Makam Penghulu Rasyid di Banua Lawas, Kalsel

Makam Penghulu Rasyid Bagi penggemar wisata religi, Kalimantan Selatan adalah salah satu surganya karena banyak sekali makam tokoh-tokoh agama maupun pahlawan juga masjid-masjid keramat tersebar di wilayah yang akrab dengan julukan Bumi Lambung Mangkurat ini.

Salah satu makam pejuang Banjar yang sering dikunjungi masyarakat adalah Makam Penghulu Rasyid yang berada di wilayah desa Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Lantas siapakah sebenarnya Penghulu Rasyid ini dan seperti apa sepak terjangnya dalam peperangan Banjar hingga sosoknya begitu dikagumi? Simak ulasannya berikut ini ya! Siapa tahu Anda bakal tertarik untuk melakukan wisata religi ke makam beliau.

Riwayat Hidup

Makam Penghulu Rasyid merupakan makam dari salah satu dari sejumlah ulama Islam yang bangkit berjuang untuk melawan penjajah kolonial Belanda dalam perang Banjar (1859-1905). Penghulu Rasyid sendiri adalah putra asli Banjar yang lahir di desa Telaga Itar pada tahun 1815. Ayahnya bernama Ma’ali, sedangkan ibunya bernama Imur. Ia memiliki seorang kakak yang bernama Andi bin Kulah. Rasyid masih satu keturunan dengan Lambung Mangkurat, yaitu berasal dari keluarga Srilanka (Asia Selatan). Versi lain menyebutkan bahwa Penghulu Rasyid lahir di Desa Habau, Kecamatan Banua Lawas, dan tempat tinggalnya bahkan dijadikan Makam Kuburan Tuan Guru Haji Arif Habau.

Masa kecil Penghulu Rasyid

Sejak kecil, Rasyid dikenal sebagai seorang pemuda yang taat beribadah dan patuh terhadap ajaran-ajaran Islam. Ia juga sangat berbakti kepada kedua orangtuanya. Ia mendapatkan gembelengan ilmu agama dari orang tuanya sebelum berguru kepada beberapa ulama ternama, seperti Tuan Guru Haji Bahruddin dan Tuan Guru Haji Abdussamad. Rasyid melengkapi kepiawaian ilmu agamanya dengan belajar ilmu bela diri dengan sangat gigih. Dengan pengetahuan agama yang mumpuni serta amaliah yang kuat, Rasyid pun dijadikan sebagai pemimpin agama dengan sebutan Penghulu. Beliau pun kemudian dikenal sebagai Penghulu Rasyid.

Baca juga: Soto Banjar, Kuliner Terpopuler Asal Kalimantan Selatan

Masa perjuangan Penghulu Rasyid

Perjuangan Penghulu Rasyid dilatarbelakangi oleh keberadaan Kerajaan “Bagalong” yang setelah rajanya meninggal digantikan oleh putranya, yaitu Pangeran Namin. Pada saat pemeritahan Pangeran Namin inilah Belanda mulai berdatangan ke wilayah Tabalong dan Daerah Pasir (Tanah Grogot) yang merupakan wilayah Bagalong untuk membeli rempah-rempah dan hasil bumi lainnya.

Taktik licik Belanda

Belanda yang katanya datang ke wilayah ini hanya untuk berdagang ternyata menambah jumlah pasukannya bahkan mereka juga mendatangkan serdadu dari tanah Jawa. Belanda kemudian memaksa Pangeran Namin untuk menyerahkan kekuasaanya kepada pemerintah Belanda atau setidaknya bernaung di bawah kekuasaan Belanda dan menyerahkan upeti kepada Kerajaan Belanda.

Meski dibujuk berkali-kali, Pangeran Namin tak sedikitpun mau tunduk kepada Belanda hingga akhirnya Belanda marah dan memberinya dua alternatif, menyerah atau diperangi. Setelah bermusyawarah dengan para pengikutnya, Pangeran Namin mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan istana beserta keluarganya dan juga pembantunya untuk hijrah ke dalam hutan Baruh Undan untuk bertapa. Sedangkan para tokoh dan pegawai istana yang menolak untuk bertapa kemudian pindah ke pedalaman Balukut, sungai Ratin, Pelajau, Talan, Banua Rantau, Silaung, Habau dan tempat lainnya. Sebelum meninggalkan istana, Pangeran Namin terlebih dahulu menghanguskan istana dan seisinya. Belanda yang pada saat itu tak sabar menunggu jawaban Pangeran Namin kemudian memutuskan untuk menyerang istana yang ternyata sudah dalam keadaan kosong dan dibakar habis.

Diangkat sebagai panglima perang

Di lain pihak, Penghulu Rasyid telah ditunjuk oleh Pangeran Antasari sebagai pemimpin perang di sektor Tabalong dengan Desa Habau ditetapkan sebagai Markas Pertahanan dan tempat latihan prajurit dalam bergerilya. Gerakan/Jamaah zikir Baratib Baamal pimpinan Penghulu Rasyid pertama kali terlibat pertempuran dengan Belanda pada 8 Oktober 1861 di Habang. Pertempuran selanjutnya terjadi di Krimiang dan pada 18 Oktober 1861 di Banua Lawas. Pada pertempuran yang terjadi di Banua Lawas tersebut, Penghulu Rasyid yang dibantu oleh Haji Bador terlibat dalam pertempuran yang sangat sengit dan akhirnya kehilangan lebih dari 150 pengikut yang di antaranya meninggal sebagai syuhada. Belanda terus menambah pasukan di Banua Lawas dengan mendatangkan serdadu dari Amuntai.

Pertempuran Banua Lawas

Di pertempuran terakhir yang terjadi di Banua Lawas pada 15 Desember 1865. Serdadu Belanda mengepung Pasar Arba Banua Lawas dengan menggunakan kapal perang Van Os melalui Sungai Anyar. Belanda juga dibantu oleh pasukan Dayak Maanyan dari Tamiang Layang dibawah pimpinan Tumenggung Jailan. Yang bergelar Tumenggung Jaya Karti. Meski diserang dari berbagai pihak, Penghulu Rasyid tetap berjuang dengan gigih melawan Belanda. Sampai tumitnya terkena tembakan hingga beliau terpaksa menghindar dari pertempuran. Meski dalam persembunyiannya, Penghulu Rasyid masih sempat menghabisi beberapa tentara Belanda dan pengikutnya yang membelot. Belanda pun tak mau kalah sampai mengeluarkan siasat licik dengan menawarkan imbalan sebesar 1.000 golden. Dan juga pembebasan pajak selama tujuh tahun bagi siapa saja yang berhasil memotong kepala Sang Penghulu.

Pengkhianatan teman Penghulu Rasyid

Tergiur dengan sayembara Belanda. Salah satu teman seperjuangan dan juga masih keluarganya sendiri, Teja Kusuma. Kemudian berhasil memenggal kepala Penghulu Rasyid yang sudah tidak berdaya. Puteri Penghulu Rasyid yang tidak terima dengan kematian ayahnya kemudian membalas dendam. Dan berhasil menembak mati Teja Kusuma. Namun sayangnya, karena tidak kuat melihat kepala ayahnya yang terputus sang puteri pingsan. Dan kepala Penghulu Rasyid berhasil direbut oleh orang-orang yang berkepentingan untuk mendapatkan hadiah dari Belanda.

Makam tanpa kepala sang ulama

Penghulu Rasyid wafat pada 15 Desember 1861 pada usia 46 tahun. Jenazahnya kemudian dimakamkan tidak berkepala. Di dekat Masjid Pusaka Banua Lawas yang merupakan masjid tertua di wilayah tersebut. Makam Penghulu Rasyid menjadi benda cagar budaya yang banyak dikunjungi oleh peziarah dari berbagai wilayah di Kalimantan.

Pada bagian bawah makam terbuat dari beton dan tehel. Serta pada bagian atasnya dari kayu ulin dan kubah. Kubah tersebut dibuat oleh Bidang Muskala Kanwil Depdikbud Propkalsel tahun 1998. Makam Penghulu Rasyid berukuran 200 cm x 165 cm x 103 cm. Sayangnya, keadaan makam kini terlihat sangat memprihatinkan karena kurang perawatan dan sangat butuh dukungan dari berbagai pihak.

***

Mengingat Makam Penghulu Rasyid merupakan salah satu cagar budaya dari Kalimantan Selatan. Diharapkan pemerintah lokal dan pengelola yang berkait sudi untuk memberikan perhatian. Agar memberi kenyamanan kepada para pengunjung. Penghulu Rasyid adalah salah satu dari sekian banyak para pejuang asli Banjar yang rela meregang nyawa. Karena merebut kemerdekaan dari tangan penjajah dan tidak mau menyerah begitu saja hingga titik darah penghabisan.

Sungguh sangat tidak patut jika kita sebagai generasi penerus. Tidak menghargai jasa para pahlawan dan membiarkan pengorbanan para pahlawan yang telah tiada. Hanya sia-sia belaka. Setidaknya, perbaikan makam-makam para pahlawan harus menjadi daftar rencana tahunan yang digadang oleh pemerintah lokal. Selain untuk menghormati jasa para pahlawan yang telah tiada. Hal ini juga bisa bermanfaat untuk menarik minat para pengunjung guna mendatangkan pundi-pundi pendapatan yang masuk ke kas daerah.

Semoga saja, perbaikan dan pembenahan segera ditindak-lanjuti. Selamat berkunjung! (jari adventure-det)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.