Upacara Adat Kasada, Ritual Sesembahan Suku Tengger

Upacara Adat KasadaBerpetualang ke kawasan wisata Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur akan terasa makin seru bila kita bisa mengenal suku yang mendiami wilayah tersebut beserta adat istiadat dan budaya yang dijalani. Ya, suku Tengger namanya. Penduduk suku ini menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang. Mereka adalah pemeluk agama Hindu lama.

Namun, tak seperti penganut agama Hindu pada umumnya, suku ini tak memiliki candi-candi sebagai tempat peribadatan. Sebagai gantinya, mereka melakukan ibadah di punden, danyang dan juga poten. Mereka menganggap Gunung Bromo dan Gunung Brahma sebagai gunung suci hingga mereka rutin mengadakan upacara adat yang bertempat di sebuah lahan di lautan pasir di kaki Gunung Bromo. Upacara adat ini dikenal dengan sebutan Upacara Adat Kasada. Untuk mengetahui lebih jauh tentang budaya suku Tengger yang satu ini, simak ulasan berikut ini.

Tujuan Upacara Adat Kasada

Menurut warga suku Tengger, melaksanakan upacara adat adalah salah satu bentuk rasa syukur mereka kepada sang Pencipta. Jenis upacara adat yang berkembang di masayarakat Tengger pun bermacam-macam serta memiliki tujuan yang beragam, seperti meminta berkah, menolak bala, dan wujud syukur atas karunia yang telah diberikan Tuhan kepada mereka. Salah satu upacara adat suku Tengger yang paling populer adalah Upacara Adat Kasada.

Legenda Raden Kusuma

Upacara Adat Kasada adalah upacara untuk memperingati pengorbanan Raden Kusuma, anak dari Jaka Seger dan Lara Anteng. Selain itu, upacara ini dilaksanakan untuk meminta berkah dan keselamatan kepada Yang Maha Kuasa. Penduduk Tengger rutin menyelenggarakan upacara ini setiap tahunnya pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Pada saat berlangsungnya Upacara Adat Kasada, warga suku Tengger berkumpul dengan membawa hasil bumi, ternak peliharaan termasuk ayam sebagai sesaji yang disimpan dalam tempat yang bernama ongkek. Sesaji-sesaji ini kemudian dilemparkan seluruhnya ke kawah Gunung Bromo.

Prosesi Upacara Adat Kasada

Upacara Adat Kasada ini juga berfungsi sebagai ujian bagi pulun mulenen atau dukun baru untuk disahkan sebagai dukun. Jika dalam memimpin prosesi  Upacara Adat Kasada dukun baru ini melakukan kesalahan maka mereka dipastikan gagal menjadi dukun.

Upacara Adat Kasada merupakan upacara penghormatan kepada Raden Kusuma yang rela berkorban untuk keselamatan masyarakat Tengger. Menurut legenda, di Gunung Bromo terdapat makhluk halus yang disebut dengan  Sang Yang Widi yang diceritakan berasal dari kerajaan Majapahit sebelum keturunan kerajaan Hindu-Budha di Jawa. Antara masyarakat Tengegr dan roh Dewa Kusuma memiliki perjanjian untuk memberikan sesaji setiap tangaal 14 di bulan Kasada. Untuk itulah maka Upacara Adat Kasada digelar.

Tahap – tahap Upacara Adat Kasada

Terdapat beberapa tahapan dalam Upacara Adat Kasada agar upacara bisa berlangsung dengan khikmat, yakni Puja Purwaka, Manggala upacara, Ngulat umat, Tri sandiya, Muspa, pembagian bija, Diksa widhi, dan penyerahan sesaji di kawah Bromo. Ritual Upacara Adat Kasada berawal dari Sadya kala puja dan berakhir sampai Surya puja dimana warha suku Tengger menuju Gunung Bromo untuk menyerahkan korban.

Baca juga: Travel Wisata Bromo – 6 Tips Perjalanan ke Bromo

Upacara Adat Kasada dibuka dengan prosesi pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Rara Anteng Jaka Seger di panggung terbuka di Desa Ngadisari. Pelantikan dukun dan pemberkatan masyarakat di lautan pasir Gunung Bromo tepat dilaksanakan pada pukul 00.00 dini hari. Warga suku Tengger menganggap dukun sebagai pemimpin dalam bidang keagamaan yang memimpin upacara-upacara ritual perkawinan dll. Selama proses Upacara Adat Kasada inilah, para calon dukun diuji dengan menghafal dan membacakan mantra-mantra.

Upacara Adat Kasada dilaksanakan oleh warga suku Tengger sejak masa kerajaan Majapahit.  Mereka memilih Gunung Bromo sebaga tempat pelaksanaan upacara karena memang gunung ini dianggap sebagai tempat suci. Nama Gunung Bromo diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti brahma atau seorang dewa yang utama.

Sejarah Upacara Adat Kasada

Sejarah terjadinya Upacara Adat Kasada berawal pada masa Dinasti Brawijaya dimana permaisurinya dikaruniai anak perempuan bernama Roro Anteng. Setelah dewasa, putri ini kemudian menikah dengan pemuda dari Kasta Brahmana bernama Joko Seger. Saat kerajaan Majapahit mengalami kemerosotan akbita pengaruh Islam yang begitu kuat di Jawa, pasangan ini pun memilih menyepi di Tengger.  

Mereka begitu mendambakan keturunan yang tak kunjung datang hingga akhirnya mereka pun memutuskan untuk bersemedi di puncak Gunung Bromo.  Dalam semedi itu, mereka mendapatkan petunjuk akan mendapatkan keturunan bila mereka bersedia mengorbankan anak bungsu mereka setelah lahir dengan melemparkannya di kawah Bromo.  

Pasangan inipun akhirnya memiliki 25 anak. Namun, sebagai orang tua mereka tak tega untuk  menyerahkan anak bungsu mereka dan akhirnya pasangan ini pun mengingkari janji yang telah mereka buat. Dewa pun murka dan seketika jilatan api melenyapkan Kesuma, anak bungsu mereka dari pandangan dan masuk ke kawah Bromo.  

Setelah hilangnya kesuma terdengar suara lirih yang berpesan untuk mengadakan sesaji kepada Sang Hyang Widhi di kawah Gunung Bromo setiap bulan Kasada pada hari ke-14. Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan kemudian dikenal dengan Upacara Adat Kasada.   (Jari adventure-det)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.