Upacara Adat Nyadar (Nadar), Wujud Syukur Masyarakat Sumenep Usai Panen Garam

Bersyukur atas segala karunia sang Pencipta wajib dilakukan oleh setiap umat beragama. Banyak cara yang ditempuh sebagai  ucapan syukur ini, salah satunya seperti yang dilakukan oleh masyarakat petani garam di Desa Pinggir Papas, Kabupaten  Sumenep, Madura.

Mereka menggelar upacara adat Nyadar (Nadar) sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan rejeki berupa panen garam.

Seperti apakah upacara adat Nyadar (Nadar) yang rutin digelar oleh para petani garam di Sumenep ini? Baca terus uraian tentang upacara adat Nyadar (Nadar) berikut ini ya…

Asal muasal upacara adat Nyadar (Nadar) digelar masyarakat Sumenep bermula dari cerita seorang ulama besar asal Cirebon yang bernama Syekh Angga Suto yang tiba di sana untuk menyebarkan agama Islam.

Saat menginjakkan kakinya di Madura tepatnya di pantai di Desa Pinggir, Papas, beliau menemukan gumpalan garam dalam sebuah telapak kaki yang sangat besar di tepi pantai yang sedang surut.

Syekh Angga Suto kemudian mengajarkan cara membuat garam kepada masyarakat di sana sebagai daya tarik bagi mereka yang mau menganut ajaran Islam.

Kebiasaan membuat garam ini terus dikembangkan hingga Sumenep muncul sebagai daerah penghasil garam. Oleh masyarakat Sumenep, Syekh Angga Suto kemudian dikenal secara luas sebagai Embah Anggasuto.

Untuk mengenang jasa Embah Anggasuto inilah, masyarakat Sumenep kemudian rutin menyelenggarakan upacara adat Nyadar (Nadar) sekaligus sebagai ungkapan syukur kepada sang Khalik atas panen garam yang melimpah.

Upacara adat Nyadar (Nadar) dilaksanakan sebanyak tiga kali dalam setahun. Upacara yang pertama dilaksanakan di bulan Juni saat melepas air laut yang sudah tua yaitu air yang kadar garamnya tinggi sebagai bahan utama untuk membuat garam.

Di bulan ini, para petani sudah mulai memanen garam. Upacara Nadar yang kedua digelar pada bulan Agustus setelah petani memanen garamnya dua hingga tiga kali di bulan sebelumnya. Panen garam biasanya masih berlangsung di bulan Agustus ini.

Ketika penan mulai berakhir, upacara ketiga pun dilaksanakan yaitu sekitar bulan September. Di bulan ini, para petani di Pinggir Papas mulai melepas musim kemarau dan menyambut datangnya musim penghujan dan bersiap-siap mengganti lahan garam menjadi lahan tambak.

Selain waktu, tempat pelaksaan upacara adat Nyadar (Nadar) ini juga sudah ditentukan. Upacara adat Nyadar (Nadar) yang pertama dan kedua dilakukan di sekitar asta atau kompleks makam para leluhur yaitu Embah Anggasuto, Syeh Kabasa, Syeh Dukun, dan Syeh Bangsa yang ada di Desa Kebundadap Barat.

Sedangkan upacara yang ketiga berpusat di rumah bekas kediaman Embah Anggasuto. Di rumah inilah semua barang pusaka desa yang berupa keris, tombak dan lain-lain disimpan dan hanya digunakan saat upacara adat Nyadar (Nadar) digelar.

Sebelum digunakan, benda-benda pusaka ini biasanya dibersihkan dan dibuatkan sesajen. Persiapan untuk pelaksanaan upacara adat Nyadar (Nadar) tak berhenti dengan pembersihan benda pusaka. Para sesepuh desa juga melakukan puasa beberapa hari agar upacara berjalan dengan lancar.   

Bahan-bahan yang disiapkan untuk prosesi upacara adat Nyadar (Nadar) ini ternyata cukup unik lho. Untuk upacara pertama dan kedua, bahan yang dibutuhkan adalah bunga, bedak, kemenyan, nasi beserta lauknya yang berupa ayam, telur dan bandeng.

 

Baca Juga : Reog Ponorogo, Kebudayaan Asli Indonesia Yang Masih Lestari

 

Upacara ketiga memerlukan bahan dan alat-alat yang lebih kompleks, sebut saja panjang yang berupa piring keramik asing sebagai wadah makanan yang harus diletakkan di atas ranjang.

Piring ini diwariskan secara turun temurun dan dianggap sakral hingga siapapun yang berani mengeluarkan piring ini di luar acara adat dipercaya akan mendapat celaka.

Untuk keperluan upacara, piring keramik ini diisi dengan nasi, telur dan bandeng. Benda lain yang digunakan dalam upacara adat Nyadar (Nadar) adalah bokor, pakinangan, dan kendi sebagai tempat air suci.

Tak kalah penting dengan sesajen, berbagai naskah kuno juga disiapkan dalam upacara adat Nyadar (Nadar) ini. Pembacaan naskah kuno ini dilakukan pada upacara ketiga dan dilakukan di kediaman para leluhur.

Biasanya, isi yang berupa ajaran-ajaran Islam saja yang dibacakan saat berlangsungnya upacara ini agar mereka bisa menggunakannya sebagai panutan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembaca doa yang memimpin pelaksaan upacara adat Nyadar (Nadar) ketiga diwajibkan memakai pakaian khusus yang hanya dikenakan setahun sekali. Pakaian ini dikenal dengan sebutan racuk sewu.

Racuk sewu memiliki lengan pendek dengan variasi tembelan beberapa warna merah, coklat dan bintik-bintik merah, hitam, dan krem. Terdapat blangkon atau tutup kepala dan sarung sebagai pelengkapnya. 

Seperti itulah tradisi ucap syukur masyarakat Sumenep akan keberhasilan panen garam dilaksanakan . Cukup menarik untuk diikuti bukan?

Semoga uraian tentang upacara adat Nyadar (Nadar) di atas bisa menjadi tambahan pengetahuan tentang berbagai macam tradisi dan kebudayaan yang ada di Indonesia.

 

 

 

 

 

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.