Deretan Makam di Banjarmasin ini Tawarkan Wisata Religi Menarik

Kubah Surgi Mufti – Jalan-jalan di Kota Banjarmasin belum lengkap. Bila tak melakukan wisata religi di beberapa makam tokoh ternama yang ada di sana. Sebut saja Kompleks Makam Sultan Suriansyah yang merupakan raja Kerajaan Banjar pertama yang memeluk agama Islam atau Kompleks Makam Pangeran Antasari. Salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang terkenal akan kegigihannya dalam melawan penjajah Belanda. Kedua makam tersebut sudah sangat populer di kalangan masyarakat Banjarmasin dan banyak didatangi peziarah dari luar.

Selain kedua kompleks makam tersebut, ternyata Kota Banjarmasin masih menyimpan beberapa makam tokoh penting yang dapat dijadikan alternatif kala melakukan wisata religi, yaitu Kubah Surgi Mufti, Kubah Habib Basirih dan Makam Ratu Zaleha. Seperti apa menariknya melakukan wisata religi di ketiga makam keramat tersebut? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

Kubah Surgi Mufti

Kubah Surgi Mufti merupakan makam dari seorang ulama bernama Kyai Haji Jamaluddin yang pernah menjadi mufti di Banjarmasin dan mendapat gelar anumerta Surgi Mufti. Di masa hidupnya, Syeh Surgi Mufti adalah toko agama ternama dan pernah menjabat sebagai Mufti di zaman penjajahan Belanda. Mufti adalah jabatan kerohanian Islam pada masa itu, yang di masa sekarang bisa disetarakan dengan Ketua Majelis Ulama Indonesia.

Lokasi makam berada di Jalan Masjid Jami, Kelurahan Surgi Mufti, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin. Makam sang Kyai terlihat berkelambu dan dilapisi kain kuning. Terdapat dua makam lagi yang berada di samping kanan makam Syeh Surgi Mufti yang memiliki ukuran lebih kecil serta satu makam lagi yang ada di samping kiri. Makam yang berada di samping kanan adalah makam dari anak dan menantu Syeh Surgi Mufti, sedangkan yang berada di samping kiri adalah kuburan istri Syeh Surgi Mufti, yaitu Datu Aisyah. Makam-makam tersebut berada di dalam bangunan berbentuk kubah di halaman sebuah rumah tradisional Banjar yang dulu ditempati oleh Syeh Surgi Mufti bersama keluarganya. Semenjak kepergiannya pada 1927, rumah kemudian dihuni oleh keturunannya hingga kini dijadikan museum dan dibuka untuk umum. Di dalam rumah, pengunjung dapat melihat beberapa dokumen dan foto penting terkait Syeh Surgi Mufti dan keluarganya.

Kubah Surgi Mufti biasa didatangi peziarah setiap harinya, namun paling ramai di kala Sabtu dan Minggu. Para peziarah biasanya tak hanya berziarah dan menabur bunga saja melainkan mempunyai hajat-hajat tertentu. Mereka percaya bila hajatnya akan dikabulkan Allah dengan turut mendoakan wali Allah seperti Syeh Surgi Mufti.

Kubah Habib Basirih

Wisata religi yang satu ini letaknya tak begitu jauh dari jembatan tol menuju kawasan Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, tepatnya di Jalan Keramat RT 13, Kelurahan Basirih, Kecamatan Banjarmasin Barat. Kubah Habib Basirih adalah makam dari  seorang ulama Banjar Habib Hamid bin Abbas Bahasyim atau lebih dikenal dengan sebutan Habib Basirih. Konon, Habib Basirih masih ada hubungan kekeluargaan dengan salah satu walisongo, Sunan Ampel (Raden Rahmat), yakni keduanya merupakan keturunan dari Waliyullah Muhammad Shahib Mirbath (keturunan generasi ke-16 dari Rasulullah Muhammad SAW).

Untuk melakukan wisata religi ke Kubah Habib Basirih, pengunjung bisa menempuh jalur darat maupun sungai. Bila jalur darat yang dipilih, rute yang dilalui adalah Jl.Gubernur Subardjo, Lingkar Selatan (jalan tol), Jl.Trisakti, serta Komplek Lumba-Lumba. Bila lewat sungai, memanfaatkankan saja Sungai Basirih.

