Makam Raja Haji Fisabilillah, Penghormatan Terakhir Tuan Muda Riau Abad Ke 18

Makam Raja Haji Fisabilillah  – Sewaktu kita berada di bangku Sekolah Dasar mungkin kita telah banayk mengenal pahlawan-pahlawan nasional yang jumlahnya tidak bisa dihitung dengan jari-jari kita . Namun kali ini saya akan membahas tentang Raja Haji Fisabilillah adalah salah satu pahlawan nasional dari Kerajaan Melayu. Beliau mendapatkan julukan Dipertuan Muda Riau-Lingga-Johor-Pahang IV (YDM) Kerajaan Melayu Riau pada tahun 1777.

Masa kecil Raja Haji Fisabilillah

Beliau dilahirkan di Kota Lama, Ulusungai, Riau, 1725 – meninggal di Kampung Ketapang, Melaka, Malaysia, 18 Juni1784dan beliau adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Beliau dimakamkan di Pulau Penyengat Inderasakti, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Raja Haji Fisabililah merupakan adik dari Sultan Selangor pertama, Sultan Salehuddin dan paman sultan Selangor kedua, Sultan Ibrahim.

Namanya diabadikan dalam nama bandar udara di Tanjung Pinang, Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah, salah satu masjid yang ada di Selangor, Malaysia, yaitu kota Cyberjaya dinamakan Masjid Raja Haji Fisabililah. Melalui Keputusan Presiden RI No. 072/TK/1997 tanggal 11 Agustus 1997, Raja Haji Fisabilillah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Sepak terjang  Raja Haji Fisabilillah

Raja Haji Fisabililah atau dikenal juga sebagai Raja Haji marhum Teluk Ketapang adalah (Raja) Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga-Johor-Pahang IV. Beliau terkenal dalam melawan pemerintahan Belanda dan berhasil membangun pulau Biram Dewa di sungai Riau Lama.

Karena keberaniannya, Raja Haji Fisabililah juga dijuluki (dipanggil) sebagai Pangeran Sutawijaya (Panembahan Senopati) di Jambi. Beliau gugur pada saat melakukan penyerangan pangkalan maritim Belanda di Teluk Ketapang (Melaka) pada tahun 1784. Jadi singkat ceritanya seperti ini Raja Haji memerintah kerajaan Melayu, Riau.

Di tangannya, Kerajaan Melayu berkembang cukup baik. Beliau juga berjuang untuk melawan Belanda. pada tahun 1780, Kerajaan Melayu Riau telah mengadakan perjanjian damai dengan Belanda. Namun karena Belanda melanggar perjanjian tersebut, maka peperangan di antara keduanya pun tidak dapat dihindari. Raja Haji kemudian bekerja sama dengan Sultan Selangor untuk memerangi Belanda di Malaka. Untuk menghadapi pasukan gabungan tersebut, Belanda mendatangkan pasukannya dari Pulau jawa dalam jumlah yang besar.

Pertempuran Malaka dan Belanda

Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya bahwa pada tahun 1784, terjadilah pertempuran hebat antara rakyat Malaka dengan Belanda. Raja Haji sendiri yang memimpin pasukannya di Teluk Ketapang ( Melaka).  Jenazahnya dipindahkan dari makam di Melaka (Malaysia) ke Pemakaman Raja-Raja Melayu Riau di Pulau Penyengat oleh Raja Ja’afar (putra mahkotanya pada saat memerintah sebagai Yang Dipertuan Muda). 

Baca juga: Asri dan Alaminya Obyek Wisata Air Terjun Resun di Lingga, Kep. Riau

Jenazahnya dipindahkan dari makam di Melaka (Malaysia) ke Pulau Penyengat oleh Raja Ja’afar (putra mahkotanya pada saat memerintah sebagai Yang Dipertuan Muda).Atas Jasa – jasanya membela Indonesia, Raja Haji diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No 072/TK/1887. Namanya juga diabadikan sebagai nama bandar udara di Tanjung Pinang, Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah.

Makam Raja Haji Fisabilillah

 Di Pulau Penyengat Indera Sakti, Kepulauan Riau, terdapat sebuah makam seorang tokoh yang sangat termasyhur tidak hanya di wilayah Riau saja, melainkan juga hampir di seluruh penjuru Nusantara, yakni Makam Raja Haji Fisabilillah. Bahkan Pulau tempat makam tersebut bernaung, Penyengat, selalu dikait-kaitkan dengan nama besar sang pujangga besar Nusantara tersebut.

Oleh masyarakat Melayu, khususnya di semenanjung Malaka, nama ini dianggap sebagai pahlawan besar yang layak diagungkan dan dimonumenkan. Beliau dikenal juga sebagai Raja Api. Disebelah komplek makam Raja Haji Fisabilillah juga terdapat makam Habib Syech, ulama terkenal semasa kerajaan Riau.

Mengunjungi Pulau Penyengat sungguh dapat membawa alam imajinasi wisatawan pada kebesaran Kerajaan Riau-Lingga di masa lalu. Bayangkan saja, di pulau yang hanya memiliki lebar sekitar satu kilometer dan panjang sekitar dua sampai tiga kilometer ini, terdapat puluhan situs bersejarah peninggalan sultan, entah itu berbentuk istana, gedung mahkamah, tempat mandi, gedung tabib, masjid, ataupun makam-termasuk di dalamnya Makam Raja Ali Haji sendiri. Beragam situs bersejarah yang menyebar di pulau ini seolah terangkai dalam satu kontinum yang menggambarkan kebesaran sejarah kerajaan Malayu Riau.Komplek makam ini terletak diatas bukit di selatan pulau penyengat.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *