Tradisi Seni Bela Diri Mansaa di Wakatobi

Wakatobi sangat populer di kalangan wisatawan akan keindahan lautnya. Namun, siapa sangka bila salah satu kabupaten yang berada di Sulawesi Tenggara ini juga menyimpan kekayaan tradisi dan budaya. Salah satu tradisi yang masih berkembang dan dilakoni oleh masyarakat Wakatobi adalah seni bela diri tradisi bela diri Mansaa atau dikenal juga dengan istilah Silat Kampong. Tradisi ini masih melekat kuat pada kehidupan masyarakat terutama di daerah Wangi-wangi, Tomia, Kaledupa dan Binongko.

Di Tomia, misalnya, masyarakat di sana biasanya menggelar tradisi bela diri Mansaa ini setelah Sholat Idul Adha. Sedangkan di Kaledupa, perhelatan mansaa biasanya diadakan saat menyambut hari raya Idul Fitri. Meski berbeda waktu, mulai proses hingga pelaksanaannya tak berbeda antara daerah yang satu dengan yang lainnya.

Tak hanya dilakukan saat memperingati hari besar umat Islam, tradisi bela diri Mansaa juga dipentaskan oleh masyarakat setelah acara-acara resmi. Sebut saja di Wangi-wangi, biasanya digelar usai pelaksanaan sholat Id, acara penikahan, sunatan masal atau bahkan dihelat saat pesta rakyat. Waktu menggelar tradisi bela diri Mansaa biasanya di kala sore. Gaya silat yang dimiliki bela diri Mansaa sangat unik. Terkadang juga menggunakan tenaga dalam.

Tak ada yang berubah dari gaya silat bela diri Mansaa ini mulai dari jaman nenek moyang hingga generasi kekinian. Gerakannya masih tetap terjaga keasliannya yakni seni bela diri yang mengandalkan gerakan kaki dan tangan. Tradisi bela diri Mansaa amat digemari oleh warga Wakatobi dan sangat populer di kalangan masyarakat setempat.     

Dikatakan hampir memiliki kesamaan dengan tradisi Posepaa, yang dilakukan oleh dua kubu yang terdiri dari puluhan orang, tradisi bela diri Mansaa sendiri dilakukan oleh sepasang anak muda atau orang dewasa yang dalam melakukan aksi silatnya dikelilingi oleh ratusan penonton. Tradisi bela diri Mansaa yang dimainkan oleh semua generasi mulai anak-anak hingga orang tua ini merupakan rangkaian budaya yang dipelihara sejak dulu dan terus ada hingga kini. Meski mengandalkan kekuatan fisik, tradisi ini diyakini dapat mempererat tali silaturahim antar warga.

 

Baca Juga : Daftar Tempat Wisata Populer di Taman Nasional Wakatobi

 

Sebagian orang yang belum mengenal Mansaa mungkin beranggapan bila seni bela diri ini tak sesuai untuk tontonan umum terutama anak-anak karena melibatkan kekuatan fisik, yakni tangan untuk memukul dan kaki untuk menendang. Namun, masyarakat Wakatobi memandang budaya Mansaa ini dengan kacamata yang berbeda. Mereka bahkan memperkenalkan budaya Mansaa kepada generasi muda sejak dini. Tak hanya menonton, anak-anak dan para remaja juga diajarkan tata cara permainan bela diri Mansaa. Masyarakat Wakatobi meyakini bahwa bela diri Mansaa ini bisa menjaga dan membentengi mereka apabila diserang musuh dan juga bisa mempererat hubungan silaturahmi antar sesama. Untuk meminimalisir resiko pengajaran bela diri terhadap anak sejak dini, masyarakat Wakatobi selalu mendampingi anak-anak mereka dengan nasihat dan wejangan yang baik agar tak menyalah-gunakan ilmu bela diri Mansaa yang dikuasai dengan melakukan kejahatan.     

Pengenalan tradisi bela diri Mansaa kepada generasi muda bertujuan agar mereka bisa menjaga kelestarian seni ini. Terlebih dengan masuknya teknologi yang pesat yang dikhawatirkan bisa memudarkan sejarah dan budaya asli Wakatobi. Dengan pengenalan Mansaa pada anak-anak, diharapakan mereka bisa menegenal dan memahami serta bisa melestarikan budaya yang dimiliki daerahnya.

Tradisi bela diri Mansaa biasanya dilaksanakan di tengah lapangan atau tempat terbuka. Selain memang membutuhkan tempat yang cukup lapang, pemilihan tempat terbuka sebagai pelaksanaan Mansaa juga bertujuan untuk memberi keleluasaan masyarakat yang begitu antusias ingin menyaksikan pertunjukan silat ini. Ratusan warga yang berkumpul menyaksikan acara ini biasanya membentuk lingkaran agar pemain bisa bebas memperagakan jurus-jurusnya. Kehadiran penonton yang memadati arena pertunjukan menjadi semangat tersendiri bagi para pemain Mansaa. Uniknya, para penonton yang terdiri dari mulai anak-anak hingga orang tua ini mendatangi arena permainan atas kemauan sendiri meski sebelumnya tidak ada pemberitahuan resmi tentang digelarnya pertandingan Mansaa. Selain sorak sorai penonton, para pemain juga disemangati oleh bunyi-bunyian gong dan gendang yang mengiringi permainan. Sportifitas juga sangat diperlukan dalam setiap pertandingan Mansaa. Siapapun yang kalah diharapkan tidak menyimpan dendam dan dapat menerima kekalahan dengan lapang dada. Di sinilah peran para tetua diperlukan sebagai pemberi wejangan kepada para pemain Mansaa terutama mereka yang masih muda dan belum memiliki kestabilan emosi.

Cukup menarik bukan tradisi bela diri Mansaa yang berkembang di kalangan masyarakat Wakatobi ini. Anda bisa menyaksikan secara langsung kala berwisata di Wakatobi.

 

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.