Rumah Jil Belanda Tanjung Pinang, Simpan Sejarah Kelam Belenggu Kolonial Tanjung Pinang

Rumah Jil Belanda Tanjung Pinang– Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia menyimpan ragam kekayaan yang membuat iri negara-negara lain. Tentu saja kekayaan itu ada karena karunia dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang menggariskan pena takdir dalam kehidupan manusia. Kekayaan Indonesia bukan hanya terlihat dari potensi sumber daya alam, tapi juga kaya dari sisi historis yang menyimpan cerita unik tersendiri. Keunikan dan kekhasan Indonesia itulah yang membuat banyak wisatawan dari berbagai belahan dunia untuk mengunjunginya.

Salah satu peninggalan sejarah yang berpotensi menjadi tempat wisata adalah Rumah Jil Belanda  di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Kata ‘Jil’ merupakan plesetan dari bahasa Belanda’Jeal’ atau bahasa Inggris‘Jail’ yang memiliki arti yang serupa, yakni penjara.  Kota Tanjungpinang memang terkenal sebagai kota tua yang menyimpan berbagai peninggalan peninggalan tua penuh sejarah termasuk peninggalan dari bangsa yang pernah menguasai negeri ini.

Penjara Buatan Portugis

Meskipun namanya Rumah Jil Belanda, namun sejatinya bangunan penjara tersebut merupakan buatan Portugis pada tahun 1511, beberapa bulan setelah menaklukkan Malaka. Seperti tercatat dalam sejarah, bahwa Portugis setelah masuk ke Indonesia sebagai penjajah langsung melebarkan kekuasaannya ke seluruh Nusantara sehingga fokus pengerjaan penjara ini menjadi teralihkan. Sampai pada masa Portugis meninggalkan Nusantara pun penjara ini belum juga rampung.

Masa Belanda

 Adalah Belanda yang merampungkannya sehingga jadilah orang-orang sekitar menamainya “Rumah Jil Belanda”. Pada masanya, penjara ini menjadi penjara terbesar di sepanjang pantai Timur Sumatra. Bagaimana tidak, ukurannya dapat mencapai 2.100 m persegi dengan bangunan berbentuk E yang tentunya bergaya Eropa. Aksen Eropa yang terletak pada bangunan ini sangat terlihat dari tiang-tiang bangunan yang khas. Menurut catatan sejarah, penjara ini diselesaikan pembangunannya oleh Belanda tahun 1867.

Struktur Bangunan

 Pemandangan unik dari bangunan ini selain tiang tiang khas gaya Eropa, juga terlihat dari pintu masuk bangunan berbetuk lengkung dengan langit-langit beton dan ditopang oleh dua buah tiang seperti gapura. Kerangka atas bangunan menggunakan kayu hitam atau kayu balau yang memang terkenal dari dulu sebagai bahan bangunan. Atapnya telah diganti dengan atap seng. Jumlah ruangan dalam bangunan tercatat sebanyak 21 ruang dengan ukuran yang bervariasi. Ada yang dapat menampung 45 orang, 17 orang, dan ada pula yang hanya bisa dimasuki oleh 2 orang.  Salah satu ruangan terlihat mencolok dan tampak kuno karena konon dahulunya ruangan tersebut digunakan sebagai ruangan hukuman gantung. Diperkirakan ada ratusan tahanan yang pernah digantung di dalam ruangan ini. Adapula ruangan khusus atau sel yang digunakan sebagai tempat tahanan yang keaslian bangunannya masih dipertahankan hingga saat ini.

Sumur Tua

 Selain ruangan ruangan unik, Rumah Jil Belanda ini juga mempunyai sebuah sumur kuno yang airnya belum pernah kering selama ratusan tahun. Sumur kuno itu berdiameter sekitar 2 m. Orang-orang disekitar tempat tersebut menamainya sebagai sumur tujuh tingkat. Tidak ada keterangan pasti mengapa disebut demikian. Yang pasti, sumur tersebut menjadi sumber mata air warga binaan dalam penjara tersebut.

Baca juga: Asri dan Alaminya Obyek Wisata Air Terjun Resun di Lingga, Kep. Riau

Difungsikan Sebagai Rutan

 Rumah Jil Belanda sekarang oleh Kementrian Hukum dan HAM Kepulauan Riau difungsikan sebagai Rutan (Rumah Tahanan) Klas II Tanjungpinang yang merupakan Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) bidang Pemasyarakatan. Tentunya ada banyak tahanan yang ditempatkan dalam penjara tersebut untuk kepentingan penyidikan dan pemeriksaan dalam sidang pengadilan, serta adapula yang menjadi warga binaan.  Daya tampung keseluruhan, maksimal 250 napi. Namun, karena bertambahnya napi kapasitas maksimal tersebut bisa saja terlampaui, tercatat pada 14 Juni 2005 jumlah napi sebanyak 560 orang.

Bangunan penjara tua ini sekarang tercatat sebagai salah satu cagar budaya di Tanjungpinang. Bagi Anda yang ingin mengunjunginya, akses lokasi terbilang cukup mudah karena Rumah Jil (Penjara) Belanda atau Rutan Klas II Tanjungpinang terletak di pusat kota Tanjungpinang tepatnya di Jalan Penjara, Kelurahan Tanjungpinang Barat, Kecamatan Tanjungpinang Barat.

Untuk sementara, akses masuk Rumah Jil Belanda ini tidak dibuka untuk umum. Namun, masih tetap menerima kunjungan untuk pembelajaran dan penelitian sejarah dengan perizinan dari pengelola rutan. Beberapa tahun yang lalu, sempat terbesit kabar bahwa Rumah Jil ini akan dijadikan sebagai tempat wisata. Akan tetapi, hingga saat ini rencana tersebut belum juga terlaksana. Semoga rencana terebut dapat segera terwujud sehingga bertambah lagi minat wisatawan dari dalam negeri maupun mancanegara. Seperti yang dikatakan Founding Father Indonesia, Bung Karno bahwa “Aku tinggalkan Kekayaan alam Indonesia, biar semua negara besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya”

 

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *