Mengenal Museum Sumpah Pemuda Jakarta

Museum Sumpah Pemuda – Setiap 28 Oktober, Bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak sejarah persatuan pemuda seluruh Indonesia. Janji persatuan seluruh pemuda Indonesia ini diikrarkan pada 28 Oktober 1928 di Gedung Kramat 106, Jakarta Pusat yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda. Ingin tahu lebih jauh tentang Museum Sumpah Pemuda ini? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

Sejarah Museum Sumpah Pemuda

Didirikan berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta pada tahun 1972, Museum Sumpah Pemuda pada mulanya adalah sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kong Liong. Tak hanya sebagai tempat berteduh, gedung ini juga dipergunakan untuk tempat latihan kesenian “Langen Siswo” dan juga diskusi politik. Setelah pembentukan Perhimpunan Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI) pada September 1926, gedung Kramat 106 beralih fungsi sebagai kantor PPPI dan kantor redaksi majalah PPPI, Indonesia Raya. Sejak itu pula, gedung ini sering dimanfaatkan sebagai tempat konggres oleh berbagai organisasi pemuda dan tempat pertemuan para tokoh pemuda Indonesia. Dari sinilah, gedung ini kemudian diberi nama Indonesia Clubgebouw (IC atau gedung pertemuan) pada 1928. Beberapa tokoh nasional yang pernah tinggal di gedung ini adalah Muhammad Yamin, Aboe Hanifah, Amir Sjarifuddin, Soegondo Djojopoespito, Mohammad Tamzil, Assaat dt Moeda,  Setiawan Soejadi, Mangaradja Pintor dan A.K. Gani.

Kongres Pemuda Kedua

Masih di tahun 1928, gedung Kramat 106 dipilih sebagai tempat penyelenggaraan Konggres Pemuda Kedua. Yang berlangsung pada 27 dan 28 Oktober. Berbagai pergerakan mahasiswa terus berpusat di gedung ini hingga 1934. Ketika para penghuni Kramat 106 tak lagi melanjutkan sewa. Kemudian gedung ini pun disewakan sebagai rumah tinggal kepada Pang Tjem Jam mulai 1937 hingga 1951. Dan berubah fungsi lagi menjadi toko bunga dan hotel ketika disewakan kepada Loh Jing Tjoe. Pada 1951 – 1970, gedung Kramat 106 disewa oleh Inspektorat Bea dan Cukai untuk perkantoran.

Gedung yang mempunyai arti penting bagi bangsa Indonesia ini kemudian dijadikan museum oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Dengan nama Gedung Sumpah Pemuda dan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973. Presiden Soeharto kembali meresmikan gedung ini pada 20 Me 1974. Dalam perjalanan sejarahnya, gedung Sumpah Pemuda ini dikelola oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dan dijadikan UPT di lingkungan direktorat Jenderal Kebudayaan dengan nama Museum Sumpah Pemuda. Museum Sumpah Pemuda. Kemudian dikelola oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Pariwisata. Sejak tahun 2000 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai 2012. 

Koleksi dan tata ruang Museum Sumpah Pemuda

Museum Sumpah Pemuda masuk dalam golongan museum khusus karena menyimpan koleksi yang berhubungan dengan Sumpah Pemuda. Pada perhitungan yang dilakukan 2007 lalu, museum ini memiliki keseluruhan koleksi yang berjumlah 2.867 dengan koleksi utama berupa Gedung Kramat 106 yang dipakai sebagai tempat direncanakan dan dilaksanakannya Kongres Pemuda Kedua, 27 – 28 Oktober, 1928. Gedung ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu bangunan utama dan paviliun. Bangunan utama terdiri dari serambi depan, satu ruang tamu, 5 kamar, dan satu ruang terbuka atau ruang rapat, sedangkan paviliun mempunyai 2 kamar.

Baca juga: Museum Wayang, Obyek Wisata Unik di Kawasan Kota Tua Jakarta

Koleksi lain museum antara lain, foto kegiatan organisasi pemuda yang berjumlah sekitar 2.117 buah, bendera organisasi, stempel, biola Wage Rudolf Supratman, patung dada tokoh pemuda, patung tokoh pemuda, perlengkapan pandu, jaket angkatan 1966, perabot, lukisan, vespa, diorama, pahatan marmer, monumen persatuan pemuda, duratran, pewarta IPINDO, naskah statemen perjuangan, statemen perjuangan, dokumen perjuangan 66, piringan hitam, piagam penghargaan Wage Rudolf Supratman, atlas sekolah zaman Belanda, Bintang Mahaputra, dan masih banyak lagi.   

Jam operasional Museum Sumpah Pemuda

Museum Sumpah Pemuda yang juga menjadi benda cagar budaya nasional terbuka untuk umum dan bisa dikunjungi pada hari Selasa hingga Jumat mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB dan setiap Sabtu dan Minggu dari pukul 08.00 hingga 14.00 WIB. Museum akan tutup pada hari Senin dan juga Hari Libur Nasional. Tiket masuk Museum Sumpah Pemuda terbilang cukup murah, yaitu sebesar Rp. 2000,- per orang dan Rp. 1000,- untuk rombongan. Bagi turis asing, mereka dikenakan tarif masuk sebesar Rp. 10.000,-

Bagaimana, murah meriah, bukan? Silakan berkunjung.. (jari adventure-det)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *