Megahnya Masjid Agung Al Karomah Martapura di Kalimantan Selatan

Masjid Agung Al Karomah MartapuraAnda termasuk segelintir orang yang belum kenal Martapura? Ibukota dari Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan ini merupakan penghasil intan dan  dikenal secara luas karena keberadaan pasar intan yang ada di sana. Pasar intan ini bahkan telah menjadi salah satu ikon kota. Selain itu, Martapura juga dikenal sebagai kota yang religius. Masyarakat keturunan Arab mendiami sebagian wilayah di kota ini hingga wajar bila di sana terdapat masjid yang sangat megah dan mewah, yaitu Masjid Agung Al Karomah Martapura. Masjid yang berlokasi di Jl. Ahmad Yani ini merupakan masjid terbesar di Kalimantan Selatan. Terletak di jalan nasional antarkota, Masjid Agung Al Karomah Martapura merupakan landmark dan juga pusat kegiatan religi di wilayah setempat. Seperti apa sejarah berdirinya Masjid Agung Al Karomah Martapura serta bentuk arsitekturnya yang sudah mengalami perubahan beberapa kali ini? Ayo, temukan jawabannya dalam artikel berikut ini!

Masa emas kerajaan Banjar

Pada masa kerajaan Banjar, selain sebagai tempat peribadatan, dakwah Islamiyah dan integrasi umat Islam, masjid juga berfungsi sebagai markas dan benteng pertahanan pada era penjajahan melawan Belanda. Setelah Masjid  Martapura dibakar, tercetuslah ide untuk membangun masjid yang lebih besar. Maka, Masjid Agung Al Karomah Martapura, yang dulunya bernama Masjid Jami’ Martapura, pun mulai dibangun pada tahun 1280 Hijriah atau 1863 Masehi. Akhirnya, Masjid Jami’ Martapura diresmikan menjadi Masjid Agung Al Karomah Martapura tepat pada Senin 12 Rabiul Awal 1415 Hijriah dalam perayaan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.

Inspirasi desain Masjid Agung Al Karomah Martapura

Pada awal berdirinya, Masjid Agung Al Karomah Martapura memiliki bentuk bangunan yang terinspirasi dari bentuk bangunan Masjid Agung Demak buatan Sunan Kalijaga. Pada saat itu, pembangunan Masjid Agung Al Karomah Martapura terbilang sangat unik karena mencontoh dari miniatur yang dibawa oleh utusan desa. Miniatur itu sudah sangat rapi dan mudah diaplikasikan dalam bentuk bangunan yang sebenarnya karena sudah menggunakan skala.

Bahan bangunan Masjid Agung Al Karomah Martapura

Pembangunan Masjid Jami’ ditandai dengan pencarian kayu ulin hingga sampai ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah. Kayu Ulin ini dipergunakan sebagai tiang soko guru. Terdapat empat buah tiang soko guru dalam masjid ini yang berfungsi sebagai pelingkup ruang cella atau ruang keramat yang terletak tepat di depan ruang mihrab. Keempat tiang itu masih berdiri kokoh hingga sekarang. Keempat tiang ini juga tampak berbeda dengan tiang lainnya yang tersebar dalam masjid karena keberadaan untaian bunga pada bagian badan.

Tak hanya tiang soko guru, terdapat beberapa peninggalan sejarah lainnya pada detail bangunan masjid yang masih dipergunakan hingga saat ini. Sebut saja mimbar berbentuk panggung yang memiliki elemen hias ukiran berupa untai kembang. Mimbar yang juga dilengkapi tangga dan dirancang oleh H.M Musyafa ini sudah berusia lebih dari 100 tahun.

Seni arsitektur modern Eropa dan Timur Tengah

Sampai saat ini, bentuk bangunan Masjid Agung Al Karomah Martapura telah mengalami renovasi besar sebanyak tiga kali. Renovasi terakhir berlangsung pada 2004 lalu. Gaya modern Eropa, Timur Tengah, dan Nusantara dalam hal ini gaya tradisional Demak, banyak menginspirasi bentuk bangunan Masjid Agung Al Karomah Martapura yang kini terlihat lebih megah. Gaya Timur Tengah terlihat jelas dari atap kubah bawang pada masjid yang dulunya berbentuk  kerucut dengan konstruksi beratap tumpang, bergaya Masjid tradisional Banjar, sedangkan untuk gaya Eropa terlihat pada ornament bergaya Belanda yang ditemui dalam masjid. Sedangkan pengaruh Demak jelas terlihat pada pola ruang dalam masjid yang menggunakan empat tiang ulin atau disebut juga tiang guru empat.  Pembangunan masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Banjar ini menelan biaya yang cukup besar, yaitu sekitar 27 milyar rupiah. 

Baca juga: Soto Banjar, Kuliner Terpopuler Asal Kalimantan Selatan

Sayang sekali bila sudah berada di Martapura tanpa melihat Masjid Agung Al Karomah Martapura ini. Selain beribadah, Anda dapat melihat-lihat peninggalan sejarah yang masih tersisa pada masjid ini. Termasuk wisata religi yang murah meriah bukan karena Anda tak perlu membayar sepeserpun untuk memasuki dan menikmati kemegahan masjid ini. Masih belum puas dengan wisata religi di masjid ini? Anda dapat melanjutkan safari ke Masjid Jami Syekh Abdul Hamid Abulung yang juga berada di Martapura, Banjar. Penjelasan lebih jauh tentang Masjid Jami Syekh Abdul Hamid Abulung bisa Anda temukan di artikel selanjutnya.

Nah, sebelum Anda menyaksikan kemegahan dan keunikan Masjid Agung Al Karomah Martapura ini, periksa tips-tips berwisata religi ke masjid berikut ya…

Mengorek informasi lebih banyak tentang masjid

Sebelum datang ke suatu tempat wisata mana pun, termasuk wisata religi berupa masjid, ada baiknya Anda mencari informasi tentang masjid tersebut secara online atau dari masyarakat lokal. Biasanya, dari mulut orang yang berada di sekitar kawasan masjid, akan muncul cerita-cerita unik yang belum pernah Anda dengar sebelumnya. Ini akan menjadi bahan cerita untuk oleh-oleh menarik bagi keluarga atau teman di tempat asal.

Menutup aurat dan berpakaian tertutup

Selayaknya tempat ibadah agama lain, jika berwisata ke Candi Borobudur, Candi Cetho ataupun Gereja-gereja di Eropa, Anda pasti diminta untuk memakai busana yang sopan alias tidak terlalu membuka kulit/aurat. Disarankan untuk membawa selendang ataupun syal untuk menutupi bagian tubuh atas, dan memakai busana yang tertutup di bagian kaki.

Menaati tata tertib di kawasan wisata religi

Ibarat pepatah ‘lain ladang lain belalang’ maka setiap tempat wisata pasti juga memiliki peraturan atau tata tertib tersendiri. Para pengunjung disarankan untuk selalu menaati peraturan yang berlaku semisal, tidak boleh membuat kegaduhan, mematikan handphone, dan sebagainya.

Meminta permisi jika ingin memotret

Ada ruangan khusus yang tidak diperkenankan mengambil gambar oleh para pengunjung dikarenakan demi menjaga kualitas barang-barang yang tersimpan di dalam masjid. Namun, jika Anda ingin mengambil gambar, lebih baik hindari memakai blitz dan meminta izin terlebih dahulu kepada petugas/takmir masjid.

Menjaga ketenangan

Di dalam masjid kemungkinan besar banyak orang yang sedang melakukan ibadah dengan khusyuk, sebaiknya tetap jaga ketenangan dan bicara pelan-pelan seperlunya. Ada baiknya untuk tidak membawa si buah hati yang mudah rewel atau sedang tidak mood masuk ke dalam masjid, agar tidak mengganggu ibadah orang lain.

Menjaga kebersihan

Masjid sebagai tempat ibadah, harus selalu suci dan bersih. Oleh karena itu, sebelum memasuki masjid sebaiknya Anda membersihkan kaki ataupun berwudlu sekalian bagi yang muslim. Jangan sampai niat untuk berwisata religi, malah merugikan orang lain ataupun petugas masjid yang harus mengepel karena kecerobohan kita saat tidak sengaja membuat lantai kotor. Buang sampah di tempatnya, jika Anda sedang menstruasi (bagi wanita) harus benar-benar yakin untuk selalu menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

***

Bagi umat muslim, masjid tidak hanya sekadar tempat beribadah. Melainkan bisa digunakan untuk sarana berdakwah, berdiskusi, belajar tentang islam. Serta menyatukan umat, bahkan hingga merileksasi pikiran dan tubuh.

Dengan berwisata religi ke masjid, Anda tidak hanya mengusir stres dari pikiran. Namun juga menguatkan spiritualitas dan mentalitas agar bisa memperbaiki diri dan menjadi orang yang lebih baik di hari esok. Selamat berwisata religi ke Masjid Agung Al Karomah Martapura ya!   (jari adventure-det)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *