Gedung Linggarjati Jadi Saksi Perjuangan Bangsa Indonesia

Gedung LinggarjatiMelancong ke daerah Kuningan, Jawa Barat, tidak lengkap rasanya jika hanya menikmati keindahan alamnya saja. Kunjungi salah satu bagian dari sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, yaitu Gedung Perundingan Linggarjati. Memiliki luas 2,4 hektar, bangunan bersejarah ini berada di Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Jika Anda berdomisili di Jakarta, perjalanannya dapat ditempuh selama empat puluh menit dari gerbang tol Ciperna, melewati jalan Raya Beber dan Cilimus.

Lokasi di kaki Gunung Ciremai

Dalam perjalanan, pengunjung akan dihibur oleh pemandangan asri kaki Gunung Ciremai, berupa lahan persawahan yang mendominasi desa-desa. Udara sejuk pegunungan pun mulai mengisi paru-paru yang terbebas dari polusi. Sesampainya di tujuan wisata, Anda diwajibkan membayar tiket masuk sebesar tiga ribu rupiah, harga yang sangat terjangkau di kantung.

Eksterior dan interior Gedung Perundingan Linggarjati

Bangunan seluas delapan ratus meter persegi ini sejak pagi mulai dipadati pengunjung, terutama saat hari libur. Didampingi oleh seirang pemandu wisata, pengunjung akan diajak berkeliling ke seluruh bagian gedung. Diorama dalam kotak kaca di dekat pintu di bagian kanan, yang menggambarkan detik-detik terjadinya perundingan, merupakan hal pertama yang menyambut kedatangan wisatawan.

Ruangan 1 Gedung Perundingan Linggarjati

Di ruangan pertama  dan sekaligus bagian utama inilah yang menjadi tempat perundingan. Ada empat meja hijau panjang, lengkap dengan papan nama di atasnya. Perdana Menteri Indonesia kala itu, Sultan Syahrir, memperjuangkan masa depan bangsa di depan Willem Schermerhorn, dari delegasi Belanda. Ada juga nama Soesanto Tirtoprodjo, Adnan Kapau Gani, dan Mohammad Roem dari pihak Indonesia, sedangkan dari Belanda terdapat nama Van Der Poll, F De Boer, dan HJ Van Mook.

Selain itu, juga terdapat puluhan foto hitam putih yang menghiasi sebagian besar dinding gedung. Isinya berupa aktivitas perundingan, perdebatan, penandatangan, dan pidato. Tidak hanya foto yang didapat dari arsip Belanda saja yang berharga, tapi berbagai ornamen dan benda di dalam ruangan itu masih asli dan terawat dengan baik. Mulai dari piano, jam besar, sofa, dan lemari-lemari.

Dilarang menyentuh koleksi antik

Beranjak ke ruangan lain yang juga masih menyimpan banyak benda asli adalah ruang makan delegasi. Terdapat meja makan, kursi-kursi, serta lemari yang masih dalam kondisi asli. Oleh karena itu, penting bagi pengunjung untuk tidak menyentuh aset histori tersebut. Jangan takut jika pengetahuan sejarah termasuk minim, karena akan terbantu oleh keterangan yang tertulis di bagian bawah foto hasil jepretan jurnalis asing yang meliput perundingan.

Ruang perundingan Presiden Soekarno dan Lord Killearn

Melanjutkan langkah ke bagian belakang yang merupakan ruangan terakhir, tempat Presiden Soekarno melakukan misi rahasia. Di sini, terdapat ruang tidur Lord Killearn, mediator perundingan yang dikirim pemerintah Inggris, dan ruang tamu kecil tempat Presiden Soekarno dan Lord terlibat pembicaraan pribadi.

Gedung ini pun sudah berkali-kali mengalami perubahan, yang kesemuanya diabadikan lewat foto-foto. Mulai tahun 1918 yang diawali dengan berdirinya gubuk milik Ibu Jasitem, kemudian diubah menjadi bangunan semipermanen pada tahun 1921 oleh pengusaha gula dari Belanda, bernama Mergen. Jacobus Van Os kemudian menjadikannya sebagai bangunan permanen.

Baca Juga: Wisata Budaya Khas Bogor, Kampung Budaya Sindang Barang

Berubah-ubah fungsi gedung

Sempat dijadikan hotel, markas tentara Belanda, bahkan gedung SD Linggajati, sebelum dibangun ulang dan diserahkan pada tahun 1976 ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan museum. Kini gedung berada di bawah perawatan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sedang, Banten, sehingga berada dalam kondisi yang cukup terawat. Bagian dalam gedung yang cukup bersih membuat wisatawan nyaman dan betah, sedangkan halaman gedung yang luas dan asri dengan tanaman dan bunga-bungaan kian memanjakan mata.

