Gereja Ayam, Rumah Ibadat Unik Warisan Kolonial

Gereja Ayam – Tanjungpinang kaya akan bangunan tua di kota Tanjungpinang memang sangat banyak dan  beragam sekali .  Bangunan – bangunan tua itu kebanyakan merupakan peninggalan sejarah pada masa penjajahan Belanda. Dengan adanya peninggalan inilah kita dapat mengetahui bukti fisik akan adanya sejarah penjajahan ketika itu. Ingin tahu cerita selengapnya ?  Stay tune terus ya gengs.

Kerukunan antarumat beragama di Tanjungpinang sudah berlangsung sejak dahulu. Dulu sekali, lebih dari seabad lalu. Sebuah warisan nilai kebersamaan yang mesti lestari hingga hari ini.

Seputaran Jalan Merdeka adalah jantung kota. Kehidupan Tanjungpinang berdenyut di sini. Perdagangan sudah pasti. Pertukaran informasi barang tentu iya. Kedai kopi di sini berbaris-baris. Namun, tiada arti segala aktivitas tersebut tanpa diiringin dengan peribadatan. Dan di titik pusat jantung kota pun berdiri tempat peribadatan macam-macam agama. 

Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB)

Merupakan salah satu dari sekian banyak bangunan tua yang ada di kota Gurindam ini. Tempat ibadah yang digunakan untuk beribadah umat Kristen protestan ini terletak di Jalan Gereja Nomor 1. Bangunan ini memiliki simbol ayam yang terletak di ujung atap bangunannya, untuk itu gereja ini dikenal dengan Gereja Ayam oleh masyarakat Tanjungpinang. Unik ya gengs

GPIB sudah ada sejak 14 Februari 1836 dengan bangunan gereja yang sangat sederhana ketika itu. Dan gereja ayam ini merupakan gereja tertua di Kepulauan Riau yang ketika diresmikan disebut “De Nederlandse Hervormde Kerk te Tandjoengpinang” (Gereja Protestan Belanda di Tanjungpinang). “Dari zaman Belanda gereja ini sudah ada dan sudah berapa kali direnovasi.” Tutur Ibu Muskitta, yang merupakan jemaat GPIB sekaligus kepala sekolah di SDS GPIB.

Tempat Kebaktian Warga Belanda

 Pada masa kolonial Belanda gereja ini hanya khusus digunakan sebagai tempat kebaktian bagi orang Belanda dan kerabatnya, serta para angota militer yang ditempatkan di Tanjungpinang. Hingga kini bangunan gereja masih terawat sebagaimana mestinya. Meski sudah mengalami beberapa kali renovasi, tetapi hal itu tidak mengubah bentuk asli bangunannya.

“Renovasi tak banyak, hanya proses pengecatan dan renovasi-renovasi ringan.” Ujar Bu Muskitta. GPIB mempertahankan eksistensinya dengan mendirikan SD dan SMP Swasta GPIB sekitar tahun 1962 meski dilahan yang tidak begitu luas. “Kalau SD masih ada sampai sekarang, tapi SMP nya sudah tutup sekitar 3 tahun lewat.” Ungkap Bu. Muskitta.

Cagar Budaya Peninggalan Belanda

Bangunan itu sebagai bukti yang berupa benda untuk mengungkapkan peristiwa sejarah yang terjadi pada masanya, dan peristiwa itu tidak akan terulang kembali saat ini. Untuk itu perlunya sikap menghargai dan rasa cinta tanah air dalam menjaga peninggalan – peninggalan sejarah, termasuk pula bangunan – bangunan tua.

De Nederlandse Hervormde Kerk te Tandjoengpinang

Gereja pertama yang dibangun di Tanjungpinang ini, saat diresmikan, disebut De Nederlandse Hervormde Kerk te Tandjoengpinang (Gereja Protestan Belanda di Tanjungpinang). Kala itu, jemaatnya didominasi orang-orang Belanda dan tentara Belanda yang berdarah Indonesia.

Baca juga: Berwisata Religi dan Budaya ke Masjid Agung Banten

Catatan tersebut, diterbitkan dengan judul Berichten omtrent Indie, gedurende een tienjarig verblijf aldaar (Laporan tentang Hindia, selama sepuluh tahun tinggal di sana). Tulisan tersebut diterbitkan oleh penerbit Ballot di Kota Deventer tahun 1846. E.H. Rottger, adalah tokoh penting yang terlibat dalam Pembangunan gereja ini.

Baca juga; Berwisata Religi dan Budaya ke Masjid Agung Banten

Pembangunan oleh umat antar agama

Aswandi Syahri, sejarawan Kepri, pernah menjelaskan, Yang Dipertuan Muda (YDM) Riau VII, Raja Abdurrahman, turut membantu pembangunan tempat ibadah umat kristiani ini, dengan menyumbangkan bahan-bahan material. Bantuan serupa juga disalurkan oleh Kapitan Cina. “Ini sekaligus bukti bahwa masyarakat Tanjungpinang punya sikap toleransi antarumat beragama yang tinggi,” ujar Aswandi.

Pemerintah Kota Tanjungpinang menetapkan bangunan GPIB atau gereja ayam sebagai Benda Cagar Budaya (BCB), berdasarkan Undang-undang RI Nomor 5 tahun 1992.

Gereja pertama yang dibangun di Tanjungpinang ini, saat diresmikan disebut “De Nederlandse Hervormde Kerk te Tandjoengpinang” (Gereja Protestan Belanda di Tanjungpinang) yang kala itu jemaatnya didominasi orang-orang Belanda dan tentara Belanda yang berdarah Indonesia.

Catatan tersebut, diterbitkan dengan judul “Berichtenomtrent Indie, geduren deeentien jarigverblijfaldaar” (Laporan tentangHindia, selama sepuluh tahun tinggal di sana). Tulisan tersebut diterbitkan oleh penerbit Ballot di KotaDeventer tahun 1846. E.H. Rottger, adalah tokoh penting yang terlibat dalam Pembangunan gereja ini.

Menurut sejarahwan ProvinsiKepri, Aswandi Syahri, pembangunan gereja dibantu dalam bentuk material oleh Yang Dipertuan Muda (YDM) Riau VII, Raja Abdurrahman. Bantuan serupa diberikan juga oleh Kapitan China dalam masa tersebut. Hal ini mengisyaratkan tentang kerukunan beragama yang terjadi di Tanjungpinang kala itu.

Bangunan gereja yang berlokasi di JL. Gereja no 1, Tanjungpinang. Karena lokasinya yang strategis dan berdekatan dengan pusat kota, tak heran bila hingga hari ini, masih banyak wisatawan yang mengunjungi gereja tua ini. Kendati hanya sekadar untuk berfoto-foto ria.

 

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *