Mengenal Sejarah Kelautan di Museum Bahari Jakarta

Terdapat banyak sekali museum di Jakarta yang tentu saja semuanya sangat menarik untuk dikunjungi. Namun, bila ingin mengenal tentang sejarah kelautan Indonesia,.Anda bisa langsung menuju ke sebuah museum yang berada di Jalan Pasar Ikan No. 1 Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Museum ini dikenal sebagai Museum Bahari yang diresmikan sejak 7 Juli 1977 dan.menjadi salah satu dari delapan museum yang berada di bawah pengawasan dari Dinas Kebudayaan Permuseuman Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Penasaran tentang sejarah ataupun koleksi-koleksi yang dimiliki museum? Simak saja ulasan tentang Museum Bahari berikut ini!

Kawasan Sunda Kelapa telah banyak mengalami perubahan setelah ratusan tahun berlalu. Bahkan namanya pun kini telah berubah menjadi Jakarta. Bangunan yang ada di kawasan ini pun telah banyak mengikuti perubahan zaman. Namun, beberapa bangunan peninggalan kolonial masih berdiri kokoh di sana, seperti galangan kapal VOC yang kini.telah beralih fungsi menjadi restoran dan kafe dan gudang rempah-rempah yang kini menjadi Museum Bahari.

Ya, bangunan yang kini ditempati Museum Bahari memang pada awalnya merupakan gudang yang berfungsi untuk menyimpan,.memilih dan mengepak hasil bumi dan barang dagangan utama VOC yang sangat laris di pasaran Eropa, seperti rempah-rempah, kopi, teh, tembaga, timah, dan tekstil. Bangunan yang berdiri persis di samping muara Sungai Ciliwung ini  mempunyai dua sisi, sisi barat.yang dikenal dengan sebutan Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat (dibangun secara bertahap mulai tahun 1652-1771) dan sisi timur, disebut Oostzijdsche Pakhuizen atau Gudang Timur.

Berdasarkan cerita yang berkembang, VOC membangun gedung ini besamaan dengan selesainya pembangunan Kota Batavia. Bangunanan ini dulunya dikelilingi oleh tembok/benteng yang dipercaya sebagai pembatas Kota Jakarta (city wall).pertama dengan daerah-daerah lama pada zaman Belanda. Sepeninggal Belanda, Jepang memanfaatkan bangunan ini sebagai tempat penyimpanan peralatan militer bagi tentaranya. Tak lama kemudian, Indonesia pun merdeka dan bangunan ini dimanfaatkan oleh PLN dan PTT untuk gudang. Bangunan cagar budaya ini dipugar kembali pada tahun 1976 dan diresmikan sebagai Museum Bahari pada 7 Juli 1977. Setiap perubahan dan renovasi yang dilakukan pada bangunan ini tercatat dalam pintu-pintu masuk museum, yaitu pada 1718, 1719 dan 1771 M.

Museum Bahari menyimpan koleksi yang termasuk banyak dan bermacam-macam. Bila Anda berkunjung ke sini, Anda akan disuguhi berbagai jenis perahu dari seluruh wilayah yang ada di Indonesia yang dilengkapi pula dengan gambar serta foto-foto pelabuhan pada masa lalu. Beberapa koleksi perahu yang dapat Anda jumpai di museum, antara lain Perahu Pinisi dari Bugis Makasar, Perahu Mayang dari pantai utara Pulau Jawa, Perahu Lancang Kuning dari Riau, Perahu Kora-kora dari Maluku, dan Perahu Jukung dari Kalimantan. Selain beragam bentuk, gaya dan jenis perahu tradisional, Anda juga dapat melihat kapal peninggalan Zaman VOC di museum ini. Selain itu terdapat pula bermacam-macam model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Peralatan yang digunakan pelaut pada masa itu juga bisa Anda temui di sini, seperti jangkar, teropong, alat navigasi, model mercusuar dan aneka meriam.

 

Baca Juga : Tambah Ilmu dengan Berlibur ke Museum-Museum di Kota Bandung

 

Tak hanya itu, Museum Bahari juga menyimpan koleksi-koleksi lain yang tak kalah menarik untuk diamati, sebut saja koleksi biota laut, data-data jenis dan sebaran ikan di perairan Indonesia dan aneka perlengkapan serta cerita dan lagu tradisional masyarakat nelayan Nusantara. Museum ini juga memamerkan koleksi tambahan, seperti matra TNI AL, koleksi kartografi, tokoh-tokoh maritim Nusantara, maket Pulau Onrust, dan perjalanan kapal KPM Batavia – Amsterdam.

Terdapat tujuh pembagian ruang tata pamer koleksi dan informasi bila ditinjau secara tematik dalam Museum Bahari ini. Ruangan pertama adalah Ruang Masyarakat Nelayan Indonesia dimana koleksi yang dipamerkan berupa miniatur kapal dan peralatan kenelayanan,.sedangkan Ruangan yang kedua adalah Ruang Teknologi Menangkap Ikan dengan koleksi yang dipamerkan berupa pancing, bubu, dan jaring. Ruang selanjutnya adalah Ruang Teknologi Pembuatan Kapal Tradisional dengan koleksi yang.dipamerkan berupa teknologi dan sentra pembuatan kapal, Ruang Biota Laut yang memiliki koleksi berupa aneka jenis ikan, kerang, tumbuhan laut, dan dugong,.Ruang Pelabuhan Jakarta 1800-2000 (Pusat Perdagangan Dunia) dengan koleksi yang dipamerkan berupa artefak-artefak yang berhubungan dengan kesejarahan pelabuhan di Jakarta pada rentang tersebut, termasuk meriam, keramik, dan benteng, Ruang Navigasi yang memiliki koleksi berupa kompas, teleskop, dan sejumlah alat bantu navigasi, dan yang terakhir adalah Ruang Pelayaran Kapal Uap Indonesia-Eropa yang memiliki koleksi berupa foto-foto dokumentasi mengenai pelayaran kapal uap pertama dari Eropa ke Asia.

Menariknya, tak hanya mengamati koleksi-koleksi kebaharian saja, Anda juga dapat melihat Menara Syahbandar.yang masih berdiri kokoh di sekitar kompleks museum. Menara yang dibangun VOC pada tahun 1839 ini dulunya dipakai untuk mengawasi hilir-mudiknya kapal dagang di Pelabuhan Sunda Kelapa yang berada tak begitu jauh dari lokasi museum. Anda juga dapat menikmati peninggalan bersejarah lain, yaitu Pelabuhan Sunda Kelapa yang lokasinya tak terlalu jauh dari museum.

Berencana untuk segera berkunjung ke Museum Bahari? Datang saja di setiap hari Selasa hingga Minggu mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB, sedangkan pada hari Senin dan juga Hari Libur Nasional museum tutup. Harga tiket masuk untuk dewasa sebesar 5.000 rupiah, mahasiswa sebesar 3.000 rupiah dan pelajar sebesar 2.000 rupiah. Selamat berkunjung! (jari adventure-det)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *