Keunikan Candi Laras di Kecamatan Candi Laras Selatan, Kalsel

Candi Laras Candi erat kaitannya dengan peninggalan purbakala yang berasal dari peradaban Hindu atau Budha. Tak hanya sebagai tempat pemujaan, istilah candi juga dipergunakan masyarakat pada masanya sebagai istana (kraton), pemandian, gapura dan lain sebagainya. Beberapa candi dibangun sangat megah, detil, bercitarasa estetika yang luhur, mewah dan menggunakan teknologi arsitektur yang maju pada zamannya.

Sebut saja Candi Borobudur dan Prambanan di Jawa yang bahkan kini menjadi obyek wisata yang populer, sebagai contohnya. Hingga kini bangunan-bangunan tersebut menjadi bukti betapa tingginya peradaban nenek moyang Bangsa Indonesia. Selain Jawa, candi juga ditemukan di wilayah Indonesia lainnya, seperti Bali, Sumatera dan Kalimantan. Namun memang jumlahnya tak sebanyak yang ditemukan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Kalimantan Selatan, misalnya, terdapat dua candi yang juga menjadi obyek wisata, salah satunya adalah Candi Laras di Kecamatan Candi Laras Selatan. Seperti apa dan bagaimana sejarah situs purbakala yang ada di Kecamatan Candi Laras Selatan, Tapin, Kalimantan Selatan ini? Simak ulasannya berikut ini!

Lokasi

Candi Laras adalah situs candi berukuran kecil yang ditemukan di lokasi yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan Tanah Tinggi, tepatnya di posisi koordinat 252′,6″ LS dan 114 56’0,7″ BT. Beberapa potongan arca Batara Guru memegang cupu, lembu Nandini dan lingga ditemukan pada situs candi ini. Benda-benda bersejarah ini tersimpan rapi di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru. Letak Candi Laras termasuk kurang strategis sehingga menurut perkiraan candi ini didirikan untuk tujuan tertentu. Ada yang menyebutkan bahwa Candi Laras ini sebenarnya merupakan candi kenegaraan.

Tempat persinggahan

Tak jauh dari lokasi Candi Laras, tepatnya di daerah aliran sungai Amas ditemukan pula sebuah arca Buddha Dipangkara dan tulisan beraksara Pallawa yang berhubungan dengan agama Buddha, berbunyi “siddha” (selengkapnya seharusnya berbunyi “jaya siddha yatra” artinya “perjalanan ziarah yang mendapat berkat”). Pada masa lampau, daerah sekitar situs Candi Laras merupakan wilayah Kerajaan Negara Daha sehingga diperkirakan kerajaan ini menganut agama Syiwa-Buddha.

Kondisi fisik

Bangunan Candi Laras secara fisik berupa sumur tua. Bangunan candi ini berada di sebuah pematang sawah yang dikelilingi oleh persawaha warga sekitar. Di sekitar sumur juga terdapat beberapa batang kayu ulin besar yang berumur ratusan tahun. Selain itu, terdapat dua buah batu besar yang dikenal sebagai Batu Babi oleh masyarakat setempat. Benda bersejarah tersebut kini dapat ditemukan sebagai salah satu koleksi Museum Banjarbaru.

Baca juga: Soto Banjar, Kuliner Terpopuler Asal Kalimantan Selatan

Sejarah

Menurut perkiraan, situs purbakala Candi Laras dibangun pada 1300 Masehi oleh Jimutawahana, keturunan Dapunta Hyang dari kerajaan Sriwijaya. Jimutawahana inilah yang sering disebut-sebut sebagai nenek moyang masyarakat Tapin. Bila dilihat dari tahun pembuatannya, Candi Laras sebenarnya berusia lebih tua dari candi serupa yang ada di Amuntai yaitu Candi Agung yang dibangun pada 1350 Masehi pada masa kerajaan Negara Dipa.

Akses lokasi

Sebenarnya jarak antara Candi Laras dengan pemukiman warga sekitar tak terlalu jauh atau hanya sekitar 1 km saja. Namun sayangnya tidak ada jalur darat yang menghubungkan Candi Laras dengan desa terdekat. Oleh karena itu, pengunjung harus menggunakan perahu tradisional khas Banjar yaitu Jukung untuk bisa mencapai lokasi situs purbakala. Selain itu, pengunjung juga dapat menyewa perahu klotok, alat transportasi sungai yang biasa digunakan masyarakat yang terbuat dari bahan kayu keras seperti ulin dan digerakkan menggunakan mesin kendaraan roda empat serta berbahan bakar solar.

Seiring perubahan situasi politik keagamaan pada masa itu, situs purbakala Candi Laras pernah mengalami kehancuran. Untungnya, benda-benda peninggalan bersejarah yang penting tersebut masih ada di museum Lambung Mangkurat Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Museum ini juga banyak menyimpan benda-benda peninggalan Kesultanan Banjar. Untuk mengenang keberadaan Candi Laras, nama situs purbakala ini kemudian digunakan sebagai nama Kecamatan di Kabupaten Tapin, yakni Kecamatan Candi Laras Utara dan Kecamatan Candi Laras Selatan. Candi Laras juga merupakan obyek wisata yang menarik di Kalimantan Selatan.

Tips wisata ke Candi Laras

Candi Laras sendiri mungkin tidak begitu populer untuk dijadikan salah satu tempat tujuan wisata ke Kalimantan Selatan. Padahal, jika para pengunjung mengamati lebih detail, keberadaan Candi Laras merupakan salah satu candi unik. Lokasinya terpencil dan jauh dari pemukiman masyarakat. Pada masa dahulu, tentu akan sangat sulit membangun sebuah candi yang terbuat dari batu-batu besar berbobot hingga puluhan ton menyeberangi sungai. Pembangunan candi memang sangat unik untuk dikupas dan dipelajari. Inilah sebabnya, meskipun berkunjung ke ‘batu bersusun’ yang statis dan tidak populer, tetapi tetap saja mampu memiliki daya pikat tersendiri bagi para pecinta wisata candi.

Inilah tips wisata ke Candi Laras yang bisa Anda simak:

Sewa perahu

Untuk mencapai lokasi Candi Laras, para pengunjung perlu merogoh kocek sekitar mulai dari Rp 25.000 untuk menaiki atau menyewa perahu menuju ke tempat wisata Candi Laras.

bawa perbekalan

Mengingat lokasi yang terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk, sebaiknya bawa sendiri perbekalan secukupnya seperti air minum dan snack untuk mengobati perut yang lapar ataupun mencegah anak-anak rewel.

pakai sepatu

Mengingat track atau medan yang terpencil, disarankan untuk memakai sepatu atau sandal outdoor agar permukaan dasar alas kaki tidak mudah licin.

bawa kamera

Jangan lupa untuk membawa serta kamera Anda untuk mengabadikan setiap momen selama perjalanan wisata ke Candi Laras ataupun ketika mendapati obyek menarik di sekitar kawasan Candi Laras.

hati-hati menapak

Candi Laras bisa dikategorikan sebagai candi yang kecil dan rentan kerusakan. Oleh karena itu, para pengunjung dihimbau untuk selalu hati-hati saat menapakkan kaki atau melangkah agar tidak merusak batu-batu candi yang ada.

menjaga kebersihan

Meskipun banyak rintangan dan melewati perjalanan yang relatif sulit, namun tidak seharusnya para pengunjung mencorat-coret batu candi untuk sekadar mengabadikan nama atau sebagai tanda jika sudah pernah berkunjung ke sana. Batu-batu candi yang tersusun merupakan peninggalan budaya dari nenek moyang masyarakat Tapin yang harus selalu dilestarikan. Selain menjaga bangunan atau struktur candi dari kerusakan, para pengunjung juga wajib menjaga kebersihan di sekitar kawasan Candi Laras.

***

Tidak banyak orang yang senang melihat candi, mereka menganggap candi hanyalah batu bersusun yang kurang menarik sebagai simbol religi di masa lampau. Apalagi jika membawa serta anak-anak, tentu akan sedikit ekstra ‘usaha’ dari segi transportasi maupun fisik untuk mencapai lokasi. Namun, jika pemerintah setempat mampu mengelola dan memberikan fasilitas atau sarana bagi para pengunjung seperti perahu klotok gratis, kamar mandi/toilet umum, tempat suvenir, tempat makan/minum, tempat bermain anak-anak, dan lain-lain, bukan tidak mungkin, ‘batu bersusun’ Candi Laras yang dianggap tidak populer oleh masyarakat, berubah menjadi aset emas daerah yang menghasilkan pundi-pundi uang untuk kemaslahatan seluruh masyarakat terutama para penduduk lokal.

Jika bukan pemerintah setempat dan kerja sama dengan masyarakat di sekitar Candi Laras, siapa lagi yang akan mengupayakan kelestarian salah satu peninggalan budaya dan sejarah bangsa yang sangat bernilai ini.

Semoga saja pemerintah setempat bisa memberikan fasilitas yang lebih memadai bagi para pengunjung di Candi Laras. Tertarik untuk berdarmawisata ke Candi Laras? Lokasi penemuan Candi Laras dapat ditempuh sekitar 30 km dari barat ibukota kabupaten Tapin, Kota Rantau. Selamat bersenang-senang! (jari adventure-det)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.