Museum Taman Prasasti, Wisata Pemakaman Tua di Jakarta

Dari sekian banyak museum yang ada di Jakarta, Museum Taman Prasasti mempunyai keunikan tersendiri. Museum ini tak hanya menyajikan nuansa suram dan sunyi, namun juga menyimpan berbagai kisah kematian para tokoh penting dari berbagai periode sejarah yang berbeda. Sisi misteri museum ini memang tak lepas dari kenyataan bahwa museum yang berlokasi di Jalan Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat ini memang dikhususkan untuk menyimpan berbagai macam batu nisan dan prasasti yang memiliki nilai sejarah tinggi. Ingin tahu lebih jauh tentang Museum Taman Prasasti? Yuk, ikuti penjelasannya berikut ini!

Sejarah Museum Taman Prasasti

Wilayah yang kini ditempati oleh Museum Taman Prasasti ini dulunya dikenal dengan nama Kerkhof Laan dan oleh sebagian masyarakat daerah ini disebut Kebon Jahe Kober (kober=kuburan). Karena keberadaan makam inilah, area seluas 1,2 hektar ini seakan diselimuti oleh nuansa ‘dark’ yang kental. Dark Tourism sendiri merupakan sebuah konsep wisata alternatif yang menyajikan obyek, atraksi dan juga pameran yang bernuansa kematian, duka, penderitaan dan kesuraman.

Asal Muasal Pemakaman

Makam Kebon Jahe Kober sendiri telah ada sejak masa kolonial Belanda, tepatnya sejak tahun 1795. Pada masa itu, Belanda mengalami krisis kebutuhan akan lahan penguburan akibat terjadi suatu wabah yang menewaskan banyak warga Belanda di Batavia. Pada saat itu, kuburan warga Belanda di samping Gereja Baru (Nieuwe Hollandse Kerk, sekarang Museum Wayang) dianggap sudah tidak dapat menampung makam baru. Oleh karena itu, pemerinah Batavia kemudian mencari lahan pemakaman baru yang berada di luar kota dan jauh dari kepadatan penduduk. Maka, dipilihlah wilayah selatan Batavia sebagai tempat pemakaman yang baru bagi warga Belanda yang kemudian dikenal sebagai pemakanan Kebon Jahe Kober.

Lahan pemakaman di luar kota Batavia ini resmi dibuka pada tahun 1795. Kemudian pada 1844, dibuatlah bangunan bergaya Doria dengan pilar-pilar yang kini menjadi pintu masuk areal museum. Pada masa itu, bentuk dan ukuran nisan dapat menunjukkan status sosial seseorang hingga banyak sekali dijumpai nisan-nisan yang megah. Ketika area pemakanan semakin penuh, mulailah dibuat penataan. Sebagian makam dipindahkan oleh keluarga masing-masing, sedangkan prasasti kubur yang masih baik ditata ulang dan dibuatkan zonasi. Sejak 9 Juli 1977, taman makam ini dibuka untuk umum dan kini statusnya menjadi benda cagar budaya yang dilindungi oleh undang-undang.

 

Baca Juga : Mengenal Sejarah Prangko di Museum Prangko Indonesia

 

Pesona Museum Taman Prasasti

Sebagai cagar budaya, taman pemakaman tua bekas kolonial ini memiliki banyak nisan yang berbentuk unik.dan juga mempunyai cerita tersendiri yang dituliskan dengan huruf indah atau kaligrafi. Sumber-sember sejarah tertulis di masa lampau yang terdapat pada nisan-nisan ini berperan sebagai prasasti. Anda dapat menjumpai koleksi prasasti, nisan dan makam di museum ini yang berjumlah lebih dari 1300 buah, baik yang terbuat dari marmer, batu alam maupun perunggu. Selain itu, Anda juga dapat melihat replika kereta jenazah yang dipakai dalam prosesi pemakanan zaman dulu dan juga banyak patung bersayap sebagai personifikasi malaikat dengan berbagai adegan.

Terdapat beberapa makam yang cukup menyita perhatian di Museum Taman Prasasti ini karena makam tersebut adalah makam dari orang-orang ternama,.sebut saja Soe Hok Gie, komandan militer I.I. Perie, Kapten Jas atau Vader Jas, tokoh militer Belanda pada perang Aceh J.H.R. Kohler, dan istri Thomas Stamford Raffles mantan gubernur jendral dari Inggris, yang biasanya memiliki batu nisan yang sangat besar ataupun penuh dengan karangan bunga.

Tarif dan Jam Operasional

Untuk masuk museum, Anda harus membeli tiket seharga Rp 5.000, untuk dewasa, Rp 3.000, untuk mahasiswa dan Rp 2.000, untuk pelajar/anak-anak. Museum ini buka setiap Selasa hingga Minggu mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB dan tutup di hari Senin dan Hari Libur Nasional.

Akses Transportasi

Untuk mencapai lokasi museum, Anda yang menggunakan transportasi umum bisa memilih beberapa cara. Bila menggunakan Commuter Line, Anda turun di Stasiun Tanah Abang dan.lanjutkan dengan naik mikrolet M08 Tanah Abang – Kota kemudian turun di walikota. Bagi Anda yang memilih bus Trans Jakarta, gunakan koridor Blok M – Kota, turun di halte Monas, lanjutkan berjalan kaki.melalui samping Museum Nasional  sampai ke lokasi, atau lanjutkan naik mikrolet M 08 ke arah Kota.dan turun di simpang menuju kantor walikota, lalu jalan lagi sedikit. Lokasi museum persis di sebelah kantor walikota. Anda dapat juga naik Trans Jakarta koridor Lebak Bulus – Harmoni lalu turun di Halte Petojo dan.berjalan kaki ke jalan Tanah Abang 1. Selamat berkunjung ke Museum Taman Prasasti dan menikmati pesona seni pahat.yang mengagumkan dari bangsa kolonial yang masih lestari hingga kini!

(Jari Adventure-Detty)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.