Perigi Putri, Situs Warisan UNESCO yang Butuh Sentuhan Pemugaran

Perigi Putri – Keindahan alam Indonesia memang tak ada habisnya meski dibahas terus-menerus. Salah satu kota  yang menyimpan beragam keindahan dan nilai sejarah adalah kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Di Tanjungpinang, terdapat sebuah pulau yang oleh masyarakat sekitar dikenal dengan sebutan Pulau Penyengat. Nah, di Pulau Penyengat inilah banyak keindahan Tanjungpinang tersimpan.

Kata orang, siapa saja yang ke Kepulauan Riau khususnya ke Tanjungpinang atau Batam tapi tak mengunjungi Pulau penyengat maka termasuk pelancong wisata yang merugi. Karena, di sini Anda akan menemui berbagai situs sejarah seperti Perigi Putri, Gudang Mesiu, Tembok Benteng Pertahanan, dan makam-makam Raja.

Pulau Penyengat terbilang kecil dengan ukuran 2.500 meter x 750 meter, sekitar  tiga kilometer dari pusat Kota Tanjungpinang dan hanya memerlukan waktu berkisar 15 menit saja untuk sampai ke sana. Pulau Penyengat menyimpan kekayaan tak ternilai harganya yang pernah dicalonkan ke UNESCO sebagai salah satu Situs Warisan Dunia. Salah satu bagian dari kekayaan itu adalah Perigi Puteri

Perigi Puteri

Dalam tulisan ini, kita akan khusus membahas tentang Perigi Puteri yang merupakan tempat pemandian bagi kaum wanita pada masa Kerajaan Melayu Riau. Bangunan ini merupakan bangunan sumur tua yang dilindungi oleh bangunan berbentuk segi empat dengan kubah pada bagian atapnya. Tidak ada yang tahu pasti kapan dibuatnya, namun berdasarkan cerita para Raja Riau, perigi ini telah ada sejak Kesultanan Lingga Melayu berkuasa di Pulau Penyengat.

Bentuk Bangunan

Perigi Puteri terletak di sebelah Selatan jalan menuju Kompleks Makam Abdurrahman. Perigi ini terletak dalam sebuah bangunan berbentuk persegi empat. Sedangkan bentuk periginya persegi tanpa atap dengan lantai yang terbuat dari tegel (hasil pemugaran). Ukuran perigi yang terdapat dalam bangunan tersebut adalah panjang 4 m dan lebar 3 m. Di sebelah kiri pintu masuk terdapat sebuah ornamen bangunan yang mirip tempat duduk.

            Bagian atas pintu masuk bangunan berbentuk setengah lingkaran dengan berpelipit. Di kiri dan kanannya terdapat relief timbul yang menggambarkan tiang dengan pelipit-pelipit. Atap bangunan berbentuk setengah lingkaran dengan pelipit setengah lingkaran pula.  Pada bagian tengah bangunan terdapat lubang lingkaran sempurna. Sementara di bagian dinding terdapat ornamen hiasan berupa kendi yang menambah nilai estetik dari Perigi Puteri.

Kisah Sejarah

 Seperti yang dituturkan di awal, tidak ada yang tahu pasti kapan Perigi Puteri dibangun. Ada anggapan bahwa Perigi ini dibuat sekitar tahun 1803, bertepatan dengan pertama kali penghunian Pulau Penyengat. Dalam kisahnya, terdapat dua tokoh sentral dibalik terbentuknya Perigi Puteri, yaitu Engku Putri Raja Hamidah dan Sultan Mahmud Syah III.

Engku Putri Raja Hamidah merupakan seorang permaisuri yang memegang Regalia Kerajaan atau alat-alat kebesaran kerajaan. Beliau adalah anak dari Raja Haji Fisabilillah Yang Dipertuan Muda Riau IV atau cucu dari Daeng Celak Yang Dipertuan Muda Riau II. Diceritakan, bahwa Engku Puteri Raja Hamidah dipinang oleh Sultan Mahmud Syah III. Konon, sebagai mahar perkawinan Sultan Mahmud Syah III kepada Engku Putri Raja Hamidah, diberikanlah Pulau Penyengat tersebut. Mulai dari saat itu, Pulau Penyengat dihuni oleh keluarga Kerajaan Lingga Melayu.

Baca juga; Kisah Sejarah Indah di Balik Berdirinya Benteng Tolukko

Untuk memenuhi kebutuhan air untuk mandi dan mencuci para Puteri Kerajaan, maka dibuatlah Perigi yang hingga saat ini dikenal sebagai Perigi Puteri.

Keunikan

Selain dari cerita unik dibaliknya, Perigi Puteri menyimpan beberapa keunikan fisik. Salah satunya adalah mata air yang masih dapat dinikmati oleh masyarakat sekitar. Meski telah beratus ratus tahun sejak dibuat pertama kali, mata air tersebut belum kering hingga sekarang dan dipercaya berkhasiat untuk meyembuhkan penyakit. Jadi, jika Anda memiliki kesempata berkunjung ke Riau, maka sempatkan untuk memperoleh khasiat dari mata air perigi ini yang terletak di Desa Penyengat, Pulau Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Barat, Kepulauan Riau.

Butuh Perawatan

Sayangnya, kondisi fisik dari bangunan dan sumber airnya sangat membutuhkan perawatan yang lebih baik. Pasalnya, dinding bangunan sudah tampak berlumut dan kondisi perigi yang lembab juga terkesan kumuh. Kabarnya, Perigi Puteri ini terakhir dipugar oleh Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Riau tahun 1982/1983. Diharapkan dengan perawatan lebih, Perigi Puteri dapat menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara sehingga keinginan untuk membuat Pulau Penyengat menjadi warisan dunia UNESCO dapat terwujud.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *