Jagoi Babang: Kekayaan Terpencil di Garda Terdepan Nusantara

Perjalanan delapan jam dari Pontianak menuju Jagoi Babang, Bengkayang, Kalimantan Barat terasa seperti perjalanan menuju keheningan. Ya, seolah ada gradasi keheningan. Kemeriahan Pontianak perlahan memudar, bising lalu lintas terdengar semakin sayup, lebar jalanan  tampak menyusut, dan deretan rumah di sisi jalan semakin berjarak satu sama lainnya hingga akhirnya Jagoi menyambut dalam kesunyiannya yang misterius.  Terletak di sebelah utara Kalimantan Barat, Kecamatan Jagoi menawarkan potret kehidupan layaknya gambaran umum yang ada tentang desa perbatasan, yaitu keterpencilan. Desa ini sebenarnya tidak populer sebagai tujuan wisata di mata orang Indonesia. Akses yang sulit serta minim sarana dan prasarana tentu menjadi alasan utama. Saya pun sesungguhnya tidak datang dengan tujuan berlibur, namun segera merasa beruntung karena berkesempatan mengeskplorasi kekayaan budaya dan kehidupan masyarakat desa yang berada di garis terdepan Indonesia ini.

Sejarah Asal Usul Dayak Bidayuh di Kampung Lama Jagoi Babang

Kampung ini merupakan objek wisata alam dan budaya yang setiap tahun berhasil menyedot para pelancong lokal dan asing. Terletak di Jagoi Babang (salah satu dusun di Kecamatan Jagoi), Kampung Lama menjadi simbol kekerabatan suku Dayak Bidayuh. Di sinilah letak perkampungan pertama suku Dayak Bidayuh sebelum warganya beregenerasi dan mulai menyebar ke daerah lain. Lebih seru jika mengunjungi kampung ini bertepatan dengan perayaan adat. Menurut Ahou Kadoh, Ketua Forum Adat Kaum Jagoi, setiap tahun suku Dayak Bidayuh menyelenggarakan upacara adat Gawai yang bertujuan untuk merayakan sekaligus mensyukuri hasil panen. Karena Dayak Bidayuh di Jagoi dianggap yang paling tua, maka seluruh suku Dayak Bidayuh yang telah menyebar hingga ke negeri jiran Malaysia akan datang ke Kampung Lama dan memusatkan perayaan Gawai di tempat ini.

Agar dapat melihat langsung proses Gawai, datanglah pada tanggal 1—3 Juni. Upacara Gawai dipenuhi dengan ritual adat, nyanyian doa-doa, tarian, dan aneka hidangan lezat. Ritual adat dalam Gawai kental akan nuansa mistis sehingga kadang membuat bulu roma bergidik. Misalnya terdapat ritual menimang dan memandikan tengkorang nenek moyang sebagai suatu bentuk penghormatan terhadap asal usul dan permohonan berkat. Dalam upacara ini juga terdapat sekumpulan perempuan Dayak Bidayuh mengganyang hati dan empedu babi sebagai simbol nasib baik dan keberuntungan di masa mendatang.

dayak bidayuh
dayak bidayuh

Di dalam kandang terdapat tengkorak nenek moyang Dayak Bidayuh di Jagoi Babang

Jika tidak sempat datang pada saat perayaan Gawai, pemandangan di sekitar Kampung Lama sudah cukup memanjakan mata. Kampung ini berada di tengah hutan dan perbukitan sehingga pemandangan alam di sekitarnya mampu menyegarkan mata. Tanpa melihat ritual adat secara langsung, pada hari biasa pengunjung tetap bisa memahami kebudayaan suku Dayak Bidayuh melalui beberapa bangunan yang ada. Terdapat Tugu Peringatan 151 Tahun Kampung Lama didirikan pada 1991. Orang Dayak Bidayuh menyebutnya bung kupuak. Di seberang bung kupuak terdapat rumah adat yang berfungsi sebagai ruang pertemuan para tokoh adat. Di Kampung Lama, siapa pun diizinkan untuk mengintip tengkorak nenek moyang dan memanjatkan doa di depan tempat penyimpanan yang berada dalam satu area dengan rumah adat dan bung kupuak.

Kampung Lama Jagoi Babang

Pemandangan sawah di Kampung Lama Jagoi Babang

 

Pesona Keindahan Alam Jagoi Belida

Jagoi Belida terletak tidak jauh dari Jagoi Babang. Desa ini menyimpan keindahan alam yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat di luar perbatasan. Keindahan alam Jagoi Belida berupa pemandangan alam hutan tropis Kalimantan dan pemandangan perkampungan warga yang dapat dinikmati dari atas bukit. Mendakilah hingga ke puncak Bukit Gajah yang tingginya sekitar 500 meter dari permukaan tanah. Dari puncak bukit ini pengunjung seolah menjelma menjadi dewa-dewi yang sedang menyaksikan umatnya dari khayangan. Bukit Gajah saat ini dikelola secara swadaya oleh warga dan menjadi tempat rekreasi masyarakat perbatasan untuk menikmati senja. Peristiwa terbenamnya matahari dari sisi barat merupakan salah satu pemandangan terbaik yang dapat dinikmati di tempat ini.

Dayak Bidayuh

Tangga yang digunakan untuk mendaki Bukit Gajah di Jagoi Belida

 

Bidai : Anyaman Khas Jagoi Babang yang Mendunia

Wajar jika Anda tidak mengenal bidai. Produk kerajinan ini memang jarang ditemui di pasar dalam negeri.  Kalaupun ada, kerajinan ini dijual dengan menggunakan cap Sarawak (Malaysia), sehingga seringkali pembeli mengiranya sebagai produk kerajinan tangan warga Malaysia. Padahal Jagoi adalah satu-satunya tempat pembuatan bidai. Kemampuan menganyam bidai dilestarikan secara turun temurun oleh keturunan Dayak Bidayuh di Jagoi. Bentuk umum bidai berupa tikar yang menggunakan material kulit kayu dan bambu. Warga Sarawak yang bertetangga dengan desa Jagoi sangat menyukai produk ini. Mereka menjadi pembeli utama bidai. Selain membeli langsung ke Jagoi, warga Sarawak mendapatkan bidai melalui pasar di perbatasan.

Pengrajin bidai di Jagoi Babang mengakui bahwa Malaysia menjadi pasar utama penjualan bidai karena kesulitan mendistribusikan produk dalam pasar Indonesia. Jika dijual untuk pasar dalam negeri, harga bidai menjadi jauh lebih mahal karena terbentur biaya distribusi. Kesulitan dalam mengembangkan pasar ditambah dengan banyaknya bidai tiruan dengan harga murah. Padahal bidai asli  konon memilki khasiat bagi kesehatan tubuh. Banyak di antara penggemar setia bidai yang mengaku tubuhnya bugar dan terhindar dari kelelahan jika tidur beralaskan tikar bidai. Memang belum ada penelitian mengenai kaitan antara bidai dan kesehatan. Tetapi jika mengetahui proses pembuatan serta bahan baku pembuatan bidai yang terdiri dari berbagai bahan alami pilihan rasanya tidak mengherankan jika tikar bidai dapat berfungsi sebagai alat detoksifikasi bagi tubuh.

Selain orang Malaysia, peminat bidai datang dari penjuru dunia antara lain Australia, Jepang, dan negara-negara Eropa. Sayangnya, pembeli mancanegara tidak mengetahui bahwa bidai berasal dari Indonesia karena mereka membelinya dari pengekspor Malaysia. Di Sarawak, bidai dapat dengan mudah ditemukan melalui tengkulak-tengkulak pengumpul bidai dari pengrajin di Jagoi. Oleh tengkulak Malaysia inilah bidai kemudian diekspor ke negara lainnya dengan cap produksi Sarawak.

Bidai asal Jagoi di Pasar Serikin

Bidai asal Jagoi di Pasar Serikin, Sarawak (Foto: Dok. Fitri R)

 

Tentu saja saya lagi-lagi merasa beruntung karena berhasil mendapatkan bidai dengan harga asli langsung dari sang pengrajin. Saya membeli bidai berkualitas terbaik berukuran sedang seharga Rp 200,000,00. Harga tersebut bisa mencapai Rp 500,000,00 jika saya membelinya di Malaysia atau di Jakarta.

 

Pasar Serikin, Pasar di Perbatasan

Sesuai namanya, pasar temporal ini berada di desa Serikin, Sarawak, Malaysia. Disebut pasar temporal karena hanya buka pada akhir pekan saja yaitu sabtu dan minggu. Bagi warga Malaysia, Pasar Serikin merupakan surga belanja murah meriah. Warga Malaysia dari segala penjuru Sarawak ramai-ramai belanja di pasar ini. Favorit mereka adalah barang-barang antik, kain, dan bidai. Seorang pengunjung asal Malaysia bercerita pada saya bahwa dirinya menyempatkan sebulan sekali datang ke Pasar Serikin. Menurutnya komoditas yang dijual di pasar ini sangat beragam dan harganya relatif murah.

Menurut saya pribadi, Pasar Serikin sebenarnya tidak terlalu istimewa jika melihatnya dari segi bentuk dan jenis komoditas yang dijual. Di Indonesia, pasar ini serupa pasar kaget. Malah jika mau membandingkan, pasar kaget di Kalibata jauh lebih lengkap daripada pasar ini. Produk tekstil serta aksesori perempuan yang dijual di sini umumnya biasa kita jumpai di emperan Jakarta dan menjadi konsumsi kelas menengah-bawah. Di Serikin, pemerintah daerah setempat bahkan menyediakan sarana parkir mobil yang luas dan nyaman plus restoran dan tempat peristirahatan untuk menunjang kegiatan wisata belanja di Serikin.

Pasar Serikin

Suasana di Pasar Serikin ( Foto: Dok. Fitri R)

 

Hal menarik di dalam pasar ini bagi saya adalah para pedagang. Perlu diketahui bahwa 90% pedagang di Pasar Serikin berasal dari Indonesia. Mereka rata-rata datang dari Pontianak dan kota-kota lainnya di Kalimantan Barat. Ada juga yang berasal dari pulau Jawa. Seperti Harry-pedagang bidai dari Jogjakarta-yang mengaku sudah  3 tahun berjualan bidai di Serikin. Dari Senin hingga kamis, Harry-kini menetap di desa Jagoi Babang-mendatangi para pengrajin untuk mengumpulkan produk anyaman bidai. Setelah membelinya dari pengrajin, bidai-bidai itu dijualnya di Serikin pada akhir pekan. Saya sempat bertanya ketika melihat label yang menempel pada beberapa gulung bidai berbunyi “Harry Tikar Sarawak” di kiosnya. “Kenapa namanya Harry Tikar Sarawak ? Kenapa bukan Harry Tikar Jagoi atau Bengkayang (nama kabupaten yang menaungi Kecamatan Jagoi)? “. Harry lantas menjawab bahwa label Serawak lebih laku di pasaran. “Tak ada yang mau beli jika labelnya Jagoi Babang atau Bengkayang”, kata Harry. Ah, miris sekali saya mendengarnya. Saya pun berharap semoga para pengrajin mendapatkan kesempatan melalui program-program pemerintah untuk dapat mengembangkan pasar bidai. Selain itu semoga saja segenap pihak yang berwenang dapat mematenkan bidai sebagai karya warga Indonesia asal Jagoi.

