Tabuik, Festival Unik Padang Pariaman Sumbar

Tabuik – Pariaman sebuah kota yang terletak di provinsi Sumatera Barat ini tak hanya menawarkan banyak destinasi wisata menarik. Seperti Pantai Gandoriah, Pulau Angso Suo, Pulau Tangah, Pulau Kasiak, Pantai Cermin, Pantai Kata, Pulau Belibis atau Muaro Nareh dan lainnya. Namun, kota yang berjarak sekitar 56 km dari kota Padang atau 25 km dari Bandara Internasional Minangkabau ini juga mempunyai budaya yang unik. Salah satu pesta budaya atau perayaan yang digelar oleh masyarakat Kota Pariaman adalah Festival Tabuik. Bersama dengan 9 budaya unik dari daerah lainnya, festival ini masuk nominasi API 2016 dalam kategori atraksi budaya terpopuler. Cari tahu tentang Festival ini lebih jauh dalam artikel berikut ini yuk!   

Cucu Nabi Muhammad SAW

Tabuik adalah salah satu tradisi yang rutin dilaksanakan oleh masyarakat Pariaman, Sumatera Barat setiap tahun. Festival ini diperkirakan sudah ada sejak abad 19 Masehi dan telah berlangsung selama puluhan tahun. Perayaan ini merupakan bagian dari peringatan hari wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW yang bernama Hussein bin Ali yang jatuh pada tanggal 10 Muharram dalam penanggalan Hijriah. Menurut sejarah, Hussein beserta keluarganya meninggal dalam perang di padang Karbala.    

Kata Tabuik sendiri berasal dari bahasa Arab ‘tabut’ yang memiliki arti peti kayu. Nama tersebut tak lepas dari legenda tentang kemunculan makhluk berwujud kuda bersayap dan berkepala manusia yang dikenal dengan buraq. Dalam legenda ini diceritakan bahwa setelah Hussain meninggal, kotak kayu yang berisi potongan jenazah sang cucu Nabi tersebut diterbangkan ke langit oleh Buraq. Berdasarkan pada legenda ini, masyarakat Pariaman kemudian rutin menggelar peringatan setiap tahun dengan membuat tiruan Buraq yang sedang mengusung tabut di punggungnya.

Baca Juga:

Mengenal Lebih Dekat Tentang Festival Tabuik di Pariaman, Sumatera Barat

Sejarah Tabuik

Berdasarkan cerita yang berkembang di kalangan masyarakat secara turun temurun, ritual Tabuik diperkirakan mulai ada di Pariaman sekitar tahun 1826-1828 Masehi. Pada masa itu, Tabuik masih kental dengan pengaruh dari timur tengah yang dibawa oleh masyarakat keturunan India penganut Syiah. Kemudian pada tahun 1910, terdapat kesepakatan antar nagari untuk melaksanakan ritual Tabuik sesuai dengan adat istiadat Minangkabau, seperti yang berkembang di Pariaman saat ini.

Terdapat dua macam Tabuik yang berkembang di masyarakat Pariaman, yakni Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Tabuik Pasa (pasar) berasal dari wilayah yang berada di sisi selatan dari sungai yang membelah kota Pariaman hingga ke tepian Pantai Gandoriah. Wilayah Pasa inilah yang dipercaya sebagai tempat tradisi Tabuik berasal. Sedangkan Tabuik Subarang berasal dari daerah Subarang atau seberang, yakni wilayah yang berada di sisi utara sungai atau daerah yang disebut sebagai Kampung Jawa.

Jenis

Pada mulanya hanya terdapat satu macam Tabuik saja, yaitu Tabuik Pasa. Atas permohonan segolongan masyarakat, maka pada tahun 1915-an dibuatlah sebuah Tabuik lainnya. Berdasar kesepakatan para tetua nagari, Tabuik baru harus dibuat di daerah seberang Sungai Pariaman. Oleh sebab itulah Tabuik baru ini disebut dengan Tabuik Subarang. Meski begitu, pembuatan Tabuik Subarang tetap mengikuti tata cara yang sebelumnya berlaku di wilayah Pasa.

Perayaan atau festival Tabuik dijadikan kalender pariwisata Kabupaten Padang Pariaman sejak tahun 1982. Itulah sebabnya dilakukan penyesuaian waktu pelaksanaan acara puncak dari rangkaian ritual acara ini. Jadi, meskipun awal dimulainya tetap pada 1 Muharram saat perayaan tahun baru Islam, perayaan acara puncaknya selalu berubah-ubah setiap tahunnya tidak lagi harus 10 Muharram tetapi bisa 10 hingga 15 Muharram, biasanya disesuaikan dengan akhir pekan.

Tata cara

Dalam rangkaian tradisi ini, terdapat tujuh tahapan ritual yang harus dilaksanakan, yaitu mengambil tanah, menebang batang pisang, mataam, mengarak jari-jari, mengarak sorban, naik pangkek, hoyak , dan membuang ke laut.  

Prosesi pengambilan tanah dilakukan pada 1 Muharram. Menebang batang pisang dilakukan pada hari ke-5 Muharram. Mataam pada hari ke-7, sedangkan mangarak jari-jari pada malam harinya. Keesokan harinya, ritual mangarak saroban pun dilaksanakan. Pada hari puncak, ritual  naik pangkek dilakukan kemudian dilanjutkand engan hoyak. Sebagai ritual penutup, diarak menuju pantai dan dilarung ke laut saat menjelang maghrib.

Lokasi pagelaran

Pelaksanaan tradisi  selalu menarik minat masyarakat, baik dari Pariaman sendiri maupun dari seluruh pelosok Sumatera Barat. Tak hanya itu, para turis mancanegara pun terlihat begitu antusias melihat pelaksanaan tradisi yang unik ini. Sebagai titik pusat pelaksanaan, Pantai Gandoriah selalu dipenuhi lautan manusia saat ritual dilaksanakan.

Tertarik untuk menyaksikan festival ini secara langsung? Catat tanggal pelaksanaannya ya agar tidak tetinggal!

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.