Tur keliling Gedung Perundingan Linggarjati

Seusai menikmati tur keliling Gedung Perundingan Linggarjati, wisatawan dapat membeli buku-buku keterangan sejarah perundingan Linggarjati untuk cinderamata, hanya dengan selembar lima ribu rupiah. Di dalamnya terdapat ulasan lengkap sejarah, kronologis, profil, dan foto-foto yang menangkap suasana saat perundingan tersebut terjadi.

Tips wisata ke Gedung Perundingan Linggarjati

Keindahan gedung serta lika-liku perjalanan hidup para pemilik gedung yang bersejarah ini begitu menarik untuk diikuti. Para pengunjung yang menyukai sejarah dan budaya bangsa Indonesia, akan sangat pas jika memilih lokasi wisata budaya dan sejarah, Gedung Perundingan Linggarjati sebagai alternatif destinasi wisata di kala liburan.

Berikut ini adalah tips berkunjung ke Gedung Perundingan Linggarjati:

1. Hindari peak season

Seperti kebanyakan tempat wisata di daerah seluruh Nusantara. Musim liburan sekolah atau hari-hari besar keagamaan. Dijadikan banyak keluarga untuk melepas penat dengan jalan-jalan sambil berwisata. Gedung Perundingan Linggarjati menjadi sasaran empuk para pengunjung yang membawa anak-anak masih usia pelajar. Untuk mempelajari sejarah dan budaya bangsa mengenai perjanjian Linggarjati pada tahun 1948. Oleh karena itu, jika tidak ingin suasana yang terlampau padat oleh para pengunjung lain, hindari berkunjung ketika hari libur atau musim puncak liburan agar Anda dan sang buah hati dapat lebih leluasa untuk mengeksplore seluruh ruangan dan mendapatkan informasi sejarah lebih maksimal.

2. Membeli buku panduan

Sudah sedikit disinggung di atas, di dalam Gedung Perundingan Linggarjati Anda bisa mendapatkan sebuah buku. Berupa panduan yang berisi keterangan setiap ruangan dan sejarah benda-benda koleksi yang ada di dalamnya. Tidak ada ruginya membeli buku panduan ini karena harganya sangat terjangkau kocek yaitu sekitar Rp 5.000,- Lumayan untuk menambah wawasan jika Anda tidak menjumpai pemandu.

3. Usahakan bertemu pemandu

Di hari-hari biasa, umumnya pemandu tur keliling tidak begitu banyak, namun tidak ada salahnya untuk mencari informasi agar Anda bisa mendapatkan jasa pemandu. Berkeliling ruangan demi ruangan di dalam Gedung Perundingan Linggarjati akan terasa lebih bermakna dan menambah pengetahuan jika Anda tidak sekadar lewat dan melihat saja, melainkan mengetahui apa saja sejarah yang menyertai benda-benda koleksi museum tersebut.

4. Dilarang menyentuh benda-benda koleksi

Beberapa benda-benda koleksi museum di Gedung Perundingan Linggarjati, masih asli dan dirawat dengan baik. Selain itu, kemungkinan besar benda-benda perabot rumah tangga. Seperti kursi-kursi, meja, lemari dan sebagainya merupakan benda-benda berkualitas terbaik di zamannya, karena dipergunakan untuk seorang bangsawan Meneer sehingga tidak heran jika kondisinya masih relatif baik. Namun, meski demikian, para pengunjung tetap perlu hati-hati saat melihat-lihat dan tidak diperkenankan untuk menyentuh apalagi mencoba duduk di kursi-kursi yang dipamerkan.

5. Hati-hati mengawasi anak-anak

Anak-anak tidak peduli di mana saja, selalu aktif dan lincah. Tak terkecuali, ketika berkunjung ke museum. Mereka memiliki rasa penasaran dan keingin-tahuan yang tinggi. Bisa saja mereka kemudian mencoba untuk menyentuh atau mencoba menduduki kursi, menaiki meja, berlari-larian dan sebagainya. Orang tua perlu mengawasi sang buah hati agar tidak merusak benda-benda koleksi sejarah yang terdapat di sini.

Menghabiskan liburan tidak harus selalu bertujuan membuat hati senang atau melepaskan stres. Tapi tambahkan nilai tambah dengan mendapatkan pengetahuan baru, terutama yang berhubungan dengan sejarah bangsa sendiri. (jari adventure-det)

 

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *