Prasasti Batu Tulis, Misteri Indah Warisan Leluhur Pajajaran

Prasasti Batu Tulis – Sewaktu sekolah dulu kita sering membaca mengenai Prasasti Batu Tulis yang merupakan sebuah peninggalan sejarah dari zaman kebudayaan Hindu. Bagi masyarakat Bogor, situs ini sangat erat kaitannya dengan Kerajaan Pakuan Pajajaran. Bagi rekan traveler yang belum pernah melihat dari dekat wujud dari prasasti ini, dapat secara langsung menyempatkan untuk berkunjung ke tempat ini.

Lokasi Prasasti Batu Tulis sangat mudah untuk dicapai. Bagi traveler yang menyukai  moda transportasi kereta api bisa mengunakan angkot 02 Merah tujuan Sukasari dan turun di depan Istana Batu Tulis. Sedangkan bagi rekan traveler yang menggunakan bis bisa melanjutkan menggunakan angkot 01-A merah dari Terminal Baranangsiang, lalu dilanjutkan Angkot 02 Merah di depan Ekalokasari Plaza dan kemudian berhenti di depan Istana Batu Tulis.

Akses lokasi

Untuk memasuki lokasi prasasti, rekan traveler disarankan berkunjung antara jam 08.00 hingga 16.00. Namun apabila rekan traveler mendapati cungkup masih terkunci, bisa bertanya kepada orang sekitar letak rumah Ibu Maemunah. Ibu Maemunah sendiri merupakan penjaga dan pengurus prasasti ini sejak tahun 1992.

Situs prasasti batu tulis ini terletak di dalam sebuah bangunan kecil berbentuk rumah yang berdiri di dalam lahan seluas 15 x 17 meter. Bangunan ini berdiri di sisi sebelah kanan Jalan Batu Tulis. Di dalam bangunan tersebut tersimpan 4 buah batu dalam berbagai ukuran dan bentuk seperti dijabarkan di bawah.

Batu Utama

Tanda berupa batu inilah yang merupakan Prasasti Batu Tulis sesungguhnya. Sebuah harta karun peninggalan kerajaan Pajajaran. Ukuran setinggi 151 cm dengan lebar 145 cm ini mempunyai ketebalan 112 cm. Dapat terlihat langsung ketika memasuki bangunan, di permukaannya tertatah 9 baris tulisan dalam bahasa Sunda Kuno.

Batu Kedua

Disebut batu kedua karena memang merupakan batu yang paling menonjol kedua setelah batu utama. Bentuk batu ini menjulang ke atas dengan tinggi sama dengan batu utama. Dalam masyarakat Hindu kuno, batu ini juga disebut batu Lingga. Bentuk batu ini sendiri melambangkan kejantanan kaum laki-laki yang memang banyak ditemukan pada berbagai peninggalan sejarah masa lalu Indonesia.

Baca juga: Curug Ngumpet Keindahan Tersembunyi di Lereng Salak

Batu Ketiga

Batu ini terletak menempel pada batu utama tepatnya di kaki batu utama. Bentuk dari batu ini ceper dan seperti membentuk undakan. Batu ini dianggap terdiri dari 3 buah batu yang sengaja disusun seperti anak tangga. Di batu bagian tengah dapat kita jumpai gambaran tapak kaki, sedangkan pada bagian yang menempel pada batu utama terdapat ceruk seperti cetakan lutut. Hal ini melambangkan posisi seseorang yang sedang berlutut memberikan salam hormat.

Batu keempat

Merupakan batu terakhir yang disimpan di dalam bangunan cungkup. Bentuk batu ini amat sederhana menyerupai sebuah sandaran. Batu ini juga tidak memiliki tulisan khusus maupun ciri yang menonojol daripadanya.

Batu Gigilang

Sebuah batu berbentuk singgasana yang menjadi tempat duduk penobatan raja baru dalam kerajaan Pajajaran. Sayangnya, Batu Gigilang tidak dapat diketemukan sehingga tidak dapat disimpan bersama dengan batu yang lain. Konon ketika pertempuran hebat antara Kerajaan Banten dan Kerajaan Pajajaran meletus, batu ini dirampas oleh tentara Banten. Perampasan itu bertujuan agar tidak ada lagi penobatan raja-raja baru di dalam lingkungan kerajaan Pajajaran.

Susunan batu berbentuk makam

Di perkarangan luar dari bangunan batu tulis ini, juga terdapat satu susunan batu lagi. Batu-batu kecil disusun sedemikian rupa dengan dua tonggak menyerupai nisan. Namun susunan batu ini sebetulnya bukan makam, melainkan tempat kuda ditambatkan.

Prasasti Batu Tulis sendiri dibangun oleh Prabu Surawisesa yang memimpin kerajaan Pajajaran antara tahun 1521-1536. Prasasti ini dibuat pada tahun 1533 sebagai sebuah tanda penghormatan kepada Prabu Siliwangi yang merupakan ayahanda dari Prabu Surawisesa. Prabu Siliwangi merupakan raja yang paling terkenal serta berpengaruh dari kerajaan Pajajaran Pasundan, dan namanya pun diabadikan menjadi nama sebuah stadion di Bandung.

Adalah sebuah ekspedisi VOC pada tahun 1687 yang berhasil menemukan kembali prasasti ini. Namun isi dari prasasti tersebut diterjemahkan dan ditulis ulang oleh sejarawan Bogor bernama Saleh Danasasmita yang meneliti prasasti ini antara tahun 1981-1984.

Berkunjung ke Bogor jangan hanya menikmati kuliner atau menyegarkan pikiran lewat pemandangan alamnya yang indah. Tapi juga mengenal sejarah yag salah satunya tercermin dari Prasasti Batu Tulis ini.(jari adventure – det)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *