2 Situs Sejarah di Bintan Yang Wajib Dikunjungi

Makam Sultan Muhayatsyah Tambelan dan Situs Kota Kora Sebagai salah satu pulau wisata yang dikelola dengan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah lokal, Pulau Bintan telah disulap menjadi tempat tujuan wisata para pelancong dari berbagai macam daerah. Tidak hanya wisatawan domestik yang terpikat dengan pesona alam dan sejarah keberadaan nenek moyang Pulau Bintan, melainkan wisatawan dari negeri Jiran seperti Malaysia dan Singapura juga tercatat kerap menyambangi pulau yang berada di Kepulauan Riau ini.

Tak pelak, hal ini menumbuhkan agen travel wisata dengan subur. Salah satu yang memiliki reputasi terpercaya selama bertahun-tahun adalah Jari Adventure yang siap mengakomodir segala kebutuhan perjalanan wisata Anda ke Kepulauan Riau. Menjelajahi pesona keindahan alam dan sejarah Pulau Bintan seakan tidak akan pernah puas.

Bintan cukup banyak menyimpan aneka macam destinasi wisata. Tidak terkecuali, wisata sejarah berupa makam-makam tokoh penting di Kesultanan Riau. Situs sejarah ini cukup menarik untuk bisa dikunjungi. Penasaran apa saja? Simak sama-sama yuk!

Makam Sultan Muhayatsyah Tambelan

Pulau Tambelan merupakan salah satu pulau yang terletak dekat dengan Provinsi Kalimantan Barat sebelah Utara Khatulistiwa atau tepatnya Laut Cina Selatan sekitar 210 mil dari pusat Pemerintah Kab. Bintan. Meski dekat dengan Provinsi Kalimantan Barat, Pulau Tambelan tetaplah bagian dari Kabupaten Bintan.

Sebagai pulau yang dijadikan destinasi wisata, Pulau Tambelan memiliki sejarah yang patut diketahui oleh penduduk Indonesia. Pasalnya, Pulau Tambelan ini memiliki keindahan yang benar-benar bisa memanjakan mata para wisatawan. Dengan kondisi pulau yang dikelilingi indahnya pasir putih dan bermacam-macam resort, jika Anda berkunjung ke Pulau Tambelan jangan lupa untuk berziarah ke Makam Sultan Muhayatsyah Tambelan.

Konon, Sultan Muhayatsyah berasal dari Negeri Jiran Malaysia yang menyelamatkan diri dari Sultan Iskandar Muda di Aceh. Dalam perjalanan menuju Pulau Kalimantan, Sultan Muhayatsyah meninggal karena sakit dan dimakamkan di Pulau Tambelan.

Kerajaan Johor Riau

Dalam perkembangannya, Sultan Muhayatsyah memiliki andil dalam kerajaahan Johor Riau. Sultan Muhayatsyah  pernah menjadi sultan Johor IV yang memerintah pada tahun 1615-1623. Bahkan pada tahun 1623, Pulau Tambelan sendiri pernah menjadi Pusat Pemerintahan Kesultanan Johor.

Makam Sultan Muhayatsyah Tambelan yang terletak di Desa Batu Lepuk dan memiliki batu nisan yang berasal dari batu laut ini  merupakan salah satu situs sejarah. Sebagaimana Makam Bukit Batu, Makam Hang Nadim yang kita kenal sebagai nama bandara di Kota Batam, kemudian Makam Pajang di Pulau Pengujan. Maka tak salah jika Anda mengujungi salah satunya sebagai salah satu destinasi wisata religi  dan education.

Siapa Sultan Muhayatsyah?

Pada masa pemerintahan Sultan Muhayatsyah, kerajaan-kerajaan di Indonesia memang tidak luput dari intervensi kolonial Belanda yang ingin menguasai peta politik dan pemerintahan di Indonesia. Termasuk di tanah Jawa, Kalimantan, Aceh, hingga Sumatera dan Bali. Salah satu yang terkena dampak intervensi adalah Kerajaan Johor yang dipimpin oleh Sultan Muhayatsyah.

Sultan Muhayatsyah tampaknya tidak terlalu ingin terlibat peperangan yang ekstrim toh nantinya akan menimbulkan kerugian bagi masyarakat Johor dan menyengsarakan rakyat di Riau. Ia akhirnya mencoba berunding dengan pihak kolonial Belanda dan mengadakan perjanjian untuk berdamai.

Namun, itikad baik untuk mencoba merangkul musuh ini mendapat kritikan tajam dari daerah-daerah Kerajaan di sekitar Sumatera seperti Kerajaan Aceh dan Kerajaan Samudera Pasai. Tidak ingin Kerajaan Johor dengan gampang ditaklukkan musuh terutama Belanda, Kerajaan Aceh ingin mengambil alih kekuasaan Sultan Muhayatsyah di Kerajaan Johor. Tak ayal, demi menjaga keselamatan sang Sultan dan keturunannya, para pengikut dan punggawa kerajaan yang setia membawa Sultan Muhayatsyah dan putra mahkota keluar kerajaan.

Bahkan, menurut cerita masyarakat, Sang Sultan Muhayatsyah dan putra beliau yang akan naik tahta bernama Sultan Bujang pada kala itu masih berumur balita (2,5 tahun) menyelamatkan diri ke Pulau Kalimantan melalui Laut Cina Selatan agar menghindari pengejaran Kerajaan Aceh.

Sayangnya, di tengah perjalanan yang saat itu menggunakan perahu seadanya, membuat kondisi fisik Sultan Muhayatsyah melemah hingga jatuh sakit selama berbulan-bulan. Akhirnya, diputuskan untuk membawa Sultan Muhayatsyah ke daratan apabila mereka menjumpai pulau. Mujurnya, rombongan Sultan Muhayatsyah melihat adanya daratan yang kini disebut dengan Pulau Tambelan. Pulau Tambelan sendiri pada waktu itu sudah memiliki penghuni tetap dengan jumlah yang masih sedikit. Sultan Muhayatsyah mendapat perawatan sekadarnya dan memerintah di Pulau Tambelan selama beberapa bulan hingga beliau mangkat.

Kerajaan Johor yang ditinggalkan sementara waktu memiliki kekosongan kepemimpinan dan saat Sultan Muhayatsyah mangkat, kemudian ia digantikan oleh sang putra mahkota, Sultan Bujang ketika kondisi kerajaan sudah aman.

 

Situs Kota Kora Bintan

 

Jika berbicara tentang sejarah-sejarah kerajaan di Binta, yang begitu popular menngenai pusat-pusat kerajaan Melayu yaitu Kerajaan Melayu Riau-Lingga dan Penyengat di Lingga dan Penyengat. Namun selain itu masih terdapat situs sejarah lain yang mengiringi perkembangan Melayu salah satunya Kota Kara.

Konon, pada zaman dahulu, Kota Kara merupakan tempat bangsawan kerajaan Melayu. Di mana sebelum adanya kerajaan melayu Singapura, Malaka, Johor, Riau dan Siak. Di Kepulauan Riau telah terdapat sebuah kerajaan Bintan. Pada tahun 1100 M raja yang bernama Iskandar Syah yang memiliki istri bernama Wan Sri Beni memiliki seorang anak bernama Puteri Bintan. Namun sayangnya Sang Raja  Iskandar Syah harus pergi terlebih dahulu, hingga tampuk kekuasaan dipegang oleh ratu pertama Melayu yakni Wan Sri Beni (1150-1158). Pada abad XIV pada saat Majapahit menggempur, maka terpecahlah kerajaan menjadi 3 kerajaan besar yang mengembangkan Semenanjunng Melayu.

Kota Kara

Saat mendengar nama ‘Kota Kara’ yang terlintas di benak adalah sebuah kota yang sama saja seperti kota-kota yang lain. Namun ternyata lebih dari itu, Kota Kara menyimpan sejarah yang erat kaitan dengan  Bintan. Kota Kara merupakan rantai sejarah Melayu Kepulauan Riau. Anda pasti bertanya-tanya di mana letak Kota Kara.

Menurut yang beberapa refrensi mengatakan bahwa Kota Kara merupakan tempat raja yang terletak di sebelah Utara Gunung Bintan. Kota Kara berasal dari kata ‘Kota’ yang berarti merupakan ‘benteng’ dan ‘Kora’ merupakan sebuah sistem pertahanan. Nah, Kota Kora berlokasi di Bujok yang merupakan bagian wilayah administratif  Desa Bintan Buyu.

Sumber lain menurut sastrawan Aswandi Syahri. Kota Kara adalah sebuah Benteng pertahanan yang di bangun oleh Sultan Mahmud pada tahun 1512-1513.  Sultan ini menyingkir ke arah Selatan setelah jatuhnya Malaka ke Portugis tahun 1511. Basis pertahanan yang dibangun persis dibawah kaki gunung Bintan. Sedangkan menurut para penulis Portugis memperkirakan keberadaan Kota Kara berada di Sungai Bintan. Hal ini dikarenakan hasil penelitian arkeologi Pulau Bintan tahun 1981 yang menemukan adanyan tumpukan batukara di muara Sungai Bintan. Terdapat juga benteng di sisi kiri Sungai Bintan. Sedangkan bentuk fisik Kota Kara tidak bisa di rekonstruksi dengan tepat (TanjungPinang Pos Januari 2010).

Saat ini hanya ada situs Kota Kara berupa lima makam Putri Bintan. Makam Raja Perempuan Melayu, dan satu makam seorang laki-laku di Bukit Batu. Hal ini dikemukan seorang ahli Botani Belanda dari kebun Raya Bogor yang bernama Johanes Elias Teijsmann.

Nah, bagaimana? Anda penasaran bagaimana perjalanan sejarah dan situs Kota Kara? Segera siapkan perjalanan yang mengedukasi sambil mengisi liburan di  Pulau Bintan bersama agen travel wisata kami. Selamat berlibur! (jari adventure-det)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *