Candi Gedong Songo Semarang, Monumen Budaya Dinasti Sanjaya

Candi Gedong Songo tidak lain adalah Monumen budaya yang bertahan dari berbagai perubahan zaman. Kompleks Candi Gedong Songo merupakan situs percandian yang terdiri dari beberapa bangunan candi berlanggam kuno. Kompleks Candi Gedong Songo terletak di Dusun Darum desa Candi Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang.

Berada pada lereng Selatan Gunung Ungaran dengan ketinggian antara 1200 sampai 1310 meter di atas permukaan laut. Komplek Candi Gedong Songo ditemukan pada tahun 1740 oleh Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles. Komplek candi ini telah mengalami mengalami berbagai macam penelitian maupun pemugaran baik oleh pemerintah kolonial maupun pemerintah Indonesia.

Bangunan Candi Gedong Songo merupakan komplek percandian yang memiliki latar belakang Agama Hindu. Berdasarkan perhitungan pertanggalan absolut, diperkirakan Candi ini dibangun pada abad ke-8 pada Dinasti Sanjaya. Budaya situs Candi Gedong Songo berlangsung pada abad ke-8 hingga abad ke-15. Situs Gedong Songo menempati area kurang lebih 5 hektar dengan candi-candinya yang tersebar pada punggung-punggung bukit.

Secara harfiah gedong berarti “Rumah/Bagunan” dan Songo berarti “sembilan” sehingga Candi Gedong Songo memiliki arti “Sembilan Bangunan Candi”. Meski dinamakan Candi Gedong Songo namun kenyataannya hanya ada susunan 7 candi saja yang berdiri. Hal ini karena ada beberapa candi yang masih belum tersusun ataupun direnovasi.

Sejak tanggal 11 Juni 2018, pada tempat Candi Gedong Songo ini resmi dijadikan destinasi wisata edukasi yang diberi nama Taman Wisata Ayanaz Gedong Songo. Tepatnya di area candi 1 (candi gedong satu) yang hanya berjarak lebih kurang 150 meter dari pintu masuk.

Tempat wisata ini menjadi tempat yang menarik bagi para wisatawan dari berbagai daerah. Para pengunjung dapat berfoto dengan latar bangunan candi atau keindahan alamnya. Pengalaman yang bisa diperoleh saat berwisata di Candi Gedong Songo di antaranya :

Mempelajari Sejarah dan Mitos Candi Gedong Songo

Wisata ini juga telah memfasilitasi bagi para pengunjung berupa Tour Guide yang siap melayani wisata para pengunjung dan menceritakan sejarah mengenai Candi Gedong Songo.

Meskipun satu kesatuan Kompleks Candi namun tiap-tiap Candi Gedong Songo memiliki kekhasan tersendiri. Jika diamati akan terdapat beberapa perbedaan dari mulai Candi Gedong Satu hingga Candi Gedong Lima. Kekhasannya terletak pada arca-arca yang ada di relung-relung candi, adanya Lingga Yoni, dan adanya Arca Nandi.

Kompleks Candi Gedong Songo memiliki kelengkapan seperti dijelaskan pada kitab vastusastra. Berdasarkan kitab vastusastra diketahui bahwa tanah untuk Candi dipilih jenis tanah yang baik berdasarkan warna, bau, kelandaian, jenis tanaman, dan kandungan tanah. Akan tetapi terdapat perbedaan Candi Gedong Songo yang berlanggam Hindu dengan candi Hindu lain.

Karakteristik Candi Gedong Songo

Ciri khas Candi Gedong Songo ditunjukkan dengan adanya Arca Agastya yang menunjukkan peran manusia atau resi setingkat dewa sebagai pengawal candi. Ciri lainnya ditunjukkan dengan posisi candi yang berderet dari bawah hingga ke atas. Hal ini diyakini oleh masyarakat sebagai gambaran adanya suatu prosesi keagamaan yang dilakukan dari Candi terbawah hingga teratas.

Bangunan suci atau candi yang berada di suatu lokasi kerapkali memiliki cerita dan mitosnya tersendiri tak luput juga Candi Gedong Songo. Masyarakat sekitar Candi Gedong Songo mempercayai mitos Dasamuka yang dikurung di dalam perut gunung Ungaran.

Mitos ini berkaitan dengan adanya sumber air panas di sekitar kawasan Candi. Menurut mitos yang berkembang dalam masyarakat suara gemuruh dari dalam kawah ini merupakan suara Dasamuka yang ingin bangkit dari kawah tersebut. Suara menggelegar dari kawah yang sesungguhnya adalah uap air yang disertai gas-gas seperti belerang metana dan lain-lain.

Dasamuka adalah Raja raksasa dari Alengka yang dihukum Hanuman di perut gunung. Mitos ini sesungguhnya disarikan dari kakawin Arjuna Wijaya dari era Majapahit tentang Rahwan.

Dalam kepercayaan masyarakat Hindu-Buddha puncak gunung merupakan tempat suci dan merupakan tempat bersemayam para dewa. Itulah sebabnya mengapa kawasan candi berada di daerah pegunungan.

baca juga:

Eloknya Pantai Takisung di Tanah Laut, Kalimantan Selatan

 

Menikmati Pemandangan dengan Naik Balon Udara

Di taman wisata ini para pengunjung dapat menikmati pemandangan dengan naik balon udara yang terdiri dari tiga jenis ukuran. Balon udara tersebut memiliki corak aneka warna yang unik. Dengan naik balon ini, para pengunjung dapat melihat wilayah pemukiman penduduk Ungaran dan menyaksikan birunya Danau Rawapening.

Spot-Spot untuk Berselfie

Selain itu, pengelola taman ini juga menyediakan spot buatan untuk berfoto dengan tema-tema yang unik. Tema ini dibangun dengan sangat memperhatikan gaya terkini yang banyak digandrungi oleh para pengunjung. Para pengunjung dapat mengabadikan pengalamanya dengan berselfie denga latar seperti bubble tend, hammock, ruang duduk santai di tengah kolam, dan beberapa tempat duduk yang berbentuk unik.

Jam operasional Candi Gedong Songo adalah sejak pukul 06.30 sampai dengan pukul 18.00.  Harga tiket bervariatif mulai dari Rp 10.000,00 untuk anak-anak sampai Rp 20.000,00 untuk dewasa.

Selain itu, tempat ini juga sudah menyediakan paket wisata dengan tarif yang bervariatif, cocok untuk pengunjung dengan jumlah yang banyak.

Destinasi wisata ini terletak sekitar 23 km dari Kota Semarang. Dari pusat Kota Semarang hanya membutuhkan waktu lebih kurang 1 jam untuk sampai ke Candi Gedong Songo melalui Jl. Jimbaran Tegalpanas atau melalui Jl. Bawen-Ambarawa.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.