Pulau Paku, Bisa Hilang dan Muncul Dengan Sendirinya

Pulau Paku Riau merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah. Sumber-sumber kekayaan tersebut dapat berupa minyak, gas bumi, kekayaan hutan dan perkebunan. Selain itu, Riau memiliki posisi yang strategis, sehingga ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun asing, terutama dari jalur laut.

Berbicara mengenai laut, terdapat cerita unik yang beredar di masyarakat sekitar  tentang sebuah pulau di tengah laut. Tepatnya di kota Tanjungpinang. Namanya adalah Pulau Paku yang selain terkenal karena keindahannya, juga terkenal dengan cerita unik dibaliknya. Apakah itu?

Hilang Timbul

Salah satu hal yang terkanal dari pulau paku adalah ukuran pulau tersebut yang sangat kecil seperti timbunan tanah yang berada ditengah laut. Namun pulau tersebut dapat dilihat saat air laut surut, maka ketika air laut pasang pulau tersebut tenggelam atau hilang.Sebenarnya pulau tersebut berupa delta, yang terbentuk dari pertemuan dua arus laut. Dimana pertemuan arus membawa lumpur dan tanah, yang akhirnya mengendap menjadi daratan.Dimana pertemuan arus membawa lumpur dan tanah, yang akhirnya mengendap menjadi daratan.

Pulau Paku letaknya tidak jauh dari teluk keriting , posisinya berada di tengah-tengah antara pulau Penyengat dan teluk Keriting. Sebagian tubirnya terdiri dari pasir dan sebagian lagi adalah tanah lumpur dan bebatuan kerikil karang baouksit campuran. Kerikil kerikil karang tersebut tampak mengelilingi pulau Paku dan telah dari dulu terkenal sebagai tempat mengasyikkan untuk memancing. Namun, akhir-akhir ini karena rusaknya populasi terumbu karang, maka populasi ikan di tempat ini pun juga turut berkurang.

Asal Mula Pulau Paku

Pulau Paku menyimpan cerita folklor dimasyarakat dengan berbagai versi mengenai awal terbentuknya pulau tersebut. Tapi, cerita yang paling populer adalah bahwa pulau tersebut dulunya merupakan kapal seorang perompak yang bernama Laksamana Jangoi. Konon, Laksamana Jangoi jatuh cinta pada seorang Putri Raja bernama Putri Nilam yang cantik jelita. Ternyata, Putri Nilam membalas cintanya. Namun, Sang Raja tidak menyetujuinya lantaran Laksamana Jangoi adalah seorang perompak. Karena beban perasaan yang teramat sangat berat, maka Putri Nilam jatuh sakit.

Mendengar hal tersebut, Laksamana Jangoi memutuskan untuk menjemput kekasih hatinya dan mulai berlayar ke pelabuhan Tanjungpinang. Ditengah perjalanan, kapal Laksamana Jangoi terhenti karena dihadang oleh kapal kerajaan. Singkat cerita, Laksamana Jangoi mengalahkan pasukan kerajaan. Namun malang, ternyata tersiar kabar bahwa Putri Nilam telah meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya. Mendengar kabar itu, Laksamana Jangoi tidak serta merta percaya. Ia sangat yakin kalau Putri Nilam akan menemuinya dan tetap menunggu di atas kapalnya yang masih berada di tengah laut. Lama kelamaan, kapal tersebut akhirnya berubah menjadi sebuah pulau yang masyarakat sekitar menamainya Pulau Paku.

Saksi Sejarah

Dalam sejarah perang Riau, pulau paku menjadi saksi dan penyebab terkandasnya kapal komando Belanda yang bernama Malaka`s Walvaren yang kemudian hancur ditembak oleh laskar Riau yang terkonsentrasi di teluk keriting pimpinan Raja Haji.
Peristiwa ini berlangsung pada tanggal 6 Jabuari 1784, yang kemudian di jadikan tarikh lahirnya hari jadi kota Tanjungpinang.Karena hal itu, Pulau paku dianggap sebagai lambang kemakmuran bagi penduduk kota Tanjungpinang.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Tentang Festival Tabuik di Pariaman, Sumatera Barat

Berkaitan dengan hal tersebut, konon di atas pulau itu tumbuh sebuah pohon. Jika pohon itu subur maka makmurlah rakyat Tanjungpinang, sebaliknya jika pohon itu tidak subur dan mati maka kehidupan masyarakat Tanjungpinang akan mengalami kesulitan dan kesusahan.

Tradisi Buang Emas

Nyaris tak ada yang tahu awalnya, namun sebagian orang mengenal Pulau Paku sebagai tempat pembuangan emas. Orang-orang sekitar akan melakukan tradisi itu ketika ingin meninggalkan kota Tanjungpinang. Hal itu dianggap sebagian orang yang melakoninya, sebagai aksi buang sial.

Emas yang dibuang ke sekitar perairan di Pulau Paku dianggap sebagai syarat. Agar harta yang selama ini mereka peroleh, tak hilang atau habis di tempat yang baru nanti. Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari pulau tersebut sekaitan dengan tradisi buang emas ini. Murni hanya benar-benar tradisi.

Uniknya, emas-emas yang dibuang di sana tidak bisa diambil orang lain. Diyakini, jika ada yang mengambil emas dari Pulau Paku, ia justru akan mengalami celaka.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *