Goa Jepang Biak Simpan Sisi Keindahan dan Misteri

Goa JepangIndonesia memang sedang membenahi sektor pariwisata di segala bidang. Bukan hanya menjual kekayaan dan keindahan alamnya, tapi juga wisata sejarah maupun budaya. Untuk wisata sejarah, kebanyakan berasal dari peninggalan masa penjajahan, mulai dari Inggris, Portugis, Belanda, hingga Jepang. Nah di Biak, Papua, Anda bisa menemukan situs bersejarah Goa Jepang yang penuh dengan kisah mistis.

Goa Jepang di Biak merupakan salah satu jejak sejarah yang ditinggalkan pasukan Jepang, setelah tiga setengah tahun lamanya menjajah Indonesia. Sama dengan gua-gua peninggalan Jepang lainnya, gua ini juga digunakan sebagai gua pertahanan untuk berlindung dari serangan musuh dan menyusun strategi militer. Apalagi di Biak, lokasi gua yang strategis karena dapat menembus ke pantai cocok dijadikan tempat perlindungan.

Perlindungan Jepang di Biak

Yang membuat Goa Jepang di Biak ini berbeda dengan gua atau bunker perlindungan pasukan Jepang lainnya adalah gua ini bukan bangunan buatan, melainkan gua alami. Setibanya di sini, pengunjung dapat melihat suasana Goa Jepang dari sebuah lubang di bawah pohon beringin, sebelum menuju mulut gua. Aura mistis mulai terasa melihat besarnya pohon yang sering dianggap keramat ini.

Baca Juga:

Eksotisnya Festival Bahari Raja Ampat, Papua Barat

Untuk menuju ke mulut gua, pemerintah Biak telah membangun ratusan anak tangga untuk mempermudah pengunjung turun ke bawah dan mengurangi rasa lelah ketika berjalan menuruni area tersebut. Setibanya di mulut gua, Anda akan disambut pemandangan stalagtit yang menggantung dari atap gua yang cukup tinggi. Besarnya gua menghalangi cahaya matahari yang masuk, sehingga daerah sekitaran gua banyak ditumbuhi lumut yang menghijau.

Gua Binsari

Jika memutuskan untuk mendekati dasar Goa Jepang, selain stalagtit yang dibiarkan alami, pengunjung juga melihat akar pohon Beringin berukuran besar yang menjuntai ke bawah dan pagar kayu yang mengelilingi gua, menambah kesan seram dan mistis. Oleh masyarakat sekitar, gua ini dikenal dengan nama Gua Binsari, yang artinya perempuan tua. Konon, dahulu ada nenek-nenek yang menempati gua ini. Tapi setelah pasukan Jepang datang, nenek tersebut menghilang entah kemana.

Anda mungkin tidak menyangka bahwa Goa Jepang ini juga merupakan kuburan masal bagi enam ribu pasukan Jepang yang dikubur hidup-hidup oleh pasukan sekutu. Pada tahun 1944, tentara sekutu di bawah pimpinan Jenderal Douglas McArthur sengaja menjatuhkan bom dan drum-drum bahan bakar di atas gua, sehingga meluluh lantakkan apa saja yang ada di dalamnya. Hingga kini, pengunjung masih dapat melihat bekas-bekas drum tersebut saat menginjakkan kaki di dasar gua.

Tur keliling Gua

Ditemani oleh pemandu atau penunggu gua, Anda akan diajak berkeliling Goa Jepang atau Gua Binsari yang terdiri dari beberapa ruangan. Konon, pembagian ruang ini sengaja dibuat sendiri oleh tentara Jepang sebagai tempat perawatan dan istirahat. Di salah satu ruang penyimpanan, ada kumpulan tulang belulang manusia, yang tidak lain berasal dari tentara Jepang yang tewas. Selain itu, ada pula monumen yang ditulis dalam tulisan Jepang, yang merupakan wujud doa orang-orang Jepang bagi nenek moyangnya.

Ada juga terdapat dua buah lubang, mirip sumur raksasa berdiameter sepuluh meter dan memiliki kedalaman dua puluh meter. Tidak jauh dari ditemukannya tulang belulang, nampak cerutu, biskuit, dan gelas-gelas yang terkumpul dengan rapi. Bekas senjata, alat makan, seragam, hingga alat-alat pribadi seperti alat cukur dan botol obat-obatan pun tertata rapi di pusat informasi Goa Jepang.

Peralatan tempur bekas Jepang

Di luar Goa Jepang, Anda pun disuguhi pemandangan bekas-bekas persenjataan alat tempur seperti senapan dan rudal yang tersisa dari tentara Jepang. Begitu juga bangkai pesawat dan mobil yang terbakar ketika gua ini diserang dan dibakar oleh tentara sekutu.

Monumen Perang Dunia II

Tidak jauh dari Goa Jepang, hanya berjarak dua kilometer, pengunjung juga dapat mengunjungi situs bersejarah lainnya yaitu Monumen Perang Dunia II. Berupa pelataran batu seluas lima puluh meter persegi, yang dihias minimalis khas Jepang. Terdapat juga kubah dan kursi-kursi batu yang disediakan untuk para pengunjung. Monumen yang terletak di depan Gua Jepang Lima Kamar ini sengaja dibangun oleh keluarga tentara Jepang untuk mengenang kejadian tragis tersebut.

Museum lorong 10 meter

Di bawah monumen terdapat sebuah ruangan berbentuk lorong sepanjang sepuluh meter. Selain itu, tersimpan kaleng-kaleng besi setinggi lima puluh sentimeter, yang menyimpan serpihan tulang belulang. Persis di depannya juga banyak terdapat memorabilia, seperti foto-foto, papan nama kayu, dupa, hingga benda-benda peninggalan mendiang tentara.

Penasaran dengan kesan mistis dari Goa Jepang ini? Selain membayar biaya masuk sebesar dua puluh lima ribu rupiah, Anda juga harus menempuh perjalanan dari pusat Kota Biak dengan kendaraan sewa atau angkutan umum seperti ojek maupun taksi. Jika berkesempatan berkunjung ke Papua, tidak ada salahnya kok menyempatkan diri mengunjungi situs bersejarah di Biak yang memiliki cerita yang menarik sekaligus kelam di baliknya. (jari adventure-det-image: detikTravel)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.