Pasola, Atraksi Budaya Sumba, Nusa Tenggara Timur

Pasola – Pernah berwisata ke Pulau Sumba? Bila belum, Anda bisa bepergian ke pulau yang masuk dalam wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur ini dengan menempuh jalur udara selama satu jam perjalanan saja dari Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Tak kalah menarik dengan Bali, Pulau Sumba menawarkan beberapa surga tersembunyi yang menanti untuk dieksplorasi, seperti Bukit Warinding, Desa Adat Rende, Danau Weekuri, Air Terjun Tanggedu, Pantai Nihiwatu dan lain sebagainya. Selain itu, terdapat sebuah atraksi budaya di Pulau Sumba yang cukup unik yang sayang sekali bila dilewatkan begitu saja. Namanya Pasola. Tradisi Pasola ini bahkan berhasil menjadi salah satu nominasi dalam kategori “Atraksi Budaya Terpopuler di Indonesia” baru-baru ini. Penasaran dengan atraksi Pasola di Sumba, NTT ini, temukan ulasannya dalam artikel berikut ini ya! 

Sejarah Pasola

Pasola berasal dari kata “sola” atau “hola” yang artinya sejenis lembing kayu yang digunakan untuk saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu kencang oleh dua kelompok berlawanan. Bila ditambahi dengan imbuhan ‘pa’, pa-sola atau pa-hola berarti permainan. Jadi, Pasola dapat diartikan sebagai sebuah permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang sedang dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan. Meski sekilas nampak menyeramkan, permainan ini sangat disukai masyarakat Pulau Sumba dan biasanya dilakukan dengan perasaan penuh suka cita.

Baca Juga:

Wisatawan Bisa Lakukan Hal Menarik Ini Di Labuan Bajo

Rangkaian adat Pasola

Tradisi Pasola dilakukan oleh masyarakat Sumba sebagai bagian dari rangkaian upacara adat, terutama masyarakat penganut agama asli Sumba yang dikenal dengan sebutan Marapau. Terdapat empat kampung di Sumba yang masih rutin menggelar tradisi Pasola ini, yaitu Kodi, Lamboya, Wonokaka, dan Gaura. Waktu pelaksanaan tradisi Pasola di keempat kampung ini dilakukan secara bergiliran setiap tahunnya.  Tradisi Pasola biasanya dilakukan oleh masyarakat Sumba sebelum acara panen Nyale, yaitu tradisi panen dan berburu cacing laut yang terdampar di tepi pantai Pulau Sumba.

Tradisi Pasola terus dipelihara oleh masyarakat Sumba hingga kini. Yang awalnya berupa adat istiadat, Pesola dalam perkembangannya berubah menjadi sebuah tradisi unik yang mencerminkan ekspresi kegembiraan masyarakat Sumba dalam menyambut Nyale. Pasola yang merupakan kegiatan berupa perang damai yang menyimbolkan pesta suka cita untuk melepas kesedihan dari leluhur mereka pada jaman dahulu kini dibuka untuk umum dan telah menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk mengunjungi Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Sumba.   

Tatacara Pasola

Bagaimana aturan bermainnya? Dalam permainan ini , masyarakat dianjurkan untuk menunggangi kuda secara berkelompok. Dalam hal ini terdapat dua kelompok pemain  yang  nantinya saling berhadapan dan saling menyerang dari arah yang berlawanan. Keseruan permainan  terjadi ketika kedua kelompok saling bertemu dan berusaha untuk saling menjatuhkan dengan cara melemparkan lembing tumpul kepada penunggang kuda yang berada diantara keduanya. Penunggang kuda yang terjatuh karena lemparan lembing tumpul dianggap kalah dalam permainan perang damai ini.

Bagi para pengunjung yang hadir di lokasi permainan, suara derap kaki kuda yang dipacu oleh masing-masing kelompok memunculkan suasana perang adat yang unik untuk ditonton. Meski hanya perang-perangan, tradisi Pasola tak jarang menimbulkan jatuhnya korban. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, darah yang tertumpah dan korban yang terjatuh karena lemparan lembing saat tradisi  berlangsung berasal dari kecurangan korban sendiri yang dilakukan sebelum permainan dimulai. Karena kecurangan inilah, mereka patut dihukum oleh Sang Pencipta. Darah yang tumpah ke tanah pun dianggap sebagai sebuah berkah kesuburan dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk masyarakat Sumba.

Pesta adat Nyale

Setelah tradisi  selesai digelar, masyarakat Sumba akan beramai-ramai menuju pantai untuk melaksanakan pesta adat berikutnya yaitu Nyale. Acara berburu cacing ini juga menjadi kegiatan yang sangat menarik untuk ditonton. Bila berminat, wisatawan diperbolehkan untuk ikut berpartisipasi dan melebur dalam kegembiraan pesta panen Nyale bersama dengan masyarakat setempat. Seru bukan? Nyale yang dihasilkan dari panen tersebut kemudian dijadikan menu makanan pada pesta mereka. Masyarakat Sumba memang sangat menggemari cacing atau Nyale untuk dijadikan konsumsi keseharian. Berani mencoba?

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *