3 Makam Tokoh Besar di Pulau Bintan Untuk Wisata Religi

Makam Tokoh Bintan – Bintan merupakan kabupaten di Kepulauan Riau. Bintan merupakan salah satu pulau terbesar di antara pulau-pulau termuda di Indonesia. Selain itu jaraknya yang begitu dekat hanya memakan waktu kurang lebih 2 jam dengan negara tetangga yaitu Singapura dan Malaysia.

Menjadikan Bintan kerap kali menjadi incaran para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Selain sebagai pusat pariwisata, Bintan juga menjadi pusat perdagangan, sehingga banyak sekali para wisatawan yang tidak hanya berlibur tapi juga berberlanja. Kabupaten yang lebih banyak dikunjungi karena keindahan pantai dan lautnya ini, ternyata juga menyimpan tempat-tempat  wisata religi.Ada beberapa tempat wisata religi yang bisa menjadi salah satu destinasi anda dalam memilih tempat untuk meningkat nilai spiritual  dan menjadi sebuah bahan renungan. Penasaran apa saja tempat tersebut. Yuk simak bersama-sama!

Makam Bukit Batu

 

Makam Bukit Batu  adalah salah satu tempat yang terdapat di Kepulauan Riau, Kabupaten Bintan. Makam Bukit Batu sangat kental akan tradisinya. Tradisi di Makam Bukit Batu dimulai sejak tahun 1943 yang bertepatan pada zaman penjajahan Jepang.

Sejarah Makam Bukit Batu

Dahulu pada masa Pemerintah Jepang menguasai Indonesia, banyak pemuda-pemuda Bintan yang dipaksa untuk melakukan kerja paksa. Para pemuda Bintan dibawa paksa oleh tentara Jepang untuk bekerja ke Thailand.

Lama menanggung rindu, akhirnya para kerabat Bintan memiliki nazar, jika suatu hari nanti para sanak saudara yang dibawa oleh pemerintah Jepang kembali dengan selamat ke kampung halaman, maka mereka akan berziarah ke makam leluhur di Bukit Batu. Tapi para warga bukan hanya bernazar ingin ziarah, mereka juga berjanji akan membawa buah tangan seperti nasi kunyit, telur serta berbagai jenis bunga untuk hiasan.

Setelah selesai berdo’a bersama, nasi dan telur yang dibawa oleh warga dimakan bersama. Akhirnya Do’a pun terkabul dan pada akhirnya setiap tanggal 27 Rajab warga setempat berbondong-bondong pergi untuk menunaikan nazarnya ke Makam Bukit Batu.

Nah, bagi Anda yang ingin melakukan wisata religi, tempat ini merupakan salah satu destinasi cocok yang bisa dijadikan daftar perjalanan anda. Di Makam Bukit Batu ini memiliki keunikan, karena cat-cat pada tiap tiang penyangga berwarna kuning yang menggambar kearifan para leluhur suku Melayu.

Makam 7 Putri dari Kerajaan Tanah Melayu

Di Makam Bukit Batu  ini anda bisa menjumpai 7 makam putri dari kerajaan Melayu Bintan. Makam ini berlokasi tepat di RT 05/RW 03 Buki Batu Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan.  Konon, dari ke-7 makam Putri Bintan ini hanya 6 yang dapat dilihat dengan kasat mata. Anda pasti penasaran bukan?

1 dari 6 Makam Hanya Bisa Dilihat Mata Batin

Menurut cerita, 1 dari 7 makam tersebut hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang mempunyai mata batin. Makam ini diketahui bernama Makam Datuk Wan Pok, makam permasuri Bintan. Selain 7 makam Putri Bintan, terdapat juga makam Sultan Ahmad Shah. Gimana, penasaran ingin menguji nyali dan indera keenam Anda? Segera berkunjung ke Pulau Bintan ya…

Makam Datuk Penaon

Sekilas membaca tentang Makam Datuk Penaon, pasti membuat anda penasaran bagaimana rekam jejak kehidupan beliau. Makam Datuk Penaon ini merupakan salah satu destinasi wisata religi yang ditawarkan di Bintan. Untuk bisa sampai ke Makam Datuk Penaon anda bisa langsung meluncur ke sebuah desa yang terletak di Desa Ekang KM 62 Bintan, tepatnya di Teluk Sebong.

Sejatinya, dengan keberadaan makam-makam para leluhur mengingatkan generasi penerus bangsa bahwa bangsa Indonesia bisa berdiri dan merdeka seperti sekarang dengan tetesan keringat dan darah para pejuang. Termasuk, Datuk Penaon. Tidak banyak informasi yang bisa diperoleh tentang profil ataupun kisah Datuk Penaon.

Namun masyarakat lokal Sebong meyakini bahwa Datuk Penaon merupakan salah satu tokoh utama pergerakan melawan penjajah dari bangsa Belanda ketika hendak menduduki kawasan kepulauan Riau yang saat itu dikuasai oleh para raja-raja Melayu. Datuk Penaon merupakan salah satu tokoh pejuang dari kalangan darah biru dan ulama yang memberontak terhadap Belanda karena tidak senang dengan penguasaan bangsa Belanda di tanah kelahirannya, Riau.

Makam Datuk Penaon yang masih diliputi misteri tentu akan membuat para pengunjung semakin penasaran dan menggali banyak informasi tentang siapakah beliau dan apa saja sepak terjang beliau di kawasan Teluk Sebong, Desa Ekang.

Konon, kabar lain menyebutkan jika Datuk Penaon adalah salah seorang tokoh religi yang turut menyebarkan agama Islam di Desa Ekang/ Teluk Sebong. Sekaligus membuka hutan pertama kali untuk dijadikan pemukiman penduduk atau warga desa.

Makam Sultan Abdurrahman Tambelan

Sejenak ketika kita berziarah ke Makam Sultan Abdurrahman Tambelan ini mengingatkan pada perjalanan panjang sejarah sebuah Kampung Tambelan Sampit. Trletak di Kecamatan Pontianak. Sultan Abdurrahman Tambelan berasal dari daerah Tambelan. Bergelar Dato’ Kaya/Tok Kaye Abdurrahman dan menjadi panglima sultan.

Baca Juga: Serunya Jelajahi Pesona Pulau Bintan

Dari kepercayaan kesultanan Pontianak akhirnya beliau diizinkan membuka areal tanah. Kemudian menjadi sebuah pemukiman yang diberi nama Kampung Tambelan  Sampit. Sesuai dengan daerah asal Sultan Abdurrahman Tambelan. Wilayah permukiman ini kira-kira sebesar 0,41 km2 . Secara administratif masuk dalam kawasan kecamatan Pontianak Timur.

Sejarah Sultan Abdurrahman Tambelan

Sejarah singkat tentang Sultan Abdurrahman Tambelan. Beliau merupakan salah seorang tokoh religi dan bangsawan berdarah biru. Keturunan dari raja-raja yang memerintah di tanah Riau. Tercatat, ketika mangkat Sultan Abdurrahman Tambelan adalah orang nomor 1 di Lingga-Riau pada masa 1883 M-1913 M atau Sultan Lingga Riau yang ke-4.

Pada masa penjajahan Belanda. Sultan Abdurrahman Tambelan tidak pernah gentar untuk terus gencar melakukan perlawanan dan pemberontakan. Dengan cara gerilya atau diam-diam. Namun, sayang sekali, ternyata perlawanan ini diketahui oleh pihak Belanda. Sehingga membuat Sultan Abdurrahman Tambelan harus dimakzulkan atau dikudeta dari tahtanya. Melalui sebuah Surat Keputusan Pemerintah Belanda yang saat itu ditanda-tangani pada tahun 1913.

Perlawanan Belanda

Dalam Surat Keputusan tersebut, pihak Belanda memberlakukan peraturan baru. Yaitu menghapus kesultanan Melayu Lingga- Riau yang saat itu tengah dipimpin oleh Sultan Abdurrahman Tambelan. Sontak, dengan terbitnya surat keputusan tersebut maka berakhir pula kekuasaan kesultanan Lingga – Riau secara paksaan yang meliputi kekuasaan kemaharajaan Melayu Sriwijaya, kepulauan Bintan hingga Malaka.

Meskipun demikian, pihak Belanda menggunakan taktik licik untuk menghentikan perlawanan di setiap daerah. Namun bangsa Indonesia tidak pernah menyerah dan gentar dengan segala tipu muslihat dan taktik yang sudah dilepaskan.

Walaupun, Sultan Abdurrahman Tambelan mangkat, tetapi beberapa tahun kemudian, muncul generasi-generasi pejuang baru yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari tanah Riau.

Berkunjung ke Makam Sultan Abdurrahman ini mengingatkan kita bahwa meski letak pulau-pulau di Indonesia terpisah oleh lautan namun tetap satu adanya yakni Indonesia.

Nah, Bagaimana tertarik berkunjung? Ternyata bukan hanya pantai tapi juga wisata religi ada di Bintan.

Tunggu apalagi. Selamat berlibur dan berziarah ya! (jari adventure-det)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *