Negeri di Awan Memang Nyata, Desa Wae Rebo Buktinya!

Desa Wae Rebo  – Berlokasi di Kec. Satarmese Barat, Kab. Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Desa Wae Rebo tersembunyi di atas gunung. Ibarat Machu Pichu- nya Indonesia. Pengunjung yang ingin ke Wae Rebo harus rela menempuh jarak 9 km menuju Desa Denge, kemudian baru mendaki gunung hingga ke Wae Rebo.

Rute transportasi

Moda transportasi apa pun yang ingin digunakan, intinya hanya satu yaitu traveller menuju ke Denge atau Dintor, desa terdekat dengan Wae Rebo.

Cara menuju ke Denge adalah memakai bus, rental mobil atau ojek menuju Ruteng. Ada juga angkot dan bemo namun tidak selalu ada setiap hari. Butuh sekitar 5 – 6 jam perjalanan dari Ruteng ke Denge.

Desa Denge atau Dintor

Setelah sukses bisa tiba di desa Denge, ada sebuah homestay Wejang Asih yang bisa disewa untuk bermalam. Berita bagusnya, homestay ini bersebelahan dengan Pusat Informasi dan Balai Pustaka Desa Wae Rebo. Bahkan, pemilik homestay tersebut, Blasus Monta, merupakan orang asli Wae Rebo. Beruntung jika Anda bisa berbincang dan bertanya – tanya.

Tips berwisata atau trekking ke Desa Wae Rebo

Seperti pendakian ke bukit atau pegunungan pada umumnya. Persiapan baik fisik maupun perlengkapan out door sangat mendukung kelancaran perjalanan menuju Desa Wae Rebo. Berikut beberapa tips yang bisa diperhatikan traveller:

– Berangkat lebih awal

Semakin pagi, akan semakin bagus. Karena selain cuaca masih belum terlalu terik, udara segar dan bersih akan menyegarkan badan. Di samping itu, kondisi tanah yang labil juga memerlukan pencahayaan yang baik. Jadi, dianjurkan memilih waktu trekking di siang hari.

Baca juga: 7 Tempat Wisata Fenomenal di Indonesia Harus Dikunjungi Sekali Seumur Hidup

– Kenakan sepatu yang nyaman

Awal perjalanan, kondisi jalur masih cukup nyaman. Luas, lebar dan tidak terlalu curam. Namun, setelah melewati 4 km ke dua. Jalanan mulai menyempit bahkan hanya menyisakan jalan setapak yang dikelilingi pepohonan lebat. Bahkan, tak sedikit jalur yang di sisinya adalah tebing dalam. Jadi, pijakan yang mantap akan sangat didukung dengan pemakaian sepatu yang beralas kasar.

– Stamina prima

Jalanan yang terjal mendaki dan terus menanjak akan menjadi peneman langkah hingga sekitar 2,5 kilometer. Setibanya di Desa Wae Rebo baru jalan yang dilalui bisa agak rata dan mendatar. Jalanan ini jika ditelurusi akan sampai di Desa Wae Rebo.

Sebelum memasuki pintu gerbang masuk desa, terhampar kebun kopi dan jalanan yang landai. Butuh sekitar 3 sampai 4 jam untuk menapaki jalanan ini. Terlebih ketika musim hujan, para pengunjung diharapkan berhati – hati dalam menjejakkan kaki. Karena kondisi tanah akan menjadi licin, berlumpur dan terkadang banyak lintah.

Lewat jalanan ini, barulah pengunjung dapat memasuki pintu gerbang Desa Wae Rebo. Selamat datang di negeri di atas awan.

Menjaga kelestarian Desa Wae Rebo

Bagi masyarakat di Desa Wae Rebo, menjaga kelestarian lingkungan serta rumah adat berjumlah lebih dari 7 berbentuk kerucut merupakan kewajiban.

Kedatangan wisatawan diharapkan tidak hanya untuk berfoto – foto ataupun melihat – lihat, tetapi turut menyumbangkan apa yang dimiliki untuk menjaga bangunan tetap lestari.

Beberapa tahun silam, Desa Wae Rebo pernah diterjang hujan dan angin sehingga ada beberapa bagian atap bangunan yang bocor serta roboh. Untungnya, ada sejumlah wisatawan yang mau membantu baik dari segi tenaga maupun materiil, sehingga bangunan asli suku Wae Rebo ini bisa  dibangun kembali.

Listrik dari pemerintah memang belum menyala di desa ini, tetapi untuk menerangi pemukiman desa di malam hari. Ada sebuah generator yang dinyalakan sampai jam 10 malam.

Para pengunjung yang datang ke desa, nantinya akan meminta izin terlebih dahulu kepada tetua suku. Kemudian memberikan sedikit sumbangsih yang nantinya juga akan dijadikan biaya operasional desa seperti membeli bahan bakar solar.

Biaya dan tarif masuk

Sarana transportasi yang menuju Labuan Bajo Desa Ruteng bisa dijangkau dengan sewa mobil atau travel seharga Rp 70 ribu. Perjalanan akan ditempuh selama 4 hingga 5 jam.

Jika ingin alternatif yang selalu tersedia, adalah ojek yang mematok harga sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu. Untuk urusan bermalam di Wae Rebo, tarif rata – rata Rp 250 ribu per orang.

Kehadiran pengunjung akan disambut dengan Upacara Wae Lu’u yang berguna untuk meminta pada leluhur agar mengizinkan tamu masuk.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *