Topeng Ireng, Kesenian Tradisional Asal Magelang Yang Sarat Akan Makna

Magelang dikenal publik secara luas karena memiliki Candi Borobudur, sebuah mahakarya peninggalan Dinasti Syailendra yang menjadi kebangaan Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya. Kabupaten yang berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Semarang di utara, Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten di timur, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Purworejo di selatan, Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung di barat, serta Kota Magelang yang berada di tengah-tengahnya ini ternyata memiliki banyak hal yang bisa dibanggakan selain keberadaan kuil Budhha terbesar di dunia tersebut.

Sebut saja, kuliner Magelang yang bervariasi dan khas mulai masakan, jajan pasar hingga oleh-oleh. Tak hanya itu, Kabupaten Magelang juga mempunyai beberapa kesenian yang tak kalah menarik untuk di eksplorasi, seperti Kubro Siswo, Badui, Jathilan, Laras Madyo dan Topeng Ireng. Kali ini, kesenian yang akan diulas lebih dalam adalah Kesenian Topeng Ireng.

Seperti apa bentuk tradisi seni pertunjukan ini hingga bisa menjadi salah satu kesenian utama Kabupaten Magelang? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Masyarakat luar Magelang mungkin saja tak begitu mengenal Desa Bandungrejo yang berada di  Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang ini. Tapi, desa yang berada di lereng gunung Merbabu ini menyimpan cerita tersendiri. Siapa sangka, desa yang cukup sulit diakses ini ternyata menyimpan warisan kesenian budaya Indonesia yang luar biasa.

Desa yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai penggarap lahan perkebunan dan pertanian ini menjadi salah satu desa yang mempunyai kekayaan seni terbesar di antara desa-desa yang berada di kecamatan Ngablak, Magelang.

Ya, salah satu kesenian yang terkenal yaitu Topeng Ireng memang berasal dari Desa Bandungrejo ini dan telah menjadi kesenian andalan desa. Bagi Anda yang belum mengenalnya, Kesenian Topeng Ireng merupakan salah satu bentuk tradisi seni pertujukan budaya lokal Jawa Tengah yang juga dikenal sebagai kesenian Dayakan. Kesenian ini adalah bentuk tarian rakyat kreasi baru sebagai hasil metamorfosis dari kesenian Kubro Siswo.  

Menurut cerita yang berkembang di kalangan masyarakat, Kesenian Topeng Ireng mulai muncul di tengah-tengah masyarakat lereng Merapi dan Merbabu pada masa penjajahan Belanda. Karena ketakutan akan timbul pemberontakan rakyat, pada masa itu pemerintah Belanda melarang berkembangnya segala jenis bela diri  di kalangan masyarakat. Bukan lantas takut dan diam akan larangan tersebut, warga kemudian berinisiatif untuk terus melatih kemampuan bela diri, terutama pencak silat,  dengan cara tersamar yakni meleburkannya ke dalam tarian rakyat. Maka jadilah tarian Topeng Ireng. Tarian ini menggunakan musik gamelan sebagai pengiringnya dan lantunan tembang jawa yang berisi berbagai nasihat tentang kebaikan hidup dan penyebaran agama Islam.

 

Baca Juga : 9 Daftar Wisata Budaya di Bali Bagian Timur

 

Nama Kesenian Topeng Ireng diambil dari kata Toto Lempeng Kenceng. Toto mempunyai arti menata, lempeng berarti lurus, irama artinya nada, serta kenceng yang berarti keras. Jauh sebelum kesenian ini dikenal dengan sebutan Kesenian Topeng Ireng, masyarakat mengenal seni pertunjukan ini dengan sebutan kesenian Dayakan. Alasan kuat dibalik penyebutan ini adalah dari pakaian atau kostum yang dikenakan penari dimana bagian bawah busana yang mereka kenakan menyerupai pakaian adat suku Dayak yang berasal dari Pulau Kalimantan. Kostum yang berumbai-umbai dan penuh dengan warna-warna ceria inilah yang kemudian menjadi salah satu daya tarik utama dari Kesenian Topeng Ireng.    

Beranjak ke kostum bagian atas, para penari Topeng Ireng biasa mengenakan hiasan kepala yang berupa bulu warna-warni yang mirip dengan mahkota kepala suku Indian. Kemiripan dengan suku Indian semakin terlihat jelas dengan riasan wajah para penari Topeng Ireng yang penuh dengan coreng moreng.

Para penari mengenakan alas kaki berupa sepatu gladiator atau sepatu boot dengan dilengkapi gelang kelintingan yang berjumlah sekitar 200 buah setiap pemainnya. Sehingga, setiap kali kumpulan penari Topeng Ireng ini menghentakkan kaki akan terdengar suara riuh gemerincing di sepanjang tarian berlangsung.

Dibandingkan dengan kesenian rakyat lain, Kesenian Topeng Ireng ini termasuk jenis tarian yang memiliki gerakan variatif alias tidak monoton. Inovasi baru selalu dilakukan dalam setiap pertunjukan Kesenian Topeng Ireng dari waktu ke waktu. Tak hanya untuk menghindari kebosanan penonton, pengembangan unsur-unsur artistik dan koreografi  yang selalu dilakukan juga bertujuan untuk menarik minat kaum muda agar mau bergabung menjadi anggota kelompok Kesenian Topeng Ireng.

Dalam setiap pertunjukan, Kesenian Topeng Ireng dibagi dalam dua kelompok tarian, yakni tarian Rodat yang berarti dua kalimat syahadat dan tarian Monolan yang melibatkan penari dengan kostum hewan. Tarian Rodat ditampilan dengan gerakan pencak silat sederhana dengan diiringi lagu-lagu syiar Islami, sedangkan tarian Monolan melibatkan unsur mistik serta gerak pencak silat tingkat tinggi. Dalam hal durasi, pertunjukan Kesenian Topeng Ireng biasanya tak terikat waktu. Penampilan penari bisa berlangsung mulai 5 menit hingga 15 menit sesuai permintaan.

Cukup unik bukan kesenian Topeng Ireng yang berasal dari salah satu desa di Kabupaten Magelang ini. Jika Anda ingin melihatnya secara langsung, sempatkanlah mampir ke Desa Bandungrejo saat Anda kebetulan jalan-jalan ke Borobudur. Mengenal kesenian asli Indonesia tak aka nada ruginya.  (Jari adventure-det)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.