yang berukuran sedang. Pada masanya, rumah ini merupakan loji atau dalam bahasa Belanda berarti “loge” alias kantor.

Pengelola kebun kopi atau sinder membuat dokumen, menghitung ataupun menjalankan roda operasional kebun kopi dari dalam rumah ini. Ada juga kamar – kamar tidur, kamar mandi dan dapur.

Tampak di depan rumah ada sebuah pagar besi yang dibuat agak tinggi, sangat khas bergaya Belanda.

Memasuki ruangan di dalam rumah, di sekitar ruang tamu tampak berbagai macam perabotan yang antik dan bergaya kuno. Lukisan – lukisan berseni tinggi, pernak – pernik dari logam untuk hiasan atau pajangan di meja hias, serta jam almari dan guci – guci besar.

 

Tampak dari kusen dan pintu yang masih kental nuansa tempo dulu dan di masa sekarang mungkin sudah tidak bisa ditemui. Tak heran jika saat ini rumah ini difungsikan menjadi galeri seni dan museum.

Ruangan di dalam rumah kebun kopi

keboenkopikaranganjar.com

Kota Blitar memang sangat lekat dengan sang tokoh proklamator, Soekarno. Begitu juga di rumah ini. Ternyata ada juga salah satu kamar yang disebut dengan kamar Soekarno. Di setiap ruangan aroma mistis juga sangat terasa, meskipun datang berkunjung di siang hari bulu kuduk tak hentinya merinding.

Berbagai barang peninggalan Bung Karno juga masih banyak dijumpai. Bahkan, ada yang diambil alih dari salah satu kamar yang ada di Hotel Indonesia, Jakarta untuk melengkapi koleksi museum.

Lukisan noni Belanda yang cantik dan seksi

idntimes.com

Bung Karno sejak lama diketahui sebagai seorang pemuja wanita. Kiprahnya sebagai tokoh terkenal dunia banyak memikat hati para gadis dan wanita. Di dalam rumah ini, kamu bisa menjumpai sebuah lukisan yang menggambarkan kecantikan seorang wanita blasteran Belanda.

Dari wajahnya tersirat tatapan mata yang tajam sekaligus teduh, terlihat tirus, bergaya rambut cepol dan kulitnya tidak terlalu putih. Wanita itu juga bertubuh kecil dan langsing. Secara keseluruhan, wajahnya memang sangat manis dan seperti bukan orang Indonesia asli. Warga setempat mempercayai jika wanita itu adalah percampuran antara orang Indonesia dan Belanda.

Di sisi kanan bawah tertoreh nama Soekarno yang menandakan bahwa lukisan itu adalah hasil karya seni Bung Karno.

Lukisan berusia lebih dari 2 abad

idntimes.com

Dilihat dari lukisan pemandangan yang terpampang besar di sudut dinding, kamu bakal teringat pada kota terapung, Venesia di Italia. Sayangnya, keindahan lukisan ini pernah terbengkalai berabad – abad karena dibiarkan saja di dalam gudang.

Setelah kemerdekaan Indonesia, rumah kebun kopi mendapatkan sentuhan renovasi dan para pekerja tak sengaja menemukan lukisan ini di dalam gudang pabrik yang sudah terabaikan ratusan tahun.

Di sisi kanan bawah lukisan tercantum nama pelukisnya warga Belanda bernama Cloud G.L, pada tahun 1848.

Tertarik menguak misteri kebun kopi Blitar yang bikin penasaran ini? Yuk, berkunjung ke Dusun Karanganyar Timur, Modagan, Nglegok, Blitar. Dijamin ketagihan!

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *