Desa Punya Cerita, Ragam Rasa di Luar Pulau Jawa

Bagi orang yang tinggal di perkotaan, desa barangkali salah satu wilayah impian untuk melepas penat. Di buku-buku semasa sekolah, kita sudah sering disuguhi kisah-kisah menyentuh tentang kawasan pedalaman negeri ini.

Dikatakan desa memiliki kehidupan yang damai, tenteram, toleransi tinggi, serta bernuansa kekeluargaan. Alamnya indah, panoramanya menawan, dan berbagai daya tarik lainnya.

Padahal, desa tidak selalu punya gambaran demikian. Jika memang seindah apa yang tertuang di buku sekolah dasar, barang tentu tidak akan banyak anak desa yang berlomba merantau ke kota dan enggan pulang ke kampung halaman.

Namun nyatanya, banyak masyarakat pedalaman yang memutuskan untuk pergi jauh dari tanah kelahiran. Berikut ini merupakan ragam cerita khususnya di pesisir Nusantara.

 

Sulitnya Hidup di Desa Pesisir

Seperti yang telah kita pahami bersama, pesisir memiliki kecenderungan hawa udara lebih menyengat dibanding kawasan lainnya.

Berbeda dengan mayoritas kota besar yang panas karena aktivitas industri, di desa pesisir murni dipengaruhi oleh letak geografis.

Itu berarti, meski desanya sepi luar biasa sehingga hampir dipastikan tidak ada polusi, cuacanya tetap saja membuat kita kepanasan.

Anda bahkan bisa jadi harus mandi berulang kali hanya untuk meredam rasa gerah yang muncul akibat sengatan sang surya.

Tidak heran, rata-rata penduduk di kawasan pesisir memiliki kulit sawo matang hingga tan eksotis, padahal warna aslinya bisa dikatakan lumayan cerah.

Selain masalah dari rasa nyaman dan aspek kecantikan, tinggal di daerah pesisir juga akan membuat kita merasa sedikit was-was.

Bencana datang tanpa diduga, dengan sulitnya akses informasi dan transportasi publik, besar kemungkinan penanganan dari pihak berwenang akan datang terlambat.

Kendalanya beraneka ragam, selain informasi sulit terekspos ke dunia luar, distribusi logistik juga memerlukan proses yang panjang.

Ini karena segala kemudahan fasilitas dan pembangunan infrastruktur terpusat di Pulau Jawa. Akibatnya, daerah di luar pulau industri ini mengalami berbagai kendala, di mana segala sesuatunya hampir selalu bergantung pada pasokan dari sini.

 

Terbatasnya akses internet

Kesulitan lain yang bisa ditemukan di daerah pesisir di luar Pulau Jawa adalah terbatasnya akses internet.

Sementara kondisi sekarang menuntut kita untuk senantiasa update informasi secara digital. Tetapi, hal semacam ini sering kali bermasalah jika dijalankan di pedalaman. Tidak jarang, penduduk harus memanjat pohon atau ke titik-titik tertentu agar bisa mendapatkan jaringan.

Sebagai efek lanjutannya, penduduk di pedesaan lebih rentan terkena hoaks dibandingkan di perkotaan. Ini bukan berarti penduduk desa memiliki keterbelakangan intelektual. Melainkan, memang tidak cukup fasilitas untuk memperoleh arus informasi sederas-derasnya.

Jikapun anak-anak di desa lebih lambat dalam hal memahami pelajaran, misal terkena gegar budaya ketika merantau, maka hal itupun bahkan dapat dimaklumi.

Sebab, kualitas Pendidikan di negeri ini masih belum merata, di mana lahir di Pulau Jawa bahkan dapat dianggap sebagai suatu hak istimewa.

Anak-anak di desa harus mengejar ketertinggalan semasa sekolah tatkala teman sebayanya di tanah rantau sudah melaju sangat kencang.

Sedikit miris memang, di mana ketimpangan pembangunan memang berimbas pada masalah sosial. Karena itu, butuh kerja sama dari berbagai pihak.

Tak hanya sekadar pemerintah untuk menjadikan Indonesia lebih baik dengan meratakan akses Pendidikan hingga ke daerah-daerah terluar Indonesia.

 

baca juga:

Jangan Percaya! 6 Takhayul Wisata ke Luar Negeri yang Menghambat Perjalanan

 

Senangnya Hidup di Desa Pesisir

Namanya hidup akan selalu ada hal baik dan buruk, susah senang, sedih bahagia, dan masih banyak lagi. Tidak terkecuali dengan kondisi di pesisir Nusantara.

Kita bisa menikmati aneka ikan segar yang hidup bebas di lautan, bukan hasil koservasi dari para nelayan.

Tentu, keuntungan ini sulit ditemukan di kawasan perkotaan, di mana para nelayan sudah lebih maju sehingga kerap mengembangbiakkan ikan sendiri.

Di desa, makanan masih serba alami dan segar. Kita bisa memancing sesuka hati, mencari kepiting, berburu biota laut lainnya.

Menariknya lagi, kehidupan bertetangga di desa biasanya cenderung lebih erat dan bersahabat. Tetangga saling tolong-menolong, ketika mendapat kesulitan ada tempat untuk berbagi keluh kesah, memberikan makanan ke orang lain merupakan aktivitas lumrah, dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, di balik kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat di desa pesisir di luar Pulau Jawa, akan senantiasa kesenangan yang menyertainya. Barangkali, sikap terbaik adalah menerima dan mensyukuri takdir yang telah ditetapkan atas kita.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.