Tetap Lestari, Ini Dia 4 Kesenian Tradisional Sulawesi Selatan

Sulawesi Selatan memiliki beragam kesenian dengan nilai penuh estetika tinggi. Meski zaman telah berubah, tradisi setempat tentu saja harus tetap dilestarikan.

Mulai dari tari tradisional, alat musik, upacara budaya, hingga bahasa daerah. Mengenal kesenian tradisionalnya, merupakan salah satu cara lebih dekat dengan provinsi di Pulau Sulawesi ini.

 

  1. Bahasa Daerah

Mayoritas masyarakat Sulawesi Selatan memakai Bahasa Bugis dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa dikatakan sebagai salah satu produk kesenian tradisional karena memiliki pemakaian dialek yang amat beragam.

Selain bahasa Bugis, masyarakat juga kerap menggunakan bahasa Mangasara, di mana aplikasinya dapat ditemukan pada suku Makassar dengan aneka dialek seperti Mars, Turatea, Gowa, dan Pangkep.

Seolah masih belum cukup beragam, masih ada lagi bahasa Toraya yang bisa ditemukan pada suku Toraja. Bahasa Toraya terbagi lagi ke dalam beberapa dialek yakni Tae, Torajasa, dan Toala.

 

  1. Tari Tradisional

Tarian di Sulawesi Selatan terbilang cukup banyak di mana lahirnya berakar dari keanekaragaman suku setempat.

Ada yang disebut Tari Kipas Pakarena khas milik daerah Goa, biasanya dilakukan untuk tujuan menghibur atau dalam rangka memeriahkan upacara adat.

Sebanyak lima sampai tujuh orang berbusana adat akan menari diiringi alat music Gondrong Rinci, perpaduan apik antara seruling dan gendrang.

Ada pula yang dinamakan Tari Pa’Gellu berasal dari daerah Toraja. Biasanya hanya dimainkan dalam upacara adat khusus masyarakat Toraja, yakni Ma’Bua.

Namun seiring perkembangan zaman, sudah bisa disaksikan pada pesta syukuran panen, penerimaan tamu terhormat, serta pesta perkawinan.

Tak hanya itu, masih ada lagi Tari Gandrang Bulo, di mana persembahannya mengandung unsur humor dengan lelucon yang mengkritik isu sosial, politik, dan budaya.

Meski begitu, unsur lawakannya lebih ditonjolkan sehingga tetap akan menghibur para penonton hingga berhasil membuat terpingkal sepanjang pementasan.

Masih ada lagi tarian tradisional lain di Provinsi Sulawesi Selatan, tetapi tiga itu sudah cukup untuk menjadi perwakilan. Tidak hanya sekadar hiburan, ternyata terdapat makna mendalam di setiap pementasannya.

 

  1. Alat Musik Tradisional

Meski zaman telah mengalami perkembangan sedemikian pesat, tetapi masyarakat Sulawesi Selatan masih mempertahankan musik-musik tradisionalnya. Beberapa alat musik yang bisa dikenali adalah alosu, pui-pui, dan gendang bulo.

Alosu adalah alat musik khas suku Bugis di mana hanya mengeluarkan satu nada ketika dimainkan. Memanfaatkan material berupa anyaman bambu berisi kerikil atau biji-bijian.

Cara menggunakannya yaitu diayunkan ke kiri dan ke kanan. Penampilan alat musik ini dapat dilihat pada pagelaran Tari Ulusu pelantikan raja, upacara adat, dan lain sebagainya.

Sementara pui-pui memiliki bentuk seperti terompet, miri[ Serunai di Sumatera dan Sronen di Jawa Timur. Butuh keahlian khusus saat memainkan alat musik berbahan daun lontar dan lempengan khusus logam ini.

Jika digunakan sembarangan, maka bunyi yang dihasilkan bisa terdengar sangat aneh.

Adapun gendang bulo, cara memainkanna adalah dengan memposisikan sisi gendang lebih besar di sebelah kanan, lalu ditabuh menggunakan kayu.

Sedangkan, sisi yang lebih kecil ditabuh oleh tangan langsung. Alat musik ini memiliki ukuran relatif kecil dibandingkan gendang khas Jawa, tetapi jauh lebih panjang.

 

baca juga:

Partner Liburan Terbaik Menurut Zodiak, Anda Tim Zodiak Apa?

 

  1. Upacara Tradisional

Upacara adat diselenggarakan untuk mengedukasi masyarakat modern tentang kondisi di masa lampau suatu suku.

Melalui rangkaian acara sakral ini, diharapkan budaya dan tradisi local tetap terjaga. Salah satu upacara tradisional yang bisa ditemukan di Sulawesi Selatan yaitu Rambu Solo.

Rambu Solo adalah upacara kematian yang lahir dari budaya suku Toraja. Di mana pemnyelenggaraannya diharapkan mampu mengantarkan arwah mayit menuju alam keabadian dengan damai dan bergabung bersama para leluhur.

Dalam keyakinan masyarakat Toraja, kematian baru benar-benar diakui apabila upacara ini sudah dilakukan.

Jika belum, maka si mayit diperlakukan seperti halnya orang yang masih hidup, tetapi menderita penyakit.

Tak hanya itu, upacara ini bahkan menjadi bukti tidak langsung mengenai status sosial dan kekayaan mayit yang bersangkutan. Semakin tinggi status, maka seharusnya semakin mahal pula biaya upacara pemakamannya.

 

Sulawesi Selatan masih memiliki banyak keunikan seni lain. Namun, empat aspek di atas barangkali bisa menjadi representasi kecil mengenai betapa menariknya provinsi ini untuk dijelajahi.

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.