Benteng Kuto Besak, Benteng Kebanggaan Wong Palembang

Mendengar kata Palembang, orang-orang pasti akan teringat wisata kuliner dan jembatannya yang sangat popular. Sebagai kota tertua di Indonesia, Palembang ternyata juga menyimpan wisata sejarah lainnya, salah satunya Benteng Kuto Besak yang menjadi kebanggaan wong atau orang Palembang. Terbuat dari batu setinggi sepuluh meter, benteng ini berdiri kokoh di tengah kota dan menjadi saksi perlawanan Kesultanan Palembang terhadap penjajah Belanda.

Kejayaan Sultan Badaruddin II

Setelah Kerajaan Sriwijaya runtuh di abad ke-13, Palembang menjadi seperti kota mati dan dijadikan tempat bersarangnya bajak laut. Baru setelah beberapa tahun menjadi wilayah tak bertuan, berdirilah Kesultanan Palembang bernuansa Islam dan berpusat di Kota Palembang. Dari sini, pengaruh pengembangan ajaran agama Islam di nusantara mulai berjalan cukup pesat. Terutama saat pemerintahan dipegang oleh tokoh Islam berpengaruh, Sultan Mahmud Badaruddin II.

Benteng pertahanan kesultanan Palembang

Benteng Kuto Besak yang kemudian menjadi warisan Kesultanan Palembang Darussalam ini memiliki tiga pintu masuk yang mewakili tiga penjuru mata angin, yaitu sisi timur, barat, dan selatan. Di setiap pintu juga terdapat bastion atau benteng pertahanan yang sama bentuknya, sehingga dikenal juga dengan nama lawang buritan. Tetapi bastion yang terdapat di pojok benteng arah barat laut, memiliki ukuran yang besar dibanding yang lainnya.

Keharmonisan 2 suku

Saat berkunjung ke benteng ini, Anda akan ditemani oleh pemandu wisata yang akan menceritakan sejarah pembangunan benteng ini. Menariknya, Sultan Mamud Badaruddin I ini mengajak penduduk lokal dan etnis Tionghoa untuk membangun benteng ini. Keharmonisan antar suku yang berbeda ini hingga sekarang masih terjaga dengan baik dan terlihat di beberapa warisan budaya, seperti kemeriahan perayaan Cap Go Meh atau Tahun Baru Cina di Palembang.

Memakai putih telur untuk pengganti semen

Uniknya, berdasar catatan sejarah, benteng yang dibangun selama 17 tahun ini menggunakan putih telur untuk melekatkan setiap batu yang menyusun benteng tersebut. Selain itu, bahan baku berbentuk batu kapur yang diambil dari Kabupaten Ogan Komering Ilir juga dimanfaatkan untuk membangun benteng berarsitektur gaya Perancis ini.

Benteng yang memiliki fungsi utama sebagai pos pertahanan ini memiliki panjang 288,75 meter, lebar 183, 75 meter dan tinggi 9,99 meter. Ukuran tersebut cukup digunakan untuk melindungi keberadaan Keraton Kuto Baru dan Keraton Kuto Lama yang ada di dalamnya. Benteng Kuto Besak in mulai dibangun pada tahun 1780 pada masa kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin I dan kemudian dilanjutkan oleh Sultan Mahmud Badaruddin II, hingga akhirnya selesai dibangun pada 1821.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Tentang Festival Tabuik di Pariaman, Sumatera Barat

Keberadaan Benteng Kuto Besak ini tidak bisa lepas dari Kesultanan Palembang, mengingat tujuan utama pendirian benteng ini sebagai pertahanan utama dari serangan lawan. Hal ini diperlihatkan dari pemilihan lokasi yang cukup strategis, dalam melindungi wilayah Palembang dari gempuran penjajahan, yaitu berbatasan langsung dengan Sungai Musi di selatan, Sungai Kapuran di utara, Sungai Sekanak di barat, dan Sungai Tengkuruk di timur.

Runtuhnya era Kesultanan Palembang

Saat peperangan yang terjadi pada tahun 1819, terdapat 129 pucuk meriam di atas tembok Benteng Kuto Besak, sedangkan pada tahun 1821, jumlahnya menyusut menjadi 75 pucuk meriam dan 30 pucuk di sepanjang tembok yang menghadap Sungai Musi.

Sayangnya hal ini berimbas pada kemenangan Belanda dan merampas Benteng Kuto Besak. Sultan Mahmud Badaruddin II dibuang ke Maluku dan mengakhiri era Kesultanan Palembang. Sebagai tanda pendudukan Belanda, terdapat ukiran bergaya kolonial yang menghiasi Benteng Kuto Besak dan menyebutnya sebagai Niuewe Keraton atau Keraton Baru.

Karena berada di pusat kota, pengunjung yang ingin melihat Keraton Kuto Besak ini tidak perlu repot-repot mencari transportasi. Anda dapat menggunakan taksi atau transportasi umum seperti angkot, yang melewati kawasan bersejarah tersebut. Bisa juga memanfaatkan Trans Musi untuk menuju tempat bersejarah ini.

Lokasi benteng ini terbagi dalam satu pelataran luas, dengan latar belakang jejeran pohon palem. Sedangkan halaman Benteng Kuto Besak menyatu dengan menara air di Kantor Walikota Palembang. Kini, bagian dalam benteng bersejarah tersebut digunakan sebagai ruang perkantoran Komando Daerah Militer (Kodam) Sriwijaya. Akibatnya, temapt bersejarah ini tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang, padahal di dalamnya banyak informasi yang dapat diketahui dan dinikmati masyarakat umum.

Tips wisata ke sekitara lokasi wisata Benteng Kuto Besak

Selain mengunjungi keunikan Benteng Kuto Besak, para pelancong dapat menikmati dan menjelajahi keindahan Palembang dari berbagai sisi. Yuk, simak tips berwisata ke Benteng Kuto Besak berikut:

Wisata kuliner di Sungai Musi

Selain populer dengan pesona Benteng Kuto Besak dan wisata sejarah ataupun wisata religi, ke Palembang tidak akan lengkap tanpa mencicipi wisata kuliner dengan bahan utama seafood. Menu kuliner yang bisa dicoba antara lain empek-empek, tekwan dan panganan lain yang lezat. Uniknya lagi, Anda bisa menikmati kuliner ini di tepi sungai musi yang sangat besar.

Singgah di Monumen Perjuangan Rakyat

Monumen Perjuangan Rakyat juga salah satu lambang perjuangan rakyat Palembang menghadapi serangan musuh dari pihak Belanda. Keunikan monument ini bentuknya seperti bunga melati yang memiliki mahkota berjumlah lima. Bunga melati sebagai simbol kesucian menjadi penegas bahwa pahlawan adalah orang yang gugur sebagai sahid atau meninggal dengan kesucian hati.

Jalan-jalan ke Pecinan

Palembang juga terkenal dengan keharmonisan hidup bermasyarakat yang sangat toleran dengan etnis Tiong hoa. Dengan melalui jembatan Ampera ataupun menyeberang menggunakan sampan perahu, para pengunjung sudah bisa menjejakkan kaki di bekas Pecinan peninggalan seorang Kapiten Cina pada abad ke 17 ini.

Berkunjung ke Pasar Malam

Keindahan lokasi wisata di Benteng Kuto Besak, berlanjut ketika malam hari. Tidak jauh dari lokasi benteng, terdapat pasar malam yang menyajikan beraneka hiburan dan wisata. Termasuk wisata kuliner, hiburan dan permainan anak-anak dan sebagainya.

 

Foto selfie di Jembatan Ampera

Ikon utama kota Palembang adalah Jembatan Ampera yang dibangun pada 1906. Berukuran panjang hampir 1 km, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di zamannya. Pada waktu itu, pemerintah ingin membangun jembatan yang bisa menghubungkan antara seberang ilir dan seberang hulu untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Sebagai jalur perdagangan dan kapal-kapal besar, maka arsitektur jembatan juga dibuat dapat membuka untuk memberi jalan kepada kapal yang lewat.

Teknik jembatan masih memakai cara mekanik dengan dua bandul pemberat yang memiliki bobot 500 ton. Kecepatan yang berkisar 10 meter per menit, membuat jembatan ini memakan waktu 30 menit agar bisa membuka secara penuh. Oleh karena itu, kondisi ini dianggap kurang relevan dengan zaman modern sekarang yang semua butuh serba cepat dan praktis. Bayangkan jika ada satu kapal lewat membuat kemacetan selama 30 menit, maka jalur lalu lintas darat di kota bisa lumpuh setiap hari.

***

Namun, Anda tetap dapat mengagumi keberadaan bangunan lawas nan kokoh ini dari luar dan tetap terkagum-kagum dengan kemegahan yang dimilikinya. Jangan lewatkan berfoto di depannya saat sedang berkunjung ke Palembang ya! (jari adventure-det)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *