Istana Robat, Pesona Kediaman Sultan Riau Terakhir

Istana Robat – Merupakan Istana Sultan Abdulrahman Muazam Shah (sultan Riau-Lingga terakhir, bentuknya mirip dengan Istana Kedaton di Pulau Penyengat dan Kantor Residen Belanda di Tanjungpinang (Gedung Daerah sekarang), Namun dapat dipastikan bahwa bangunan ini dulunya sangat mewah, dapat dilihat dari sisa-sisa interior bangunan, pilar-pilar lubang angin yang terbuat dari keramik atap yang digunakan jenis genteng.

Masa Pemerintahan Sultan Mahmud Syah III

Sultan Mahmud Syah III memindahkan pusat kerajaannya ke Daik Lingga pada tahun 1787, ini diakibatkan adanya tekanan dari Kompeni Belanda. Walaupun pusat kerajaan berada di Pulau Lingga, wilayah masih meliputi Johor-Pahang dimana daerah tersebut Sultan masih diwakili oleh Datuk Temenggung untuk bagian Johor dan Singapura sedangkan Datuk Bendahara untuk daerah Pahang. Untuk tahun 1795 terjadi perkembangan politik baru di negeri Belanda, dimana kompeni Belanda harus menyerahkan beberapa daerah yang didudukinya ke Inggris. Masa ini disebut juga sebagai masa INTEREGNUM Inggris di Riau.

Ketika masa tuan muda V pada tahun 1802 berada dipengungsian kembali di Lingga pada masa intregnum Inggris ini sedangberlangsung Raja Ali wafat 1795-1816 di pulau Bayan. Tahun 1806 diangkat pula Raja Jakfar menjabat kedudukan sebagai yang dipertuan Muda Riau pada tahun 1806-1813. Raja Jakfar membuat tempat pemerintahannya di kota Rentang di Pulau Penyengat.

Kemudian, Sultan Mahmud III mengutus anaknya yang bernama Tengku Husein (Tengku Long) untuk pergi ke Pahang dan menikah disana bersama puteri Tun Khoris atau adik bendahara yang bernama Tun Ali pada tahun 1811. Semasa Tun Husin (Tengku long ) berada dipahang ayahandanya Sultan Mahmut Syah wafat di Daik Lingga tanggal 12 Januari 1812.

Pemerintahan Tengku Abdul Rahman

Setelah Sultan Mahmut syah III meninggal dicarilah calon pengantinya. Akhirnya yang dilantik sebagai sultan pengganti yaitu Tengku Abdul Rahman yang disetujui oleh pembesar kerajaan dan dari pihak Belanda. Ini dikuatkan oleh peraturan kerajaan Lingga Riau yang berbunyi Sultan baru harus dilantik sebelum jenazah Sultan yang wafat di kebumikan.

Setelah Tengku Abdul Rahman dilantik tahun 1812 Sultan Abdul Rahman Syah menetap di Lingga. Ketika masa itu, Lingga bertambah ramai karena tambang timah telah disingkep. Sedangkan Raja Ja’far menetap di Penyengat ia telah menempatkan orang-orang kepercayaannya di Daik Lingga untuk mendampingi Sultan yaitu Engku Syaid Muhammad Zain Al Qudsi.

Pada tangal 19 Agustus 1818,Wiliam Farquhan Residen Inggris datang dari Malaka menuju ke Daik untuk bertemu langsungdengan Sultan Abdul Rahman Muazam Syah sekalian membagikan informasi bahwa wilayah kerajaan Lingga Riau mungkin akan diambil Belanda. Sultan Abdul Rahman Muazam Syah menjawab berita yang disampaikan Fanquhan itu, bahwa dia tidak mempunyai wewenang untuk mengurus urusan kerajaan, hanya ia menganjurkan Fanquhan dapat menghubungi Raja Ja’far.

Masa pemerintahan Sultan Mahmud Riayat Syah III

Sultan Mahmud Riayat Syah III mendirikan Istana Robat atau Istana Kota Baru dengan detail. Tidak hanya memikirkan kenyamanan keluarga kerajaan, tetapi ia juga membangun penjara untuk keamanan wilayah.

Sedangkan Almarhum Raja Muhammad Yusuf sangat alim dia ini adalah penganut Nak Sabandiah. Dia adalah yang dipertuan muda ke X yang dilantik tahun 1859 oleh Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah III. Pada zaman ini di Daik sangat berkembang dibidang agama maupun bidang ekonomi, sehingga Daik Lingga pada waktu itu menjadi pusat perdagangan dan pengetahuan.

Belanda Khawatir akan kekuatan Kerajaan Riau

Jika Lingga menyusun kekuatan untuk menentang, tentu ini akansukses membuatBelanda semakin khawatir.Oleh karenanya, Belanda menempatkan asisten Residen di Tajung Buton Daik. Pada tanggal 17 September 1833 dia mangkat dan dimakamkan di bukit Cengkeh. Yang beristrikan Tengku Embung Fatimah Binti Sultan Mahmud Muzafarsyah dipertuan muda Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi merupakan Sultanah di Lingga.

Baca juga: Kisah Sejarah Indah di Balik Berdirinya Benteng Tolukko

Pada tahun 1875, Sekolah Dasar 001 dibangun di Lingga dengan guru pertama yang bernama Sulaiman. Seorang tamatan sekolah Raja di Padang. Walaupun dia diangkat oleh Belanda, Guru ini tidak mau bekerja sama dengan Belanda.

Pada zaman ini Lingga mencapai zaman keemasan. Sedangkan Almarhum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II adalah anak dari Sultan Abdul Rahman Syah. Dia diangkat menjadi Sultan tidak disetujui oleh Indra Giri Reteh selama 25 hari. Hingga terjadi pemberontakan Mauhasan. Namun Reteh tunduk kembali dengan Lingga.

Asal nama Dabo Singkep

Banyak fakta yang membuktikan bahwa Sultan ini begitu memperhatikan kehidupan rakyatnya. Seperti mengajukan dan menukarkan sawah padi dengan sagu (Rumbia) yang di datangkan dari Borneo Serawak. Dan membuka industri sagu tahun 1890.

Penambangan timah resmi dibuka di Singkep dan Kolong-kolong Sultan dengan Mandor yang terkenal pada zaman itu La Abok dan kulinya orang-orang Cina Kek yang menurut ceritanya nama inilah nama Dabo Singkep.

Baginda mangkat pada tanggal 28 Fenruari 1814 dan dimakamkan di Bukit Cengkeh dengan gelar Marhum Keraton yang di dalam kubah. Setelah itu Sultan Muhammad Muazam Syah (1832-1841) Sultan ini sangat gemar dengan seni ukir/Arsitektur, dia mengambil tukang dari Semarang untuk membangun istana yang disebut Keraton atau Kedaton.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *