Mengenal Masjid Sultan Suriansyah, Salah Satu Masjid Tertua di Kalimantan Selatan

Masjid Sultan Suriansyah – Kota Banjarmasin termasuk salah satu kota yang religius. Lebih dari 96% penduduknya menganut agama Islam, sedangkan sisanya merupakan penganut Budha, Katolik, Kristen dan lainnya. Sebagai kota yang sebagian besar masyarakatnya adalah muslim, Banjarmasin tentu saja memiliki banyak bangunan masjid untuk tempat ibadah. Menurut data yang berhasil dihimpun, jumlah masjid dan musala di Banjarmasin sekitar 1.015 pada tahun 2009 lalu dan tentunya kini jumlahnya bisa jauh lebih besar lagi. Salah satu masjid bersejarah di Kota Banjarmasin adalah Masjid Sultan Suriansyah. Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Kuin ini merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), Raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Tentunya tak hanya berfungsi sebagai rumah ibadah saja, Masjid Sultan Suriansyah ini juga sebagai salah satu tujuan wisata di Banjarmasin. Seperti apa Masjid Sultan Suriansyah ini? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

Lokasi

Masjid Sultan Suriansyah secara administratif terletak di Jalan Kuin Utara, Desa Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Lokasi masjid berada di tepian kiri sungai Kuin dan tak begitu jauh dari Kompleks Makam Sultan Suriansyah. Masjid Sultan Suriansyah memiliki bangunan bergaya arsitektur khas Banjar dengan konstruksi rumah panggung berbahan dasar kayu ulin dan beratap tumpang tiga dan hiasan mustaka pada bagian atapnya.

Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 30×25 meter, memiliki panjang 15,5 meter, lebar 15,70 meter dan tinggi 10 meter. Sebuah mimbar terbuat dari kayu ulin dengan lengkungan yang dihiasi ukiran kaligrafi arab dapat ditemukan di bagian dalam masjid. Terdapat undak-undak berjumlah sembilan yang dihiasi dengan ukiran berupa sulur-suluran, kelopak bunga dan arabes yang distilir di bagian bawah tempat duduk mimbar. Terlihat bagian atap yang terpisah dengan bangunan induk pada mihrab, sedangkan pada daun pintu sebelah barat dan timur terlihat inskripsi Arab berbahasa Melayu yang ditulis dalam sebuah bidang berukuran 0, 5 x 0,5 meter. 

Arsitektur

Masjid Sultan Suriansyah mengadopsi pola ruang yang ada pada Masjid Agung Demak. Pengaruh Demak pada masjid ini dibawa langsung oleh Khatib Dayan bersamaan dengan penyebaran Islam ke daerah ini. Masjid Demak sendiri memiliki arsitektur yang sangat dipengaruhi oleh budaya Jawa Kuno pada masa kerajaan Hindu. Pengaruh arsitektur tersebut terlihat jelas  pada tiga aspek pokok. Yaitu atap meru, ruang keramat (cella) dan tiang guru yang melingkupi ruang cella. Di Jawa dan Bali, banyak sekali dijumpai bangunan yang beratap meru yang menjadi ciri khas atap bangunan suci. Bentuk atap yang bertingkat dan mengecil ke atas merupakan lambang vertikalitas dan orientasi kekuasaan ke atas. Biasanya bangunan yang dianggap paling suci dan penting mempunyai tingkat atap paling tinggi dan paling banyak.

Ciri atap meru ini juga ditemui pada Masjid Sultan Suriansyah. Bentuk atap yang besar dan dominan seolah memberi kesan ruang dibawahnya merupakan ruang suci (keramat) yang biasa disebut cella. Tiang guru adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang cella (ruang keramat). Dengan posisi ruang cella di depan ruang mihrab menandakan bahwa cella lebih penting dari mihrab itu sendiri.

Kearifan Lokal

Masjid Sultan Suriansyah berada di sebuah kawasan yang dikenal sebagai Banjar Lama yang merupakan situs ibukota Kesultanan Banjar pertama. Masjid ini dibangun tak lama setelah Pangeran Samudera memeluk agama Islam dan berganti nama menjadi Sultan Suriansyah. Sebelum pindah agama,  Pangeran Samudera berhasil menghimpun potensi penduduk, mengangkat kehidupan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat di wilayah Muara Barito yang merupakan daerah kekuasannya. Kabar ini terdengar sampai ke telinga Pangeran Tumenggung yang kemudian mengutus bala tentaranya untuk menyerbu wilayah kekuasaan Pangeran Samudera di Marabahan. Peperangan pun tak dapat dihindarkan dan Pangeran Samudera pun harus mengaku kalah. Namun, kemudian datang bantuan dari Kerajaan Demak hingga Pangeran Samudera pun akhirnya dapat memenangkan peperangan. Karena janji yang sudah dibuat dengan Demak, Pangeran Samudera kemudian beralih memeluk agama Islam.

Dipelopori oleh Kodam X Lambung Mangkurat, Masjid Sultan Suriansyah pertama kali dipugar pada tahun 1976. Pemugaran kedua dilakukan pada tahun 1999 yang dipelopori oleh pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Sebagai peninggalan sejarah, masjid ini mempunyai juru peliharan yang bertugas membersihkan dan merawat masjid.

Riwayat Hidup Sultan Banjar

Menurut sejarah, Sultan Suriansyah muda merupakan satu-satunya putra mahkota yang diangkat sebagai Sultan ketika berusia 10 tahun. Pada saat itu, kakek beliau yang bernama, Maha Sukmaraja, memilih keputusan yang sangat kontroversial, yaitu hendak menobatkan cucu beliau atau Sultan Suriansyah sebagai penerus tahta setelah ia mangkat. Padahal, umumnya kesultanan, garis penerus kerajaan adalah anak-anak kandung yang laki-laki.

Tak pelak, keputusan ini pun menimbulkan kebencian di dalam istana. Perebutan kekuasaan dan hendak mengkudeta keputusan sang Sultan. Melihat kondisi yang tidak aman, beberapa pengikut setia dan pengasuh Sultan Suriansyah akhirnya mencoba menyelamatkan jiwa Sultan Suriansyah muda dengan membawanya ke luar istana. Ia menempuh kehidupan sebagai seorang nelayan biasa untuk menyamar siapa jati diri yang sebenarnya.

Namun, meski mencoba bersembunyi, sikap dan sifat ‘kepemimpinan’ Sultan Suriansyah tidak mampu menutupi garis darah biru yang ia miliki secara alamiah. Ia akhirnya mampu mendirikan sebuah kerajaan baru yang makmur dengan nama Kerajaan Banjar.

Baca juga: Soto Banjar, Kuliner Terpopuler Asal Kalimantan Selatan

Kemakmuran Kerajaan Banjar lambat-laun terdengar ke negeri-negeri sebelah dari mulut ke mulut, hingga sampai ke Kesultanan Daha tempat di mana ia dilahirkan. Kerajaan Daha tidak senang dengan berdirinya Kerajaan Banjar. Ketidak-sukaan ini berujung dengan ancaman peperangan jika Kerajaan Banjar tetap berdiri.

Sultan Suriansyah yang mendengar ancaman ini tidak tinggal diam. Ia melancarkan taktik yang sangat jenius, yaitu mencari sekutu di tanah Jawa, yang saat itu dikuasai oleh Kerajaan Demak dengan pimpinan Raden Patah. Kerajaan Demak dengan senang hati akan memberikan bala-bantuan, tetapi mengajukan syarat agar Sultan Suriansyah mau memeluk agama Islam yang saat itu sedang berkembang pesat di tanah Jawa.

Peperangan ini pun berakhir bahagia. Dengan pertemuan antara Sultan Suriansyah dengan kerabat dari Kerajaan Daha, mereka tidak jadi berperang karena masih memiliki satu darah yang sama. Justru antara Kerajaan Daha dan Kerajaan Banjar bersatu dan membentuk pemerintahan baru di bawah pimpinan Sultan Suriansyah yang mendapat gelar Sultan Samudera.

Belum ke Banjar jika Tak ke Masjid Sultan Suriansyah

Sebagai ikon kota Banjarmasin di Kalimantan Selatan, Masjid Sultan Suriansyah hampir tak pernah sepi pengunjung. Setiap pelancong yang mampir ke kota, pasti akan menyempatkan diri untuk melihat kemegahan Masjid pertama di kota Banjarmasin ini.

Dengan arsitektur yang sangat megah di masa itu, Masjid Sultan Suriansyah sangat layak untuk menjadi kebanggaan warga kota Banjarmasin hingga kini.

Jadi, jika Anda ke kota Banjarmasin, jangan lupa untuk menyempatkan diri singgah ke Masjid Sultan Suriansyah ya. (jari adventure-det)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *