Situs Istana Kota Rebah, Saksi Bisu Kemegahan Kesultanan Melayu di Tanjung Pinang

Situs istana Kota Rebah – kota Tanjung Pinang yang berada di selatan Pulau Bintan merupakan kota yang sarat sejarah, budaya dan adat istiadat Melayu. Wajar jika kemudian banyak ditemui jejak peninggalan Melayu, salah satunya Istana Kota Rebah. Yang dulunya saat kekuasaan Melayu disebut dengan Istilah Istana Kota Lama, namun masyarakat kurang familier dengan nama tersebut. Sebutan ini tak lepas dari kondisi terkini bekas istana tersebut. Situs Istana Kota Rebah ini sempat menjadi objek wisata popular di Tanjung Pinang. Tapi, seiring waktu kejayaan tersebut memudar karena tidak terpeliharanya kekayaan sejarah yang ada.

Lokasi Istana Kota Rebah

Situs Istana Kota Rebah ini tidak jauh dari jembatan Engku Putri di Jalan Daeng Celak Tanjung Pinang. Letak nya persis di pinggiran sungai Carang. Situs tersebut dapat dijangkau dengan mudah melalui jalan setapak yang baru dibuka, yang jaraknya sekitar 50 meter dari Jembatan Engku Putri. Cukup mengikuti alur jalan tersebut kita akan tiba di pintu masuknya.

Bukti sejarah yang terabaikan

Istana Kota Rebah ini menjadi bukti sejarah bahwa tempat awalnya kesultanan Riau, dan akankah terus terabaikan?

Istana Kota Rebah yang berada di Senggarang ini sudah mulai sepi pengunjung. Ini dikarenakan kurangnya perhatian dari pemerintah dalam menjaga situs situs bersejarah. Terlihat oleh semakin banyaknya semak – semak yang tumbuh di areal puing – puing bangunan, dan beberapa temboknya diberi tiang agar menahan tembok supaya tidak roboh.

Kondisi Bangunan

Berada di areal kebun penduduk yang belum jelas kategorinya, karena lebih mendekati belukar daripada kebun. Bangunan yang tersisa hanya berupa bagian fondasi dan sebagian kecil tembok yang masih berdiri di beberapa titik. Bagian – bagian yang tersisa itu menurut perkiraan, Fitra Arda dari Balai Pelestarian, Peninggalan Purbakala Batusangkar, paling hanya 10 persen dari total keseluruhan bekas istana yang menempati areal seluas sekitar 20 Hektar.

Dari sisa reruntuhan yang ada secara umum kondisi bangunan sudah sangat rusak. Hasil studi teknis arkeologis yang dilakukan BP3 Batusangkar, tahun 2007, hanya bisa memperkirakan dua kelompok bangunan pertama yang berada di sebelah selatan ukurannya lebih luas daripada kelompok bangunan kedua di sebelah utara. Bangunan itu sendiri menghadap ke selatan atau ke teluk yang ada di Sungai Carang.

Sejarah Singkat Istana Kota Rebah

Istana Kota Rebah juga disebut sebagai Istana Kota Lama atau Kota Raja, karena kesultanan melayu pertama berawal di Istana Kota Rebah aau pada waktu itu disebut sebagai Istana Riau. Istana ini dibangun pada tahun 1673 – 1805 yang menjadi hulu sungai Riau atau yang sekarang disebut sebagai Sungai Carang. Atas perintah Sultan Abdul Jalilsyah yang berkuasa di Johor untuk mencari wilayah tempat tinggal baru. Karena di daerahnya telah mengalami kekeringan dan sebagai pusat kerajaan melayu. Sampai lah sultan ke Bintan dan menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan tempat tinggal. Ia kemudian membuat istana untuk kerajaannya yang disebut sebagai hulu Riau atau sekarang disebut sebagai sungai carang pada tahun 1673.

Baca juga: Pantai Nihiwatu, Surga Peselancar Belum Tersentuh

Sungai Carang mulai ramai dengan aktivitas perdagangannya sejak di pegang oleh Raja Fisabilillah yang kemudian membentuk kerajaan baru yang dinamakan Istana Kota Piring di Pulau Biram Dewa. Karena gugurnya Raja Fisablillah saat melawan Belanda, kerajaan Riau pindah ke Daek, Lingga karena ditakutkan bahwa Belanda akan menyerang kerajaan melayu sewaktu-waktu.

Mulai sejak itu, kerajaan Kota Rebah dan istana Kota Piring di tinggalkan oleh seluruh pengurus kerajaan dan rakyatnya karena Belanda bisa saja dapat menghancurkan kerajaan mereka. Namun peninggalan yang ada saat ini di Senggarang tersebut, bisa menjadi bukti sejarah bahwa kerajaan melayu berasal dari Tanjungpinang.

Upaya Perbaikan Situs Istana Kota Rebah

Beberapa pengunjung yang terlihat dilokasi menyayangkan keadaan bangunan yang terbengkalai tersebut. Untungnya kondidi tersebut tidak akan bertahan lama. Dinas Pariwisata dan Budaya kota Tanjung  Pinang telah merencanakan melakukan pemeliharaan dan perbaikan objek wisata tersebut. Salah satu sarana pendukung yaitu Dermaga yang dibangun melalui Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatik kota Tanjung Pinang. Demikian juga gapura dan tembok. Dan juga tidak tanggung – tangung akan mengerjakan gardu pandang, museum mini, gallery dan home stay. Dengan demikian kawasan Situs Istana Kota Rebah akan bisa menjadi kawasan eko-wisata.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *