Masjid Keramat Pelajau, Tempat Wisata Religi di Hulu Sungai Tengah, Kalsel

Masjid Keramat Pelajau – Salah satu provinsi di Kalimantan yang sangat kuat aspek religiusnya adalah Kalimantan Selatan. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan kerajaan Islam zaman dulu yang tumbuh subur di sana, salah satunya adalah Kerajaan Banjar.

Di Provinsi ini, tepatnya di Kabupaten Banjar, juga terdapat Kota Serambi Makkah 2, yaitu Martapura, dimana terdapat banyak sekali santri yang hilir mudik untuk menuntut ilmu agama. Tak hanya itu, Kalimantan Selatan banyak memiliki masjid besar dan bersejarah yang tersebar hampir di seluruh wilayah.

Wisata Religi

Masjid-masjid ini tak hanya dimanfaatkan sebagai tempat ibadah, namun sebagian diantaranya bahkan sangat menarik untuk dikunjungi sebagai tempat wisata. Sebut saja Masjid Sultan Suriansyah di Banjarmasin, Masjid Agung Al Karomah Martapura di Banjar, Masjid Keramat Banua Halat di Tapin, Masjid Pusaka Banua Lawas di Tabalong dan lain sebagainya. Begitu pula dengan sebuah masjid yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini.

Namanya, Masjid Keramat Pelajau. Tradisi yang terus dijalankan di sana membuat masjid ini sangat cocok sebagai tempat wisata diluar fungsi utamanya untuk beribadah. Menariknya lagi, Masjid Keramat Pelajau ini termasuk salah satu masjid tertua di Kalimantan Selatan. Bagaimana sejarah berdirinya masjid ini  dan seperti apa tradisi yang masih terus dikembangkan di sana? Ikuti ulasannya berikut ini!

Lokasi

Masjid Keramat Pelajau tepatnya berlokasi di desa Palajau, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Dari ibukota Barabai, masjid ini berjarak sekitar 3 hingga 5 km ke arah Barat Laut. Masjid ini memiliki luas 400 meter persegi dan dikelola masyarakat secara swadaya.

Keberadaan masjid ini sangat berarti bagi masyarakat setempat yang agamis dan taat beribadah karena Masjid Keramat Pelajau menjadi bukti dari perjuangan melawan penjajah Belanda pada zaman dulu khususnya di wilayah Kalimantan Selatan. Tak hanya sebagai tempat ibadah mahdhoh, masjid ini juga menjadi pusat perkembangan peradaban umat Islam di Barabai, dan juga Kalimantan Selatan. 

Sarana perjuangan Islam di masa lampau

Bagi para pejuang yang beragama Islam, Masjid Keramat Pelajau menjadi tempat untuk berdiskusi guna menyusun strategi melawan penjajag kolonial Belanda sekaligus menebalkan keimanan kepada Alla SWT. Selain itu, Masjid Keramat Pelajau juga menjadi wujud bersatunya para Wali Songo yang saat itu sudah mampu menyebarkan agama Islam hingga ke pelosok Nusantara meskipun belum ada sarana transportasi modern.

Sejarah

Masjid Keramat Pelajau didirikan pada abad ke-14. Menurut buku “Sejarah Mesjid Keramat Pelajau Barabai” yang ditulis oleh Meldy Muzada Elfa, sejarah berdirinya Masjid Keramat berawal seabad sebelumnya dari sebuah desa yang bernama  Kampung Pelajau dengan sungai yang dimilikinya, yaitu Sungai Palayarum.

Palayarum sendiri merupakan sebuah nama yang diambil dari sungai di Pegunungan Meratus. Air di sungai ini mengalir dari pegunungan Meratus melalui sungai Batang Alai dan menjulur ke sungai Buluh sampai ke Negara dan terus ke Banjarmasin yang merupakan pusat dari Kerajaan Banjar.

Dulunya, Sungai Palayarum menjadi pusat urat nadi perhubungan yang dapat dilayari oleh pedagang. Sambil berdagang, para tokoh agama berdakwah menyiarkan agama Islam di sebuah tempat di tepi sungai yang disebut Pelajau. Di tempat ini tumbuh sebatang pohon kayu besar yang rimbun dan dibawahnya dibangun tempat peristirahatan yang sangat sederhana.

Baca juga; Pulau Sebuku, Nusa Elok di Kotabaru, Kalimantan Selatan

Pohon kayu tersebut kemudian dikenal dengan nama Pelajau. Namun sayangnya, sungai ini telah mati dan hanya tinggal kenangan. Sungai ini kini banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon rumbia. Hingga kini pegunungan Meratus masih sering dijadikan tempat penelitian oleh para sejarawan dan budayawan asli Banjar untuk menggali lebih dalam informasi dan seputar bukti-bukti sejarah yang ditinggalkan oleh nenek moyang Banjar.

Kaitan dengan Kerajaan Demak

Seabad kemudian (sekitar abad 14), Raden Fatah dari Kerajaan Demak mengirim utusan yang datang bersama dengan Pangeran dari Kerajaan Banjar. Utusan Demak ini berjumlah 7 orang, diantaranya adalah Malik Ibrahim dan Rangga Ali Basah. Mereka menyusuri sungai Negara dari Kuin dan terus melaju ke Sungai Buluh dan Ilir Pemangkih hingga sampai ke Sungai Palayarum, Pelajau. Di bawah pohon Pelajau inilah kemudian dibangun masjid.

Pembangunan Masjid Keramat Pelajau

Pembangunan Masjid Keramat Pelajau ini berbarengan dengan program dari pengembangan ajaran Islam Kerajaan Demak Bintaro yang membangun sembilan masjid. Termasuk masjid yang di Pelajau dengan bentuk yang serupa dengan masjid-masjid yang ada di Demak. Dari catatan Sejarah, masjid Pelajau merupakan masjid kelima dari sembilan masjid yang dibangun oleh Kerajaan Islam Demak.

Bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Masjid Keramat Pelajau adalah bagian dari sembilan masjid atau sesuai dengan jumlah Wali Songo. Terdapat pada tiang bangunan dimana bisa ditemui tulisan pahat dari huruf Jawa di tiang menara (soko guru) yang berupa tempat, nama hari dan waktu pendirian masjid.

Pada tiang itu pula dapat ditemukan lubang pahatan berbentuk panjang. Yang konon dikenal sebagai tempat pemyimpanan catatan-catatan dan silsilah orang-orang yang terlibat dalam pembangunan masjid.

Raden Fatah di Pelajau

Bukti yang berupa gumpalan rambut yang diduga milik Raden Fatah juga dapat ditemukan di sana. Bersama sebilah keris yang berelok sembilan dan sebuah tombak skil segi tiga dengan ukiran sembilan Wali. Hal ini bisa menjadi salah satu bukti nyata bahwa pada zaman dahulu saja, para wali songo sudah mampu menyebarkan agama Islam hingga ke seluruh pelosok negeri. Termasuk hingga seberang pulau demi menegakkan tiang agama.

Perbedaan letak geografis, jarak serta minimnya sarana dan pra-sarana pada saat itu untuk membangun sebuah masjid. Tidak lantas menyurutkan semangat para wali Allah SWT untuk mendirikan sebuah tempat ibadah yang masih tegak dan kokoh berdiri hingga di masa modern. Sepanjang waktu dan setiap hari selalu menjadi tempat ibadah. Sekaligus tempat berdiskusi untuk kemaslahatan umat Islam di Kalimantan Selatan.

Keunikan tradisi Batumbang

Sebagai tempat wisata yang unik, Masjid Keramat Pelajau memiliki sebuah tradisi yang dikenal dengan nama “Batumbang” yang dirayakan setiap tahunnya. Terutama saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Dalam proses Batumbang ini, para remaja akan membawa bayi yang baru lahir hingga berumur sekitar satu tahun ke masjid. Bayi-bayi ini kemudian diangkat dan kakinya dijejakkan ke atas tangga mimbar tempat khatib berkhutbah. Setelah bayi-bayi ini dikembalikan ke orang tua masing-masing. Acara dilanjutkan dengan menghambur-hamburkan uang receh untuk diperebutkan anak-anak.

Setelah itu, kaum masjid akan memimpin sholat dan doa yang diikuti oleh keluarga bayi dan seluruh warga yang mengikuti prosesi tersebut. Acara ditutup dengan pembagian kue apem ke seluruh hadirin untuk dimakan bersama-sama. Acara ini digelar dengan harapan Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat dan berkah-Nya kepada seluruh umat. Juga memberikan sedekah berupa makanan dan uang receh kepada anak-anak untuk saling berbagi kebahagiaan di momen hari Raya Idul Adha.

Cukup menarik sebagai tempat wisata alternatif keluarga bukan? Bila Anda berkesempatan berkunjung ke Kalimantan Selatan jangan sampai melewatkan datang ke Masjid Keramat Pelajau ini ya… (jari adventure-det)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.