 

Kisah Haru tentang Mereka yang Menjaga Kedaulatan Bangsa

Dibanding dengan wilayah perbatasan lainnya di Kalimatan, Jagoi adalah desa yang harmonis. Konflik etnis dan agama tidak pernah terjadi.  Warga Jagoi hidup rukun dalam keragaman meskipun mayoritas penduduknya adalah etnis Dayak Bidayuh dan penganut agama kristen. Ketua Forum Adat Kaum Jagoi, Ahau Kadoh misalnya, ia membagikan sepenggal kisah pribadinya pada saya. Di masa mudanya, ia pernah menjalin asmara dengan perempuan warga Malaysia. Meskipun ia sangat mencintai kekasihnya saat itu, ia batal menikahi sang pujaan hati karena tidak bersedia pindah tempat tinggal dan kewarganegaraan. Ahau memilih tetap tinggal di Jagoi Babang, menjadi warga negara Indonesia. “ Sebenarnya sudah biasa dalam satu keluarga ada dua kewarganegaraan. Saya pikir akan merepotkan anak-anak saya kelak. Lagipula saya sudah nyaman dan menganggap tempat ini sebagai asal usul saya.”

Cerita hampir sama dituturkan Pak Mijen, guru SMP Negeri 1 Jagoi Babang. Pak Mijen mengabdikan dirinya sebagai guru dengan cita-cita agar semakin banyak anak-anak dari desa itu meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. “Dulu banyak orang tua tidak mau sekolahkan anaknya. Karena untuk apa sekolah ? Lebih baik bekerja di kebun-kebun kelapa sawit atau pertambangan di Malaysia. Gajinya besar. Tetapi sekarang orang-orang sudah sadar pendidikan. Kerja di negeri orang tidak selalu enak, banyak resiko. Tetap lebih enak cari makan di tanah sendiri”, demikian kisah Pak Mijen yang hingga kini tetap bersemangat memompa motivasi murid-muridnya.

Kisah yang sangat inpiratif datang dari seorang perempuan muda berusia 29 tahun bernama Masni. Jika ingin mencari bidai, datanglah ke pusat kerajinan bidai Karya Usaha di jalan Dwikora, Jagoi Risau. Masni akan menyambut ramah setiap tamu yang datang. Dialah pemilik pusat kerajinan yang didirikannya sejak 2002. Bermodalkan kenekatan Masni membangun usahanya. Niatnya membuka usaha sungguh mulia. Ia ingin melestarikan kerajinan bidai dan membuka lapangan kerja bagi warga Jagoi. Maka sejak didirikan, Masni giat merekrut warga sekitar untuk dilatih menganyam bidai di pusat anyaman bidai miliknya. Saat bertemu Masni, saya melihat ada seorang anak usia sekolah dasar sedang menganyam. Menurut Masni, anak-anak ia izinkan bekerja selepas jam sekolah. Hal ini juga menjadi salah satu tujuannya yaitu memberi kegiatan ekstra yang positif kepada anak muda Jagoi. Sejak pusat kerajinan milik Masni dijadikan balai pelatihan menganyam bidai, tingkat kenakalan remaja di Jagoi berkurang. Remaja yang tadinya tidak punya banyak pilihan kegiatan di waktu luang cenderung menumpahkan energinya untuk mabuk-mabukan atau berjudi. Oleh Masni, energi para remaja ini disalurkan untuk menganyam bidai. Beberapa pengrajin bidai yang saya temui saat itu mengaku bisa membayar uang sekolah sendiri melalui anyaman bidai. Inspiratif sekali, bukan?!

 

Transportasi dan Akomodasi

Untuk mencapai desa Jagoi, menyewa mobil plus supir tentu pilihan ternyaman. Ongkos sewa mobil berkisar Rp. 200,000,00—500,000,00. Tergantung jenis mobil dan kemampuan tawar menawar. Namun jika ingin merasakan pengalaman yang lebih seru dan menantang, tidak ada salahnya menggunakan transportasi umum. Dari terminal Batulayang, Pontianak, pilihlah bus yang menuju Seluas, karena tidak ada bus langsung menuju Jagoi. Ongkosnya Rp. 17,000,00. Seluas adalah kecamatan tetangga Jagoi. Jangan mengharapkan kenyamanan. Di Jakarta, bus ini  seperti bus kota yang sempit dan tidak ber-AC. Tetapi tidak ada pilihan, bus inilah satu-satunya pilihan untuk mengunjungi Jagoi. Bila Anda menyukai petualangan, ketidaknyamanan tentu tidak terlalu menjadi masalah, apalagi jika mata kita dimanjakan dengan panorama sungai dan pegunungan selama dalam perjalanan.

Perjalanan dari Pontianak ke Seluas memakan waktu 6 hingga 7 jam. Sesampainya di Seluas, kita dapat menggunakan ojek menuju penginapan di Jagoi. Kita juga bisa memilih menginap di Seluas karena jarak Seluas dan Jagoi cukup dekat. Lagipula hanya ada 3 penginapan sepanjang jalan dari Seluas menuju Jagoi. Saat berkunjung ke Jagoi, saya memutuskan menyewa kamar penginapan di Jagoi Babang-dusun di kecamatan Jagoi yang berbatasan langsung dengan wilayah Malaysia- milik seorang pedagang kelontong etnis tionghoa. Sayangnya, seluruh kamar sudah terisi, maka saya kembali ke Seluas. Karena tidak banyak pilihan, saya memutuskan menginap di Seluas. Penginapannya menyerupai kamar kost. Sederhana saja. Tidak ada room service dan receptionist. Pemilik penginapan hanya menyediakan kamar berisi queen spring bed, kamar mandi, dan televisi. Menurut saya penginapan cukup bersih dan nyaman meskipun sederhana dan minim fasilitas.

Tema back to nature sangatlah tepat untuk mendeskripsikan perasaan saya saat berada di penginapan  ini. Dari jendela kamar yang terlihat hanya hutan lebat. Saya memilih duduk-duduk di teras balkon depan yang menghadap jalan kecil dan rumah warga di perbukitan. Suasana begitu tenang. Deru kendaraan bermotor jarang terdengar. Saking sunyinya saya bisa mendengar suara tokek dan jangkrik. Biaya per kamar dibandrol Rp. 150,000,00 per malam.

Bersosialisasi dengan warga setempat di malam hari adalah waktu yang paling tepat. Saya nongkrong di warung kelontong yang juga berfungsi sebagai kedai kopi. Letaknya tidak jauh dari pos perbatasan. Di sini warga lokal khususnya laki-laki menghabiskan waktu senggang untuk mengobrol, minum kopi, atau bermain bilyar. Sambil nongkrong, kita bisa menyaksikan arus aktivitas lintas-batas antar dua wilayah.

Perbatasan Jagoi Babang

Perbatasan Jagoi Babang, Kalimantan Barat-Serikin, Sarawak (Photo: Fitri R)

Bagi turis Indonesia yang ingin mengunjungi Pasar Serikin, Sarawak, Malaysia, dapat melapor ke Kantor Imigrasi setempat untuk mendapatkan Pas Lintas Batas (PLB), semacam surat pengantar untuk melintasi batas negara. Proses pembuatan PLB memakan waktu sekitar 10 menit. Berbekal PLB kita hanya perlu memperlihatkan surat tersebut di pos penjagaan perbatasan.  Pelintas batas Indonesia dilarang membawa kendaraan pribadi ke Serikin. Maka jika ingin ke Serikin, kita dapat menyewa ojek yang bermarkas di sekitar pos perbatasan. Ongkos ojek PP Jagoi Babang-Serikin sebesar Rp 50,000,00.

Bagi siapa pun yang ingin mencari bentuk wisata yang kontemplatif dan ingin lari sejenak dari hiruk pikuk ibukota, menginap beberapa hari di Jagoi bisa menjadi pilihan menarik. Tidak hanya memanjakan mata dengan pemandangan kebun, sawah serta hutan nan hijau, desa ini akan mengajarkan banyak hal dan membawa kita melihat apa saja yang luput dalam keseharian sebagai warga metropolitan. (Jari Adventure/Fitri Ratna Irmalasari)

 

 

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.