Tak hanya kuburan Habib Basirih saja yang ada di sekitar kawasan Kubah Habib Basirih, namun terdapat makam keramat lainnya. Sebut saja kuburan keponakan Habib Basirih, yakni Habib Batilantang (Habib Ahmad bin Hasan bin Alwi bin Idrus Bahasyim) yang berada di seberang Sungai Basirih, juga makam ibu Habib Basirih, Syarifah Ra’anah dan makam-makam lainnya didekat Kubah Habib Basirih. Wisata religi Anda pastinya akan terpuaskan di sini.

Makam Ratu Zaleha

Ratu Zaleha atau Gusti Zaleha adalah salah satu tokoh emansipasi wanita asal Kalimantan. Beliau adalah puteri dari Sultan Muhammad Semad bin Pangeran Antasari yang gigih berjuang mengusir Belanda dalam Perang Banjar melanjutkan perjuangan Pangeran Antasari. Ratu Zaleha bergabung dengan para wanita Dayak yang sama-sama sudah memeluk Islam untuk melawan penjajah. Beliau terus berjuang hingga ayahnya gugur dan suaminya Gusti Muhammad Arsyad akhirnya menyerah pada Belanda pada 1904.

Setelah benteng Manawing jatuh, Ratu Zaleha bersembunyi ke Lahei dan selanjutnya ke Mia di tepi Sungai Teweh yang dianggap aman dari pengejaran Belanda. Akibat kondisi fisik yang tak lagi memungkinkan untuk lari dari kejaran Belanda, sang ratu pun akhirnya menyerahkan diri kepada Belanda pada 1906 dan kemudian diasingkan ke Bogor bersama suaminya. Di masa tuanya, Ratu Zaleha pulang ke kampung halaman dan wafat pada 23 September 1953. Beliau dimakamkan di  Jalan Malkon Temon, Kelurahan Surgi Mufti, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, masih satu kompleks dengan sang kakek Pangeran Antasari. Jadi saat wisata religi ke Kompleks Makam Pangeran Antasari, pengunjung tak hanya menemukan makam Pangeran Antasari tapi juga makam sang cucu Ratu Zaleha yang sama-sama dengan gigihnya berusaha melepaskan Kalimantan Selatan dari jeratan penjajahan Belanda.    

***

Pada dasarnya, meskipun memiliki lokasi yang berbeda-beda, makam-makam bersejarah yang bertebaran di wilayah Banjarmasin, Kalimantan Selatan, merupakan sebuah bukti sejarah, betapa banyak pahlawan nasional dari tanah Banjar yang dengan semangat berkobar tidak mau menyerah begitu saja kepada kolonialis Belanda.

Meskipun nyawa sebagai taruhan, lebih baik mati karena berjuang. Daripada hidup namun dari belas kasihan para penjajah Belanda. Bahkan, semboyan ‘Waja Sampai Ka Putting’ yang berarti perjuangan yang tiada henti. Hingga tetes darah penghabisan menjadi kalimat yang tiada henti berdengung di setiap telinga para pahlawan tanah Banjar. Sampai mereka akhirnya menghembuskan napas terakhir dan disemayamkan di makam-makam bersejarah tersebut.

Makna wisata religi

Mengunjungi makam-makam bersejarah dari tanah Banjar, akan mengingatkan setiap pengunjung. Bahwa kehidupan ini pasti nanti akan bermuara pada kematian. Maka dari itu, selama masih bisa bernapas, isilah kehidupan dengan sebaik mungkin. Agar memiliki bekal yang cukup di saat ajal menjemput. Wisata ke makam-makam dari para tokoh tanah Banjar juga memberikan suntikan semangat yang tidak kenal menyerah atau putus asa. Meskipun rintangan dan berbagai masalah menghadang. Meskipun Belanda melancarkan segala macam tipu muslihat dan taktik untuk menangkap para tokoh-tokoh religi dan politik dari tanah Banjar. Namun tiada satu pun yang berhasil meluluhkan semangat perjuangan para tokoh dari Banjarmasin.

Selain menawarkan wisata religi sebagai bahan renungan para pengunjung yang ingin memaknai apa arti kehidupan. Wisata ke makam-makam bersejarah juga memberikan edukasi kepada masyarakat. Tentang sejarah dan budaya nenek moyang leluhur tanah Banjar khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

“You only live once, but if you do it right, once is enough”. Selain kehidupan, kematian juga adalah sesuatu yang pasti. Jadi, tiada salahnya berkunjung ke makam-makam bersejarah. Sebagai wisata spiritual dan edukasi diri pribadi. (jari adventure-det)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *