Tradisi Idul Adha di Jawa yang Bisa Dijadikan Tujuan Wisata

Tradisi Idul Adha – Selain Hari Raya Idul Fitri, umat muslim juga mempunyai satu hari raya lagi, yaitu Hari Raya Idul Adha, yang diperingati setiap 10 Dzulhijjah. Dua even besar yang berlangsung selama bulan Dzulhijjah adalah kurban dan haji hingga Hari Raya Idul Adha sering pula disebut sebagai Hari Raya Haji dan Hari Raya Kurban. Di Indonesia sendiri perayaan Kurban di berbagai daerah memiliki tradisi dan keunikannya masing-masing hingga dapat dijadikan sebagai tujuan wisata. Bagi yang ingin memanfaatkan hari libur Idul Adha untuk traveling tetapi masih bingung menentukan tujuan wisata yang tepat, Anda dapat mengunjungi tempat-tempat berikut ini untuk menyaksikan tradisi khas dalam menyambut Idul Adha.

Tradisi Manten Sapi di Pasuruan

Warga Desa Wates Tani, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur sudah menjalankan tradisi “Manten Sapi” atau Pengantin Sapi dalam menyambut Idul Adha secara turun menurun. Seperti sebuah mantenan atau pernikahan, sapi-sapi yang akan dikurbankan dihias sedemikian rupa layaknya pengantin. Sapi-sapi itu dipakaikan kalung yang terbuat dari kembang tujuh rupa dan tubuh mereka ditutup dengan kain putih. Setelah prosesi menghias selesai, sapi-sapi kemudian diarak ratusan warga menuju masjid untuk diserahkan kepada paniatia kurban.

Tradisi Grebeg Besar di Yogyakarta

Salah satu upacara kerajaan yang masih dilestarikan hingga kini oleh Keraton Kesultanan Yogyakarta adalah Grebeg. Terdapat banyak unsur kebudayaan dalam perayaan grebeg ini, sebut saja bahasa, adat istidat dan juga religi. Dalam menyambut perayaan Idul Adha, setiap tahunnya keraton Jogya menyelenggarakan upacara grebeg yang disebut dengan grebeg besar. Nama besar ini sendiri dikaitkan dengan jatuhnya perayaan Idul Adha yang dikenal masyarakat Jawa sebagai bulan ‘besar’, yaitu bulan ke-12 dalam urutan kalender Jawa.

Perayaan Grebeg Besar biasanya dilakukan selepas Sholat Idul Adha atau sekitar pukul 08.00 pagi waktu setempat. Acara diawali dengan keluarnya iringan pasukan keraton Yogyakarta yang terdiri dari prajurit Wirobrojo, Ketanggung, Bugis, Daeng, Patangpuluh, Nyutro. Pasukan ini mengenakan seragam dan atribut yang beragam serta membawa senjata seperti, keris, tombak dan senapan kuno. Regu pasukan ini kemudian diikuti oleh iring-iringan gunungan grebeg besar Idul Adha di belakanganya yang terdiri dari empat jenis grebeg, yakni grebeg lanang (laki-laki), grebeg wadon (perempuan), gunungan gepak dan gunungan pawuhan. Rute yang biasa dilalui iring-iringin grebeng besar adalah Kraton-Siti Hinggil-Pagelaran-Alaun-alun Utara-Masjid Gede.

Tradisi Apitan di Semarang

Setiap tahun warga Semarang yang tinggal di kelurahan Gedawang, Banyumanik rutin menggelar tradisi apitan dalam rangka menyambut datangnya Idul Adha. Tradisi apitan sendiri merupakan tradisi arak-arakan keliling desa dengan membawa hasil pertanian warga seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Dilaksanakan pada hari terakhir bulan ‘apit.’ Bulan ‘apit’ adalah bulan yang diapit oleh dua bulan sakral bagi umat muslim dalam hal ini adalah bulan Syawal (Idul Fitri) dan Dzulhijjah (Idul Adha). Diawali dengan barisan marching band anak-anak yang kemudian diikuti oleh parade denok kenang dari warga desa dan selanjutnya parade para ketua RW yang memakai baju adat Jawa.

Barisan berikutnya adalah anak-anak SD berseragam Pramuka yang diikuti oleh barisan terakhir yaitu parade mobil yang  berhiaskan tanaman dari hasil bumi warga yang diarak menuju kelurahan Gedawang. Karena ada 9 RW maka mobil yang berhias hasil bumi dalam arak-arakan itu juga berjumlah sembilan. Hasil Bumi yang dipergunakan dalam arakan-arakan ini kemudian dibagikan kepada warga yang mengikuti prosesi Tradisi Apit. Warga setempat percaya bahwa hasil bumi yang diperoleh dari perayaan ini akan mendatangkan rejeki bagi mereka.

Tradisi Jemur Kasur di Banyuwangi

Warga Using memang terkenal dengan kekayaan budayanya. Salah satu tradisi yang cukup unik dan menyita perhatian adalah tradisi menjemur kasur yang dilakukan untuk menyambut Idul Adha. Maksud diselenggarakannya tradisi menjemur kasur ini adalah untuk menolak bala dan menjaga keharmonisan rumah tangga. Tradisi jemur kasur yang dilaksanakan rutin setiap tahun oleh warga Desa Adat Using, Kemiren ini dibuka dengan tarian gandrung sebelum warga secara bersama-sama melakukan jemur kasur. Berbeda dengan kebanyakan, kasur warga Using Kemiren ini seluruhnya berwarna hitam dan merah atau biasa disebut kasur gembil. Bagi warga setempat, warna kasur gembil ini memiliki makna tersendiri, yakni merah yang artinya berani dan hitam yang berarti langgeng. Tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun ini dijalankan untuk menghormati datangnya bulan haji, selain juga untuk membersihkan kasur setelah 12 bulan terakhir dipakai.

Tradisi Toron di Madura

Hampir mirip seperti tradisi mudik ketika Hari Raya Idul Fitri tiba. Masyarakat asli Madura menyambut Hari Raya Idul Adha dengan tradisi mudik yang lebih dikenal dengan istilah ‘Toron’. Toron berasal dari kata turun, yang berarti para warga Madura turun kembali ke kampung halaman di Madura. Metelah beberapa tahun merantau ke daerah lain untuk merayakan hari raya Idul Adha bersama keluarga. Selain itu, tradisi Toron juga bisa dimanfaatkan untuk menjemput para sanak-famili. Usai melaksanakan ibadah haji di Mekkah dan turun di Bandara Juanda Surabaya.

***

Unik-unik, kan tradisi Idul Adha yang ada di Nusantara? Tradisi dan budaya boleh bermacam-macam. Namun tujuan dan hakikatnya tetap sama yaitu ingin merayakan Idul Adha bersama sanak kerabat dengan perasaan bahagia. Dan mengharapkan ridho Ilahi. Serta tak lupa senantiasa mengucapkan syukur atas keberkahan rezeki. Sehingga mereka bisa menyembelih hewan kurban pada tahun ini.

Nah, tradisi apa lagi yang Anda ketahui menjelang Idul Adha di daerah Anda? (jari adventure-det)

Jari Adventure

Informasi tour, travel, dan transportation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.