Debus, Atraksi Budaya Mengagumkan Asal Banten

Debus – Banten merupakan sebuah provinsi di Tatar Pasundan. Letaknya ada di wilayah paling barat Pulau Jawa. Sebelumnya, Banten merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Namun sejak pemekaran pada 2000 lalu, Banten menjadi sebuah provinsi tersendiri dengan pusat pemerintahan di Kota Serang. Di wilayah ini, terdapat satu suku asli yang juga bernama Banten. Menurut sebagian orang, warga Banten adalah warga Sunda juga karena kebudayaan yang mereka kembangkan umumnya hampir serupa.

Seperti suku lain di Indonesia, Banten juga memiliki beragam jenis kesenian tradisional. Salah satu kesenian yang bahkan telah menjadi ikon suku ini adalah Debus. Tak heran bila setiap kali diadakan apresiasi budaya di Banten maka pertunjukan Debus ada didalamnya. Baru-baru ini Debus juga berhasil masuk dalam nominasi “10 Atraksi Budaya Terpopuler” di Indonesia. Wah, keren sekali bukan? Untuk mengetahui lebih jauh tentang kesenian mengagumkan asal Banten ini, Anda dapat menemukannya dalam artikel berikut.

Sejarah Debus

Pada awalnya, Debus digunakan sebagai sarana menyebarkan ajaran Islam di wilayah Banten. Namun, pada masa penjajahan Belanda dan saat pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa, atraksi budaya unik ini berubah fungsi sebagai pembangkit semangat pejuang dan juga rakyat Banten untuk berperang mengusir penjajah. Pada masa kini, Debus hanya berfungsi sebagai sarana hiburan rakyat.

Konon, Debus memiliki kaitan dengan tarikat Rifaiah yang dibawa oleh Nurrudin Ar-Raniry ke Aceh pada abad ke-16. Para pengikut tarikat ini memiliki kebiasaan menghantamkan berbagai benda tajam ke tubuh mereka bila sedang dalam keadaan epiphany (kegembiraan yang tak terhingga karena “bertatap muka” dengan Tuhan). Dengan filosofi ‘lau haula walla Quwata ilabillahil ‘aliyyil adhim’ yang artinya tiada daya upaya melainkan karena Allah semata, mereka percaya bila pisau, golok, parang atau peluru sekalipun tidak akan melukai mereka tanpa seijin Allah.

Tatacara Debus

Debus biasa dimainkan oleh seorang syeh (pemimpin permainan) ditambah dengan beberapa pezikir, pemain dan juga penabuh gendang. Keseluruhan pemain pertunjukan Debus melaksananakan pantangan-pantangan tertentu sekitar 1 atau 2 minggu sebelum pertunjukan dimulai agar terhindar dari bahaya. Diantara pantangan tersebut adalah tidak boleh minum-minuman keras, tidak boleh berjudi, tidak boleh mencuri, tidak boleh tidur dengan isteri atau perempuan lain dan lain sebagainya.

Pertunjukan Debus biasanya digelar di halaman rumah saat ada acara-acara lain yang melibatkan banyak orang. Peralatan yang digunakan dalam atraksi budaya ini adalah Debus dengan gada-nya, golok atau pisau yang digunakan untuk mengiris tubuh pemain, bola lampu yang akan dikunyah atau dimakan, panci yang digunakan untuk menggoreng telur di atas kepala pemain, buah kelapa, minyak tanah dan lainnya. Beberapa alat musik pengiring juga dipersiapkan untuk meramaikan pertunjukan, seperti gendang besar dan kecil, rebana, kecrek dan seruling.

Rangkaian acara Debus

Atraksi Debus biasanya dibuka dengan alunan beberapa lagu tradisonal sebagai lagu pembuka atau Gembung dan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan dzikir dan juga macapat yang berisi puji-pujian terhadap Sang Pencipta dan juga Rosulnya, Muhammad. Pembacaan dzikir dan pujian ditujukan untuk mendapatkan lindungan dari Yang Maha Kuasa selama pertunjukan Debus digelar. Acara dilanjutkan dengan pertunjukan pencak silat yang diperagakan oleh satu atau dua pemain tanpa menggunakan senjata tajam.

Setelah peragaan silat, acara inti Debus yang dinanti-nanti penonton pun dimulai. Dalam permainan ini, berbagai macam atraksi ekstrim dilakukan, seperti menusuk perut dengan menggunakan Debus, memotong buah kelapa dan membakarnya di atas kepala, mengupas buah kelapa dan memecahkannya dengan cara dibenturkan ke kepala sendiri, menyayat tubuh dengan sejata tajam seperti golok dan pisau, menggoreng telur dan kerupuk di atas kepala. Masih ada lagi yaitu membakar tubuh dengan minyak tanah atau berjalan-jalan di atas bara api, memanjat tangga yang anak tangganya berupa mata golok-golok tajam dengan bertelanjang kaki, memakan kaca atau bola lampu serta menyiram tubuh dengan air  keras.

Apabila terjadi kecelakaan saat pertunjukan dan mengakibatkan pemain terluka maka Syeh akan menyembuhkan dengan mengusap bagian tubuh pemain yang terluka sambil membaca mantera-mantera hingga luka tersebut sembuh seketika.

Sarat nilai filosofis

Bukan hanya sekedar pertunjukan yang mempertontonkan kekebalan tubuh. Atraksi budaya Debus ini ternyata mengandung banyak nilai  acuan dalam kehidupan. Sebut saja kerja sama, religius dan kerja keras. Nilai kerja sama dapat dilihat dari upaya para pemain Debus yang saling bahu-membahu untuk menghasilkan pertunjukan yang sukses dan disukai banyak penonton. Sedangkan nilai religius tercermin dari doa yang dipanjatkan oleh para pemain. Untuk senantiasa mendapatkan perlindungan dan keselamatan dari Allah. Selama melakukan atraksi-atraksi berbahaya untuk menghibur penonton. Tak ketinggalan, nilai kerja keras nampak dari ketekunan untuk terus berlatih dan juga keteguhan hati para pemain. Untuk tidak melanggar setiap pantangan agar ilmu Debus yang mereka kuasai bisa sempurna.  (jari adventure-det)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *